Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

3 ular masih hilang di halaman asrama mahasiswa Papua di Surabaya

Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya diteror dengan kiriman dua karung berisi ular pada Senin (9/9/2019). – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Biro Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua, Yohanes Giyai yang tinggal di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Surabaya menyatakan para penghuni asrama itu ketakutan pasca sekelompok orang tidak dikenal melemparkan dua karung berisi ular ke halaman asrama itu pada Senin (9/9/2019). Hingga Kamis (12/9/2019) para mahasiswa masih mencari tiga ekor ular yang diduga berbisa dan terlepas hilang di halaman asrama.

Giyai menuturkan pada Senin sekitar pukul 04.19 WIB, beberapa orang tidak dikenal melemparkan dua karung berisi ular ke halaman asrama. Kedua karung itu tidak terikat, dan sedikitnya tiga ekor ular yang diduga berbisa terlepas.

“Salah satunya ular piton berukuran 4,5 Meter. Kami masih mencari tiga ular lainya lari di halaman asrama. Hari ini kami masih mencari dan rencana membakr ban mobil bekas agar ular itu keluar dari tempat persembunyian,” katanya kepada Jubi melalui sambungan selulernya, Kamis.

Ular  piton berukuran 4,5 Meter itu sudah dikandangkan. Giyai menduga ketiga ular itu bersembunyi di celah-celah parit. “Tiga ular itu bergerak cepat masuk ke parit. Sehingga kami sulit untuk menangkap ular tersebut. Kalau sudah dapat, kami akan duduk bicara bersama penghuni asrama untuk [memutuskan] ular tersebut diapakan,” katanya.

Loading...
;

Terkait bantahan adanya teror kiriman karung berisi ular yang disampaikan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Luki Hermawan dan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Giyai menilai bantahan itu hanya untuk menutupi fakta terjadinya teror kepada para mahasiswa di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III Surabaya.

“Mereka bilang belum ada laporan ke pihak kepolisian, jadi mereka mengangap teror ular kepada mahasiswa Papua itu hoaks. Dalam kasus rasisme, saat mahasiswa Papua disebut monyet, juga tidak ada pengaduan, tapi [kata mereka ada yang] diusut,” kata Giyai membandingkan.

Giyai menyebut pelemparan dua karung berisi ular itu terjadi pada Senin subuh, dan ketika itu polisi masih mendirikan pos di dekat asrama. Giyai menyatakan sepatutnya para polisi di pos itu tahu ada pelemparan ular ke halaman Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III. “Jadi tidak benar kalau polisi dan Wiranto mengatakan tidak adanya teror [kiriman] ular kepada mahasiswa Papua di Surabaya,” katanya.

Giyai menyatakan tindakan teror maupun rasisme terhadap para mahasiswa penghuni Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III sudah marak terjadi selama dua tahun terakhir. “Yang kebetulan viral, tindakan rasisme pada 16 Agustus 2019 lalu. Jadi, perlakuan Negara [justru] terus memelihara dan melindungi pelaku rasisme terhadap orang Papua,” katanya.

Dalam seminar “Sepak Terjang Isu Rasis di Tanah Papua” yang diselenggarakan Kelompok Kajian Realitas Sosial, Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, di Jayapura, Kamis (11/9/2019). Direktur Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Papua, Emanuel Gobay menilai penegakan hukum di Indonesia terpengaruh bias rasisme yang memunculkan diskriminasi hukum.

Bias rasisme membuat aparat penegakan hukum cenderung lamban menindak para pelaku persekusi rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, namun cepat menindak orang asli Papua yang dituduh memprovokasi unjukrasa anti rasisme atau amuk massa di sejumlah wilayah di Papua.

Gobay menyatakan bias rasisme yang memunculkan tindakan diskriminasi terhadap orang Papua kerap terjadi di ruang publik. “Perlakuan itu lebih banyak terjadi di Pulau Jawa,” ungkap advokat yang pernah menjalankan profesinya di Pulau Jawa itu.

Gobay menyatakan dirinya memiliki sejumlah catatan kasus rasisme, yang antara terjadi di lingkungan kampus, bahkan terjadi dalam proses penegakan hukum. Gobay mengingatkan bias rasisme dalam proses penegakan hukum berpotensi memunculkan diskriminasi hukum.

Ia menyatakan bias rasisme dalam proses penegakan hukum tampak jelas dalam penanganan persekusi dan rasisme terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu. Pada awalnya, polisi selaku aparat penegakan hukum lambat menindak para pelaku persekusi dan rasisme itu.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top