HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

50 siswa SMAN 1 Sentani tidak naik kelas, tak penuhi KKM dan rajin membolos

Kepala Sekolah SMAN 1 Sentani, Agnes Anetha Mambieuw (kaos hijau) – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Kepala sekolah (kepsek) SMAN 1 Sentani Kabupaten Jayapura, Agnes Anetha Mambieuw, mengatakan 50 siswa yang tidak naik kelas karena tidak memenuhi syarat untuk naik kelas.

Selain tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap mata pelajaran, mereka juga rajin membolos alias kehadiran di kelas kurang dari 70 persen.

“Ada kekurangan kriteria-kriteria sehingga anak-anak ini tidak naik di kelas berikutnya. Kehadiran anak di kelas tidak mencapai 70 persen, artinya selama proses belajar mengajar di setiap mata pelajaran itu siswa-siswa ini tidak ikut dari hari ke hari bahkan ada siswa yang tidak sekolah dua sampai tiga bulan, pas ulangan baru masuk sekolah,” jelas Agnes kepada Jubi, di Sentani, Kamis (13/6/2019).

Kata Agnes, orangtua dari para siswa itu telah dipanggil pihak sekolah untuk diberikan penjelasan terkait anak yang jarang masuk sekolah. Namun ada sebagian yang tidak mau datang bahkan ada yang tidak peduli sama sekali dengan urusan sekolah anak-anak mereka.

Loading...
;

“Kami tahu persoalan apa yang mereka hadapi. Bahkan kami datangi ke rumah-rumah untuk mencari tahu kendala yang dihadapi anak-anak ini. Namun kadang guru ditolak oleh orangtua atau keluarga yang dikunjungi,” jelasnya.

Menurutnya, nilai kriteria juga tidak sesuai dengan standar yang ditentukan. Namun nilai-nilai yang didapatkan oleh siswa-siswa ini rendah. Mereka tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap mata pelajaran.

“KKM mereka juga tidak terpenuhi yang telah di tetapkan sekolah dan ini salah satu faktor penyebabnya. Ada juga yang tidak ikut ujian semester, ujian tengah semester, ulangan harian, dan tugas-tugas yang diberikan guru tidak dikumpulkan, ini juga jadi soal kenapa anak-anak ini tahan kelas,” jelas  Anetha.

Anak-anak yang tingal kelas ini, imbuh Anetha, rata-rata bukan anak yang terkena bencana di sekitar Kemiri sehingga ia berharap peran orangtua juga perlu aktif dalam membina anak dalam bangku studi mereka.

“Hal ini bukan terjadi di semester sekarang namun sudah terjadi di semester sebelumnya dan terbawa terus. Saya selaku kepala sekolah tidak bisa buat apa-apa. Jika saya naikkan mereka dengan kewenagan saya bisa, tapi yang mengajar mereka itu guru mata pelajaran, jadi mau tidak mau saya harus menghargai guru yang punya hak dalam mengajar dalam kelas ini. Namun jika ada yang mau pindah dari sini, itu dengan senang hati dan jika ada yang tetap di sekolah ini itu kami terima juga dengan senang hati,” ucap Anetha.

Terpisah,  orangtua siswa, David Monim, orangtua dari Yesi Yeheskiel Yohanes Monim,  yang tidak naik kelas, mengatakan secara manusia memang kecewa namun di sisi lain ia sebagai orangtua tidak bisa mempersalahkan pihak sekolah.

“Saya coba dekati wali kelas dan guru-guru, karena hal ini terjadi dikarenakan kelalaian dari anak murid juga, karena anak-anak tidak mengerjakan tugas-tugas yang menunjang nilai-nilai,” kata Monim.

Monim menambahkan walau beberapa guru mengatakan ini terjadi karena banjir kemarin namun menurutnya banjir yang terjadi bukan alasan yang tepat.

“Guru-guru bilang hal ini terjadi karena banjir kemarin tapi itu bukan alasan yang pas menurut saya, ya mungkin sebagian sehingga hari ini saya mau ketemu kepala sekolah apakah ada solusi lain buat anak-anak atau tidak, kalau tidak juga tidak apa kalau ada syukur saja,” ucap Monim. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top