Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

5 DOB, 5 pintu ancaman baru untuk orang Papua

Foto ilustrasi – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Demas Tokoro

Di tengah konflik akibat bias rasisme dan ideologi yang berlarut-larut, sejumlah elit politik Papua memperjuangkan lima daerah otonomi baru. Mereka mengusulkan pemekaran Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat untuk membentuk lagi lima provinsi baru.

Usulan itu mengacu keberadaan lima wilayah adat di Papua dan dua wilayah adat di Papua Barat. Jika usul itu terwujud, bakal ada tujuh provinsi di Tanah Papua, setiap wilayah adat di Papua akan menjadi provinsi tersendiri.

Upaya para elit itu kita apresiasi. Akan tetapi, apakah penambahan provinsi baru ini menjadi solusi yang tepat atas masalah Papua saat ini? Ataukah penambahan daerah otonomi baru ini (DOB) hanya menambah masalah pada persoalan yang hendak kita selesaikan? Apakah yang kita perjuangkan itu demi kepentingan saat ini semata, tanpa memikirkan masa depan generasi kita?

Loading...
;

Saya duduk di lembaga Majelis Rakyat Papua  (MRP) sebagai seorang yang diutus oleh rakyat orang asli Papua (OAP). Lembaga yang dibentuk Negara melalui Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2004 itu diberi kewenangan untuk memberikan perlindungan, memberdayakan, dan keberpihakan kepada OAP. Saya  hendak mengkritisi sikap saudara-saudara yang memanfatkan situasi duka Papua.

Papua sudah lama berduka. Papua berduka karena kematian ratusan orang akibat banjir bandang yang seketika melenyapkan ribuan rumah dan harta benda di Sentani, Kabupaten Jayapura. Pemerintah belum melakukan relokasi, rekontruksi dan mitigasi yang lain. Korban masih menanti perubahan dan perhatian dari keterpurukan.

Begitu juga peristiwa yang terjadi Kabupaten Nduga. Ratusan orang meninggal dunia. Puluhan ribu orang meninggalkan rumah dan harta benda. Mereka berada di pengungsian, di hutan dan wilayah teraman sejumlah kabupaten tetangga, seperti Kabupaten Lanny Jaya dan Jayawijaya.

Akan tetapi, Kabupaten Jawijaya sudah tidak aman lagi, sejak amuk massa meletus di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, pada 23 September 2019. Sedikitnya 33 orang meninggal, dan puluhan orang luka dan ribuan lagi mengungsi.

Kita belum bicara nasib para korban di Jayapura dalam peristiwa 29-30 Agustus 2019. Juga para korban peristiwa 23 September yang menewaskan satu anggota TNI dan sedikitnya empat mahasiswa. Ada yang luka, dan yang kehilangan harta benda yang tidak sedikit. Masalah yang sama terjadi di Kabupaten Deiyai, delapan warga meninggal dunia dalam peristiwa 28 Agustus 2019.

Sejak 19 Agustus 2019, ribuan aparat keamanan dikirim ke Papua. Puluhan aktivis yang mengkoordinir demo damai dan aktivis yang tidak tahu menahu dengan demontrasi kini berada dalam tahanan atau masuk dalam target penangkapan.

Kita semua larut dalam penangkapan dan pemeriksaan para aktivis itu, hingga penetapan mereka sebagai tersangka. Akan tetapi, kita belum bicara akar masalahnya, yaitu soal rasisme yang terjadi di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019. Kita telah dan sedang menguburkan dalam-dalam akar masalah dengan kepentingan kita sendiri. Kita semua muncul tanpa melihat berbagai masalah yang rakyat asli Papua hadapi.

Kini kita bicara pembentukan DOB di lima wilayah adat. Tanpa sadar, kita sedang membuka lima pintu baru, dan membukanya lebar-lebar bagi masuknya migran ke Tanah Papua. Kita membuka peluang semakin bertambahnya migran di Tanah Papua, sekaligus terus menutup peluang kerja dan usaha bagi orang asli Papua.

Keberadaan lima DOB baru akan membuat orang asli Papua lebih sengsara, bahkan lima kali lebih sengsara dari hari ini. Pemekaran itu akan membuka peluang bisnis dan pekerjaan baru. Akan tetapi, mereka yang punya keterampilan dan pendidikan bagus yang akan mampu menjemput kekosongan ruang kerja di kantor-kantor daerah otonomi baru. Tidak ada satu kekuatan yang bisa membendung arus migran yang akan mengalir bagaikan banjir bandang.

