Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Agama-agama di Papua menghadapi tantangan radikalisme

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Vredigando Engelberto Namsa, OFM

Papua tergolong dalam kelompok provinsi dengan jumlah penduduk meningkat setiap tahun. Tahun 2019 penduduk Papua diproyeksikan sebanyak 3.379.302 orang. Jumlah ini meningkat dari tahun 2018 yang hanya 3.322.526 jiwa. Terdapat peningkatan sebesar 56.776 jiwa dalam kurun waktu satu tahun.

Penambahan penduduk di Papua disebabkan oleh tingkat kelahiran yang masih cukup tinggi, migrasi masuk ke wilayah Papua, maupun rendahnya tingkat kematian di Provinsi Papua (BPS Provinsi Papua, Februari 2019). Dari 29 kabupaten/kota di Provinsi Papua, Kota Jayapura merupakan wilayah dengan jumlah penduduk paling banyak di Papua yaitu mencapai 300.192 jiwa.

Loading...
;

Provinsi Papua memiliki wilayah terluas di Indonesia (316 ribu km2) dengan jumlah penduduk hanya 3,38 juta jiwa. Masih banyak wilayah di Papua yang belum layak huni, sehingga distribusi penduduk terkonsentrasi pada beberapa wilayah strategis saja. Dengan bertambahnya jumlah penduduk diharapkan dapat membawa kemajuan bagi Provinsi Papua.

Falsafah hidup orang Papua yang cinta akan kedamaian (membuat) Papua dikenal sebagai suatu bangsa yang rukun, toleran, harmonis, meski di Papua ada berbagai suku, etnis, budaya (multikultur) dan agama. Dengan kata lain, Papua adalah provinsi yang menjunjung tinggi pluralitas.

Namun pada 2017-2019, ada berbagai konflik yang mengatasnamakan agama (radikalisme) dan etnis. Konflik-konflik tersebut memancing kita untuk melihatnya sebagai suatu tantangan yang merongrong falsafah hidup orang Papua.

Radikalisme agama

Radikalisme (sejarah), sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan elektoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme (Paul Budi Kleden, dalam buku “Allah Menggugat Allah Menyembuhkan”, Ledalero 2015).

Bertolak dari arti kata ini, zaman sekarang bangkit agama-agama yang sering dikemas dalam aneka ungkapan seperti ‘revivalism’. Revivalism mengisyaratkan sejenis titik balik secara bersama, suatu aksi kembali kepada agama dan menemukan kembali iman yang hilang.

Menurut Jamhari, tren utama dalam religious revivalism adalah penguatan gerakan-gerakan yang sering dicap fundamental (atau radikalis) dalam hampir semua agama di dunia seperti Islam radikal atau Kristen fundamental.

Di Indonesia sejarah Muslim garis keras berawal menjelang kemerdekaan, hingga peristiwa bom Bali dan tragedi lainnya. Gerakan Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia telah memulai di tiga daerah: Jawa Barat, Aceh, dan Makassar, sesungguhnya memiliki motivasi perjuangan yang berbeda, meski sering dicap radikal karena memiliki usaha yang sama untuk menerapkan syariah di Indonesia.

Kita juga tidak luput dari tantangan para fundamentalis Kristen. Walaupun di Indonesia pada umumnya dan Papua pada khususnya gerakan ini belum nampak, namun kita perlu hati-hati dalam menyikapinya. Di Amerika dan Eropa kelompok Kristen fundamentalis hadir sebagai suatu ancaman dalam kehidupan bersama.

Tragedi 22 Juni 2011 di Norwegia adalah salah bentuk ekstrem dari tindakan kelompok ini. Selain gerakan Islam radikal dan Kristen fundamental, ada juga fundamentalis Hindu di India. Di balik  gerakan-gerakan ekstrim itu terungkap sebuah gejala bahwa kita sedang diancam, bukan hanya oleh teroris global yang terorganisasi dan yang berkaitan dengan Islam fundamentalis (ekstrim kiri), tapi juga gerakan ultra kanan, seperti fundamentalis Kristen.

Persoalan kelompok radikal di Papua pada kenyataannya ada. Bibit konflik itu semakin tumbuh di Tanah Papua, terkait dengan kelompok radikalisme agama. Pada 2015 nama Ja’far Umar Thalib kembali diperbincangkan kasus Tolikara 17 April 2015.

Tahun yang sama, 9 Desember 2015, di Koya Barat, Kota Jayapura, terjadi bentrok antara warga setempat dan kelompok santri Ja’far Umar Thalib (JUT). Pada 27 Februari 2019, JUT dan kelompoknya kembali membuat kekacauan di Koya.

Kelompok dakwah baru yang agresif “Kapal Dakwah” yang hadir di Merauke, juga ditentang oleh umat beragama di Merauke. Kelompok ini dianggap mempunyai potensi yang mengakibatkan tindakan radikalisme. Pada 2019 dua orang ditangkap di Bandara Sentani karena diduga terlibat dalam kelompok radikalisme agama. Mereka akan terbang ke Wamena, terapi  digagalkan oleh pihak berwajib.

