Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Akankah Persipura lolos kriteria A lisensi AFC?

Persipura Jayapura saat berlaga di AFC Cup menghadapi tuan rumah Churchill Brothers dengan skor akhir 1-1 di India – Jubi/Roy Ratumakin.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Indonesia kembali terjun bebas ke posisi ke-27 dalam liga Asia pada musim ini. Padahal kompetisi Indonesia pernah mengenyam masa-masa emasnya. Setidaknya di atas kertas, Indonesia Super League (ISL) pernah berada di peringkat liga terbaik kedelapan se-Asia dan ranking pertama di Asia Tenggara.

Pada masa ISL yang dimulai sejak 2008, klub-klub Tanah Air dilabeli dengan sebutan profesional. Atas dasar profesionalisme itu pula, peserta Liga 1 kini disarankan untuk mengejar lisensi klub AFC.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi, melakukan verifikasi terhadap 18 klub Liga 1 pada setiap musimnya. Akan tetapi, verifikasi yang dijalani PT LIB tak cukup. Jika klub-klub Indonesia ingin tampil di kancah Asia seperti Liga Champions Asia dan AFC Cup, klub wajib meraih lisensi dari AFC yang dirilis setiap musimnya.

Untuk memenuhi hal tersebut, Sporting Criteria pada Club Licensing Administration System (CLAS) pada Educational Programmes, yaitu Refeere Instructor, Sukhbir Singh datang mengunjungi Papua. Ia merupakan instruktur yang berasal dari Football Association of Singapore.

Loading...
;

“Kedatangan Sukhbir Singh adalah untuk memberikan materi Laws of the Game FIFA, Sports Integrity dan Doping Control. Ini dilakukan sebagai persyaratan dalam pengurusan AFC Club Licensing 2019, dimana klub wajib melakukan Educational Program kepada seluruh perangkat klub (Pengurus, Pelatih, Official, dan Pemain),” kata Media Officer Persipura Jayapura, Eveerth Joumilena kepada wartawan di Jayapura.

Kata Eveerth, secara umum materi yang diberikan adalah hal-hal penting sebagai regulasi baru dalam permainan sepak bola di tingkat AFC dan juga aturan-aturan baru yang menjadi lisensi AFC.

“Tentunya, sepak bola modern banyak terjadi perubahan-perubahan yang harus diikuti, sehingga hal ini sangat baik bagi tim Persipura untuk mengetahuinya,” ujarnya.

Pada 2018, dari 18 klub peserta kompetisi Liga Indonesia hanya ada 10 klub mendapatkan lisensi klub profesional AFC. Dari 10 klub tersebut hanya Arema, Persib, dan Persija yang mendapatkan posisi granted atau Kriteria A. Sedangkan Bali United, Persipura Jayapura, Borneo FC, dan Bhayangkara FC telah mendapatkan lisensi dengan adanya catatan. Keempat klub tersebut memenuhi 33 kriteria A, tapi ada yang belum di kriteria B.

Pelatih Persipura Jayapura Jacksen F. Tiago mengatakan, kedatangan Referee Instructor, Sukhbir Singh untuk menjelaskan enam peraturan pertandingan baru termasuk aguran tentang tim harus menghormati keputusan wasit yang memimpin jalannya pertandingan.

“Dalam pertemuan tersebut, kami mengusulkan ada baiknya pertemuan seperti ini dihadiri oleh para wasit bukan secara terpisah. Kalau tidak dihadiri oleh wasit, belum tentu apa yang kami mengerti dapat dimengerti oleh wasit. Kalau kami dalam forum yang sama maka tidak ada perdebatan antara kami dengan wasit,” katanya.

 

Kewajiban klub untuk penuhi lisensi AFC

Lisensi klub AFC mulai diterapkan pada 2010 silam, mengikuti pedoman lisensi klub yang sudah dijalankan oleh FIFA sejak 2008. Adaptasi dari regulasi lisensi klub AFC inilah yang digunakan oleh PT Liga Indonesia Baru (PTLIB)) untuk memverifikasi klub di Indonesia jelang bergulirnya kompetisi, meski variabel yang digunakan cenderung lebih longgar.

Regulasi lisensi klub AFC ini memiliki tiga kriteria umum di dalamnya, yaitu kriteria A, B, dan C. Dari tiga kriteria itu, kriteria A yang mesti dipenuhi oleh klub. Kemudian disusul kriteria B dan C.

Kriteria A terbagi dalam lima kriteria khusus. Pertama, soal aspek sporting atau pembinaan usia dini. Untuk aspek ini, setiap klub wajib menjadi tempat produksi sekaligus pengembangan pemain-pemain muda.

Untuk itu, klub wajib memiliki tim muda (minimal U-15 dan U-18), memiliki struktur pembinaan pemain serta program pembinaan pemain yang jelas. Bukan cuma itu, pemain yang sudah dikontrak juga perlu dukungan medis.

Kedua, soal aspek infrastruktur. Klub mesti memiliki stadion yang sesuai dengan standar AFC Stadium Regulations atau stadion yang dimiliki klub minimal harus memenuhi syarat diantaranya sertifikasi keamanan, jalur evakuasi, serta fasilitas latihan. Untuk penerangan, minimal stadion harus memenuhi kapasitas 1.200 lux.

Untuk kapasitas tribune sendiri, minimal stadion harus berkapasitas 5.000 orang, dengan kursi single-seated plus jarak yang lebar antara satu deret kursi dengan deret kursi yang lainnya. Tribune VVIP, tribune media, dan tempat untuk fotografer juga mesti ada, dengan koneksi Wi-Fi yang memadai.

Ketiga, soal aspek manajemen klub. Klub diwajibkan memiliki alamat sekretariat, dengan nomor telepon, alamat email, dan kode pos yang jelas. Klub juga harus memiliki General Manager, Bendahara, Security Officer, serta Media Officer.

Tidak hanya itu, jajaran staf kepelatihan di klub juga mesti jelas, dengan adanya pelatih kepala, asisten pelatih (terdiri dari pelatih fisik, pelatih kiper, dan asisten pelatih kepala), dokter klub, fisioterapis, pelatih tim muda, dan kepala akademi. Untuk pelatih kepala, minimal sudah punya lisensi A AFC.

Aspek keempat soal aspek legalitas klub. Klub harus memiliki pernyataan kepatuhan ikut kompetisi AFC. Tak hanya itu, klub juga harus memiliki badan hukum, ditopang oleh data kepemilikan klub yang jelas. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top