Apakah para mahasiswa Papua yang pulang meninggalkan kota studi karena merasa tidak nyaman itu bisa mengisi kekosongan ruang kerja di kelima DOB itu? Ataukah anak Papua yang tidak punya skill, yang hari-hari terjebak dalam penyakit sosial, minuman beralkohol, dan narkoba akan mengisi kekosongan peluang kerja itu? Ingat, itu tidak mungkin. Apalagi, dari segi jumlah populasi, kita sudah sedikit.

Pemerintah Provinsi Papua sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat harus jeli melihat kondisi masyarakat orang asli Papua. kondisi riilnya, ketika diberi Otonomi Khusus, angka pengangguran orang asli Papua semakin naik. Peluang kerja tertutup, peluang usaha tidak bisa diharapkan lagi.

Setiap tahun, angkatan kerja orang asli Papua terus bertambah. Akan tetapi, tidak banyak (atau malah tidak ada) yang sukses membuka usaha toko atau warung makan di berbagai kota terkemuka di Papua.

Jika ada orang berkomentar bahwa keberadaan DOB akan membuka peluang baru bagi orang asli Papua, jangan lantas percaya begitu saja. Provinsi Papua Barat bisa menjadi contoh bagi kita.

Walaupun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua Barat dinyatakan lebih baik dari IPM Provinsi Papua, peluang kerja bagi orang asli Papua di Provinsi Papua Barat sama saja. Orang asli berada di barisan belakang dalam memanfaatkan peluang di sejumlah bidang usaha.

Karena itu, saya percaya pembentukan lima DOB justru akan membuat populasi OAP menurun secara drastis. Hak atas tanah, yang selama ini merupakan hak komunal masyarakat adat, akan berpidah menjadi hak atas tanah yang individual. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua akan dicabut dan diganti dengan peraturan-perundang undangan baru yang lebih sesuai dengan perkembangan masyarakat campuran. Sisa hutan yang masih ada akan dibabat habis, dan masih banyak lainnya, tapi tidak disebutkan.

Kebudayaan Papua tidak akan bisa bertahan lagi, karena orang Papua sendiri yang ingin menghancurkannya. Keterputusan budaya orang asli Papua akan membuat kita berhadapan dengan berbagai macam budaya dan sub budaya yang saling berlainan, tidak kait mengait, dan tidak saling mendukung. Misalnya, budaya orang miskin dan budaya orang kaya, budaya orang rural atau perkampungan dan budaya orang urban atau perkotaan, juga perbedaan suku dan perbedaan etnis.

Ketidak-sinambungan kultural ini menonjolkan kontras yang sangat menyolok, juga menonjolkan jarak atau distansi yang terlalu lebar. Akan tercipta jurang pemisah sosial atau “social gap” yang terlalu dalam.

Kondisi itu akan menciptakan deviasi atau penyimpangan sosial di semua sektor. Banyak kemungkinan yang akan terjadi, tapi sebut saja agresivitas, sikap bermusuhan, sikap ambivalensi, serta tekanan sosial lain yang eksplosif. Tingkah laku yang menyimpang itu bisa menghambat partisipasi aktif dan efektivitas fungsi setiap individu atau kelompok sosial didalam masyarakatnya. Bahkan, fungsi tersebut bisa berubah menjadi disfungsi.

Sebagai orang yang diutus rakyat OAP duduk dalam lembaga MRP, dan sebagai Ondoafi Suku Sentani di Wilayah Tabi, saya mengajak semua-baik yang gunung dan pantai, semua dari tujuh wilayah adat, termasuk semua yang berbeda agama, berbeda gereja, berbeda pandangan politik dan ideologi-untuk memikir kebersamaan, persatuan, kesatuan, rasa senasib sepenanggungan, dan sehidup semati kita sebagai orang asli Papua. Kalau di gunung ada tangisan, kita semua ikut menangis. Kalau di lembah ada tangisan, kita ikut berbela-sungkawa. Kalau di daerah pantai ada teriakan histeris karena perlakuan tidak senonoh, semua turut merasakannya.

Sudah saatnya kita tinggalkan budaya mengemis. Buang jauh-jauh sikap budak. Tuhan Yesus Juru Selamatku mampu mengubah tangisan menjadi sorak-sorai, mengubah kutuk menjadi berkat. Akhir kata, saya imbau kepada saudara-saudara yang berjuang untuk meloloskan keinginan kelompok, mari kita duduk tenang melihat apa yang Tuhan mau kerjakan di atas tanah Injil ini.(*)

Penulis adalah Ketua Kelompok Kerja Adat Majelis Rakyat Papua dan Ketua Dewan Adat Suku Sentani 

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top