Globalisasi: Sebuah gejala yang kompleks

Globalisasi adalah sebuah topik yang menarik perhatian para ilmuwan (sosial, politik, ekonomi, dan religi). Karena konsep itu begitu luas, maka sulit dicapai kata sepakat tentang definisinya. Kecenderungan para ilmuwan untuk menekankan aspek-aspek tertentu sesuai minat dan bidang yang ditekuni sambil cenderung mengabaikan aspek-aspek yang lain.

Kita tidak perlu me-denominasi globalisasi, seolah globalisasi secara keseluruhan telah mendatangkan bencana besar. Ada banyak hal baik yang dibawa oleh globalisasi. Dalam kenyataan, globalisasi terlalu kompleks untuk disebut sebagai sebuah proses penyeragaman.

Sebab itu, globalisasi lebih tepat didefinisikan dalam kompleksitasnya sebagai proses terlepasnya sesuatu dari konteks tradisionalnya dan kehadirannya secara serentak di berbagai wilayah dunia.

Apa yang dulu terkait pada suatu wilayah tertentu, kini menjadi milik banyak orang dan dapat hadir di mana-mana. Globalisasi berarti terlepas dari suatu konteks yang lama dan pembentukan konteks baru bagi sesuatu itu. Yang dahulu dianggap berbeda dan didefinisikan secara jelas dalam waktu dan ruang tertentu, kini dapat hadir secara serentak dalam waktu yang sama dan ruang yang berbeda.

Pelepasan dari ikatan tradisional dapat disebabkan oleh berbagai alasan: alasan ideologis, religius, politis, ekonomis, atau ilmu pengetahuan. Ada pelepasan yang bersifat perampasan dan tanpa persetujuan masyarakat bersangkutan, ada pula pelepasan yang merupakan keinginan masyarakat yang secara tradisional menjadi sebuah pendukung satu kebudayaan karena kepentingan tertentu. Dan penanaman kehadiran baru di dalam konteks lain dapat terjadi karena keinginan masyarakat di sana, tetapi dapat pula terjadi tanpa persetujuan mereka malah bertentangan dengan keinginan mereka.

Era globalisasi adalah era peralihan dari segala penentuan nasib kepada pilihan bebas individu. Segala penentuan yang bersifat niscaya semakin menjadi berkurang dan lemah. Di tengah situasi seperti ini yang semakin berperan adalah individu itu sendiri.

Setiap orang mesti memilih dari sekian banyak tawaran dan bertanggung jawab atas pilihan itu. Manusia yang otonom, yang berpikir dan bertindak berdasarkan pertimbangan yang dibuatnya sendiri, adalah manusia yang menghadapi tantangan globalisasi, sebab itu untuk menghadapi arus globalisasi di Papua.

Tokoh-tokoh agama, pemerintah dan tokoh-tokoh adat perlu mendampingi orang Papua untuk menjadi manusia yang otonom. Selain itu dibutuhkan solidaritas. Semangat bela rasa melampaui kepentingan sendiri, adalah sikap yang perlu ditumbuhkan dalam era globalisasi dan semua orang di Papua dipanggil untuk menumbuhkan semangat itu.

Runtutan perubahan dan aktivitas keagamaan di tengah dunia (pada umumnya) dan Papua (pada khususnya) dilanda oleh radikalisme dan globalisasi, demi terciptanya insan beragama dan beriman yang berwawasan inklusif dan toleran adalah sebuah panggilan yang mulia, tetapi tidak luput dari kesulitan dan tantangan. Perlu dihidupkan kembali nilai-nilai spiritual atau etika religius yang kodrati dan kultur dalam konteks, sehingga apa yang kita harapkan akan terwujud sebagai manusia-manusia beriman yang ideal dalam usaha menciptakan harmoni dalam peradaban orang Papua yang semakin sejahtera dan cinta damai.

Visi, misi, dan nilai merupakan kenyataan yang abstrak dalam benak manusia yang menjadi daya dorong terhadap sikap dan tingkah laku sehari-hari. Hanya insan beriman yang memahami dan menghayati spiritualitas lintas agama sebagaimana yang diajarkan dan dijunjung tinggi oleh agama dan kebudayaan akan mampu bersikap saleh, sopan, ramah dan jujur terhadap orang lain dan dirinya sendiri.

(Untuk) Menghadapi tantangan radikalisme agama di Papua, pada dasarnya dibutuhkan usaha nyata dan kerja sama semua pihak, sehingga Papua sebagai tanah damai, benar-benar dirasakan. Bukan hanya menjadi slogan kosong yang mengaung-ngaung tanpa bukti dan realisasinya.

Dewasa ini kita membutuhkan insan beragama yang memiliki misi, visi dan nilai bermanfaat demi pembangunan manusia di Papua yang seimbang dan memanusiakan manusia di Papua dengan wawasan menyeluruh. (*)

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Teologi

Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top