Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Agar retribusi pasar terhindari dari korupsi

Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano dan Direktur Utama Bank Papua F. Zendrato menandatangani kerja sama penerimaan penyetoran retribusi Pasar Sentral Hamadi – Jubi/Sindung

Papua No. 1 News Portal | Jubi

PEMERINTAH Kota Jayapura mencoba cara baru memungut restribusi pedagang di Pasar Sentral Hamadi.

Berbeda dengan sistem yang selama ini berjalan, yaitu ada petugas yang memungut langsung kepada pedagang, sistem baru adalah melalui setoran langsung oleh pedagang ke bank melalui transaksi nontunai.

Bank yang digandeng Pemkot Jayapura adalah Bank Papua. Penandatanganan kerja sama dilakukan antara Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano dan Direktur Utama Bank Papua F. Zendrato, Selasa, 28 Januari 2019.

Benhur Tommy Mano mengatakan sistem baru tersebut dilakukan untuk mewujudkan transparansi dalam penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Jayapura, khususnya penerimaan dan penyetoran retribusi.

Loading...
;

“Juga dalam upaya menambah PAD Kota Jayapura hingga akhir 2019 nanti mencapai Rp 200 miliar dari sektor jasa dan pajak daerah dan cara ini juga memotong dan menghindari korupsi,” katanya.

Mano yakin transaksi nontunai yang tanpa perantara akan menciptakan pemungutan retribusi yang transparan dan akhirnya akan mendongkrak PAD.

“Kita sudah bekerja sama dengan penjual kue dan makanan agar mereka tidak lagi menggunakan uang cash, bahkan kami juga mengimbau pedagang menggunakan nontunai sehingga kita bisa menciptakan birokrasi yang bersih,” katanya.

Sistem tersebut, kata Mano, akan diujicobakan di Pasar Sentral Hamadi. Jika berjalan lancar maka akan diterapkan di pasar-pasar lainnya di Kota Jayapura.

Direktur Utama Bank Papua F Zendarto mengungkapkan Kota Jayapura adalah salah satu mitra dan sekaligus pemegang saham Bank Papua, karena itu Bank Papua berkewajiban mendukung program kota.

Dukungan tersebut, katanya, adalah menyediakan fasilitas payment gate untuk pembayaran transaksi dan tagihan retribusi di Pasar Hamadi.

“Mudahan-mudahan ini akan mendorong pembayaran yang lebih baik dari segi transparansi, sekaligus mendukung Bank Papua meraih nasabah-nasabah baru di Pasar Hamadi dan secara otomatis akan membuka pelayanan-pelayanan baru dan terbaik untuk seluruh customer Bank Papua,” katanya.

Kegiatan tersebut, tambahnya, selaras dengan visi dan misi Bank Papua untuk menjadi bank regional yang kuat, terpercaya, berdaya saing, dan mendukung pembangunan ekonomi di Tanah Papua.

Sebagai bank milik pemerintah daerah, katanya, Bank Papua harus dapat memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan kepada pemerintah daerah sebagai pemegang saham, serta pengusaha dan masyarakat umum sebagai nasabah dengan menyediakan produk-produk.

Selain itu juga memberikan pelayanan terbaik dana selalu menjaga kerahasiaan nasabah sesuai ketentuan.

Direktur Bisnis Bank Papua, Sadar Sebayang, menambahkan dengan kerja sama tersebut akan menambah nasabah dan akan mempunyai prospek bisnis lanjutan.

“Kita pastikan untuk bisa support dan kita harapkan tak hanya di Pasar Hamadi, tapi juga di pasar-pasar lainnya,” ujarnya.

Pemimpin Divisi Dana, Jasa, dan E-banking Bank Papua, Wastu Nugroho, menjelaskan pada tahap awal pihaknya akan mengelola kurang-lebih 370 pedagang di Pasar Hamadi. Namun saat ini pedagang yang aktif baru sekitar 200-an kios.

“Setiap pedagang akan membayar retribusi kurang lebih Rp 225 ribu per perbulan dengan rincian Rp 26 ribu untuk retribusi kebersihan dan Rp 195 ribu untuk reribusi lainnya,” katanya

Meski asumsi penerimaan masih kecil, namun Bank Papua berharap akan ada peningkatan signifikan ketika sistem ini berjalan baik di seluruh pasar di Kota Jayapura.

“Tepatnya coba cross check nanti ke dinas ya, kurang lebih akan ada pemasukan dari retribusi ini ke pemerintah daerah sebesar Rp 541, 2 juta per tahun,” katanya.

Ia berharap setelah izin dari Bank Indonesia keluar untuk menggunakan kartu semacam t-cash, maka akan bertambah nominal pemasukan.

“Sebab pedagang akan diberikan kartu dan tinggal tap saja akan masuk sebagai retribusi tiap harinya dari pedagang nonkios,” ujarnya.

Aman, pedagang di Pasar Hamadi, mengatakan sebenarnya dulu pernah ada perbankan yang mengurus retribusi, namun ada permasalahan sehingga tak lanjut.

“Kami harapkan hal ini bisa diperbaiki dan nantinya kami akan didampingi bersama oleh KCP Bank Papua Hamadi untuk kembali mengurus dan mendata ulang tabungan untuk proses auto debet-nya,” ujarnya.

Menurutnya ada sekitar 200 pedagang kios dan los di Pasar Hamadi yang memiliki kewajiban membayar retribusi dengan tarif berbeda per bulan sesuai ukuran kios.

Kios dengan ukuran 3×3 meter membayar sekitar Rp 195 ribu, kios ukuran 3×4 meter Rp 271 ribu, dan kios ukuran 3X6 Rp 400 ribu.

Selain itu juga ada penjual di luar kios yang hanya membayar uang kebersihan dan keamanan sekitar Rp 2 ribu per hari.

“Pedagang di luar kios ini yang kami harapkan juga ikut berpartisipasi membayar retribusi nanti,” ujarnya. (*)

Reporter: Sindung Sukoco

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top