Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

6 kilometer “terjauh” Obeth Mabel, ketegangan menembus kepungan massa

Foto ilustrasi – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dari kawasan Jembatan Pikhe yang terletak di sebelah utara kota Wamena, Obeth Mabel terpaku melihat beberapa asap hitam dari arah pusat kota membumbung tinggi pada Senin (23/9/2019) itu. Mabel tahu, pagi itu para pelajar SMA di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, Papua, berunjukrasa, gara-gara kabar dugaan seorang guru mengucapkan kata-kata rasis kepada siswanya.

Akan tetapi, ia tak tahu persis apa yang membuat unjukrasa anti rasisme itu berubah menjadi amuk massa. Di dekat jembatan Pikhe, sekitar 6 kilometer arah utara pusat kota Wamena, Mabel melihat orang-orang yang tidak dikenalnya berlarian tak tentu arah.

Mabel akhirnya tahu sekelompok orang yang tidak dikenalnya telah membakar rumah toko, kios, dan rumah hunian para warga di pertigaan Pasar Jibama. “Orang mulai membakar [bangunan rumah dan toko] dari arah kota, [mereka terus bergerak ke arah utara] sampai melewati  pertigaan Pasar Jibama. [Lalu mereka mengarah] ke Jembatan Pikhe. Saya bersama beberapa warga keluar rumah, duduk di jalan, [berjaga-jaga],” ungkap Obeth Mabel kepada jurnalis Jubi, Minggu (29/9/2019) malam.

Mabel dan para warga yang berjaga di Jalan Pikhe melihat sekelompok orang yang sebelumnya membakar toko dan rumah di kawasan pertigaan Pasar Jibama mencoba masuk ke Jalan Pikhe. Mabel dan para warga menghalau mereka. Orang-orang yang tidak dikenal itu menjauh, namun malah mencoba membakar rumah-rumah di kawasan pertigaan Jalan Mikael Alua.

Loading...
;

Mabel dan para warga yang berjaga mendatangi orang-orang tak dikenal itu, menghalau mereka pergi.  “Sekelompok orang yang membakar toko dan rumah-rumah warga itu bukanlah pelajar yang berunjukrasa. Mereka orang perorangan [yang tidak saya kenali], mereka berlarian mau membakar rumah, tapi saya ribut [dan mengusir mereka], sehingga mereka tidak sampai ke Jembatan Pikhe,” tutur Mabel.

Dituntun naluri kemanusiaannya, Mabel dan para warga Jalan Pikhe mengajak para warga pendatang untuk mengungsi dari rumah dan toko mereka. Mabel dan teman-temannya membawa para warga perantau itu bersembunyi di rumah para warga asli di kawasan Jembatan Pikhe.

“Kurang lebih 58 kepala keluarga. [Mereka warga perantau] suku Batak dan [perantau dari] Engrekang, [Sulawesi Selatan]. [Kami membawa mereka beserta] anak-isterinya mengungsi ke rumah kami, [para warga asli]. Beberapa orang [diantaranya] sopir enam truk milik saya, juga saya selamatkan,” ungkap Mabel yang juga seorang pengusaha kayu itu.

Meski berhasil menyembunyikan para warga pendatang, Mabel dan para warga asli yang berjaga khawatir situasi di Jembatan Pikhe bisa berubah sewaktu-waktu. Mereka akhirnya bersepakat, mereka harus mengantar 58 keluarga pendatang itu ke pusat kota Wamena.

Itu berarti, Mabel dan teman-temannya harus berjalan kaki sepanjang 6 kilometer menuju pusat kota Wamena, mengantar para warga pendatang ke pengungsian.”Kami kumpulkan mereka semua, kami [membuat pagar betis] di sekeliling mereka, berjalan kaki antar mereka masuk ke kota Wamena,” kata Mabel.

Mungkin Mabel tidak akan pernah melupakan 6 kilometer “terpanjang” yang ia tempuh dengan berjalan kaki pada Senin itu. Di sepanjang perjalanan menuju pusat kota Wamena, rombongan Mabel berpapasan dengan sekelompok orang yang membawa lari seseorang yang terluka. Mereka melihat rombongan Mabel, termasuk melihat puluhan orang warga pendatang yang tengah dikawal oleh Mabel dan teman-temannya.

