Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Agar siswa SMA di Nabire bisa masuk UI

Agar siswa SMA di Nabire bisa masuk UI

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Pendidikan itu bukan hanya milik orang yang tinggal di sekitar ibu kota saja. Universitas Indonesia (UI), Jakarta misalnya, tidak seharusnya mereka yang tinggal dekat sana saja yang bisa mengenyam pendidikan di sana. Tetapi semua orang memiliki kesempatan yang sama.

“Siapapun dia, tidak membedakan jarak, suku, golongan, dan ras, semua punya kesempatan untuk bisa masuk UI,” ujar Rini, staf Universitas Indonesia yang datang ke Nabire dan berbicara di aula SMA YPPK Adhi Luhur di hadapan perwakilan dari 23 sekolah SMA dan SMK se-Nabire, Selasa, 12 Februari 2019.

Menurut Rini, tujuan kedatangan perwakilan UI ke Nabire untuk mensosialisasikan Universitas Indonesia dalam rangka pemerataan kesempatan belajar. Untuk Provinsi Papua ada dua kabupaten yang dikunjungi, yakni Merauke dan Nabire.

Selain itu tim UI juga mengunjungai beberapa kota di Indonesia, khususnya di daerah yang lokasi akses informasinya jauh.

Loading...
;

“Jadi kami berempat dari Subdit Kesejahteraan Mahasiswa, Direktorat Kemahasiswaan UI, mahasiswi asal Nabire saat ini berkuliah di Fakultas Farmasi di UI, dan bagian penerimaan mahasiswa baru UI, kami ingin agar dari Papua semakin banyak anak muda yang kuliah di UI,” katanya.

Saat sosialisasi, Rini menjelaskan cara mahasiswa baru masuk ke UI. Bagaimana peluang-peluang, serta jurusan yang akan diambil.

Sebab, katanya, calon mahasiswa kebanyakan hanya tahu jurusan mainstream seperti Kedokteran, Ekonomi, Teknik Sipil, dan lainnya. Padahal di UI banyak jurusan yang menarik, seperti Teknik Perkapalan, Matematika, Teknik Lingkungan, Biologi, Aquaria, dan sangat bisa diterapkan ilmunya di Nabire ini untuk kemajuan daerah.

“Jadi saya ingatkan adik-adik yang mau masuk ke UI, jangan anggap di sana hanya ada jurusan mainstream, tetapi banyak jurusan lain yang dapat diterapkan di Nabire, saat ini di UI terdapat kurang lebih 65 jurusan, juga S2 profesi dan spesialis,” ujarnya.

Subdit Kesejahteraan Mahasiswa, Direktorat Kemahasiswaan UI Bimo Kesumo menambahkan, jika ada rumor yang beredar tentang mahalnya biaya di UI atau digelari universitas kelas berat, sebenarnya tidak berat karena UI merupakan satu-satunya universitas negeri yang mempunyai mekanisme penyesuaian biaya pendidikan berdasarkan kemampuan penanggung jawab biaya pendidikan mahasiswa tersebut.

Sebab di UI juga terdapat tiga program S1, yaitu reguler, paralel, dan KI (Kelas Internasional). Untuk S1 regular diberikan mekanisme yang dinamakan BOPB (Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan).

“Misalnya program S1 regular UI berani menawarkan untuk mahasiswa IPA mulai dari Rp7.500.000 per semester sampai Rp0, IPS dari Rp5.000.000 per semester sampai dengan Rp0, dan jalurnya sama, yang penting mengarah ke S1 regular,” ujarnya.

Bimo mengatakan, UI menawarkan beberapa tingkatan kelas yang disusun dari perbedaan tagihan biaya pendidikannya, mulai dari kelas 1 dari Rp0 sampai Rp500.000 per semester hingga kelas 6.

Mahasiswa S1 regular memiliki hak untuk mengajukan keringanan atau keringanan untuk mendapatkan BOPB. Sebab ada hak yang bisa dipakai atau tidak dan pilihannya ada pada mahasiswanya sendiri serta tergantung UI melihat kembali kemampuan membayar dari penanggung jawab biaya pendidikannya, seperti orang tua.

“Untuk anak-anak Papua di UI semakin tahun semakin bertambah, dari Nabire sudah belasan anak yang masuk dari berbagai jalur masuk, ada yang dari SBMPTN ujian tulis, ada dari beasiswa afirmasi dan jalur lain, jadi saya mau anak-anak harus berlomba,” katanya.

Teresia P. Taa, mahasiswa Jurusan Fakultas Farmasi UI yang hadir mengatakan, untuk UI susah-susah gampang, tapi menyenangkan. Ia mengatakan, cita-citanya sejak kelas satu SMA adalah masuk ke UI dan ia berjuang dengan belajar keras, akhirnya terbukti, karena nilainya bagus lulus beasiswa masuk ke UI.

“Susah-gampang tapi menyenangkan dan butuh perjuangan, akhirnya saya lolos,” ujar mahasiswi semester empat tamatan SMAN 1 Nabire tersebut.

Ia menjelaskan, susahnya hanya saat awal masuk dan saat keluar, karena harus menyesuaikan dengan cara belajar di UI. Untuk masuk ke sana, nilai rata-rata atau NEM akhir ditentukan masing-masing fakultas, misalkan farmasi 5,2 nilai rata-ratanya.

“Puji Tuhan saya berjuang dan bisa masuk ke sana dari jalur beasiswa afirmasi, jadi saya mau bilang ke taman- teman yang mau masuk ke UI, kuncinya adalah tingkatkan belajar dan punya kemauan,” katanya.

Seorang peserta dari salah satu SMA di Nabire, Matias Goo mengatakan, setelah mendapat penjelasan, akhirnya ia mengerti tentang Universitas Indonesia. Sebab selama ini dari cerita orang bahwa kuliah di UI itu susah dan mahal.

“Saya sekarang kelas 2, cita-cita waktu SMA mau masuk UI, tapi orang bilang mahal, tapi hari ini saya paham, ternyata tidak demikian, maka saya akan coba nanti,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top