Mabel mengakui, saat itu ia sangat cemas. “Kami semua khawatir, apakah mereka, [para pendatang yang kami kawal itu], akan diambil? Kami berjaga, [terus berjalan] menuju pertigaan Pasar Jibama, mencoba mencari jalan ke arah Hom-hom,” tuturnya.

Di pertigaan Pasar Jibama, rombongan Mabel harus melewati massa yang tengah dilanda amuk. Itulah saat paling menegangkan bagi Mabel, juga teman-temannya yang tengah menjadi pagar betis bagi puluhan warga pendatang yang mereka kawal. Salah bertindak, Mabel bisa berhadapan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya itu.

“[Kami] sangat khawatir. Kami ada dalam pilihan sulit, tetapi kami berusaha membawa para [warga pendatang] menembus blokade itu sampai ke kota,”ungkapnya.

Akhirnya, 58 keluarga itu selamat tiba di pusat kota Wamena, tempat di mana para aparat keamanan berjaga dengan ketat. Mabel dan teman-temannya pun pulang, kembali ke Jalan Pikhe.

Sesampainya di Jalan Pikhe, Mabel melihat para penjarah tengah berusaha memasuki kios dan rumah toko para pedatang yang baru saja ia evakusi. Mabel dan teman-temannya menegus para penjarah, meminta mereka pergi.

“Ketika kami memarahi mereka, [para penjarah] balik marah. ‘Setelah kamu antar, [lalu] larang [kami menjarah] lagi?’ Akan tetapi, kami berusaha keras menjaga kios dan rumah toko [yang sudah ditinggalkan pemiliknya itu]. Rumah dan kios mereka aman sampai hari ini, kami menjaganya,” ujar Mabel. Itulah mengapa ios, toko, dan rumah di Jalan Pikhe, hingga jarak 500 meter arah selatan dari Jembatan Pikhe, lolos dari penjarahan dan perusakan massa.

Nico Logo, seorang guru sekolah dasar di Wamena, menjadi saksi ketika Mabel dan sejumlah warga asli lainnya menyembunyikan puluhan warga pendatang itu di rumah-rumah mereka. “Keluarga-keluarga yang ada di depan ini, kami larikan ke dalam sini,”ungkapnya membenarkan tuturan Mabel.

Nico menyebut, apa yang dilakukan Mabel dan para warga asli kawasan Jembatan Pikhe adalah menjaga kehormatan dan nilai-nilai Suku Yali Huwula. Suku Yali Huwula, dan juga Suku Lanny, sangat menghormati dan wajib melindungi nyawa setiap orang yang sudah lama tinggal di wilayah adat mereka.

“Kalau kita sudah hidup bersama, berbagi, dan saling membantu, dalam situasi apapun tidak boleh [saling] membunuh. Hukum itu sudah berlaku sejak perang suku dulu,”ungkap Logo.

Amuk massa di Wamena menyentak hati nurani publik yang terkejut menerima kabar sedikitnya 33 orang tewas, puluhan orang terluka, dan lebih dari 600 rumah dan toko hancur atau terbakar. Dalam duka para korban dan keluarga korban, juga ada luka masyarakat adat di Jayawijaya yang harus menerima kekecewaan publik atas apa yang terjadi di tanah leluhur mereka. Kekecewaan publik itu begitu mendalam, hingga seperti api kemarahan dalam sekam.

Obeth Mabel tidak menuntut pengakuan atau imbalan apapun atas apa yang ia lakukan bersama para warga asli kawasan Jembatan Pikhe. Begitu pula para warga asli Wamena lain yang juga menyelamatkan saudara-saudara mereka, pendatang dari luar Papua. Mabel bersama-sama para warga asli Papua lainnya melakukan apa yang mereka yakini harus dilakukan, yaitu menyelamatkan nyawa manusia yang lain.

Ia hanya berharap, janganlah publik yang tengah berduka serta-merta menilai setiap orang asli Papua jahat dan kejam. “Kami tidak semuanya jahat. Kami ada yang baik. Banyak [orang] telah berupaya menyelamatkan banyak nyawa orang lain,” ungkap Mabel.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top