HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Akhiri pemalangan dengan lapor ke polisi

Aksi penyegelan terhadap SD Luar Biasa Anim Ha di Merauke – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Penerimaan siswa baru tidak bisa terlaksana karena sekolah dipalang pemilik lahan ulayat. Pihak sekolah pun akhirnya melaporkan penyegelan tersebut kepada polisi.

SERENTET pertanyaan dari para orang tua siswa membuat bingung Agus Sutarta. Dia juga belum bisa memastikan jadwal masuk untuk tahun ajaran baru di sekolahnya.

“Banyak orang tua menanyakan apakah kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan pada 15 Juli atau diundur. Saya tentu tak bisa memastikannya, mengingat sekolah masih dipalang (disegel) sampai hari ini,” kata Kepala Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Anim Ha Merauke tersebut, Sabtu (6/7/2019).

Penyegelan dilakukan oleh Saparuddin yang mengklaim sebagai pemilik lahan sekolah. Orang-orang Saparuddin mengelas pagar masuk dan memaku jendela serta pintu sekolah dengan papan dan balok melintang.

Loading...
;

Penyegelan dilakukan pada pertengahan bulan lalu, sewaktu sekolah libur. Namun, sebelum itu, setidaknya sudah tiga kali Saparuddin melakukan tindakan serupa. Dia menuntut pemerintah melunasi ganti rugi lahan yang kini ditempati sekolah.

“Pemalangan sudah berlangsung dalam beberapa pekan. Kami sangat menyayangkan tindakan pemilik ulayat itu,” ujar Agus.

Selain terhadap SDLB Anim Ha, penyelegelan juga dialami SMP dan SMA yang berada dalam satu komplek persekolahan di Jalan Nowari, Kelurahan Karang Indah. Akibat penyegelan itu, penerimaan siswa baru di ketiga sekolah tersebut pun tidak bisa dilaksanakan.

“Bagaimana (penerimaaan siswa baru) bisa berjalan, kami saja tidak bisa masuk karena sekolah dipalang pemilik lahan ulayat. Ini tentu memperihatinkan dan kami berharap besar pemerintah menyelesaikan secepatnya,” kata Agus.

Lapor polisi

Aksi penyegelan terhadap SD Luar Biasa Anim Ha di Merauke – Jubi/IST

Upaya mediasi yang dilakukan selama ini menemui jalan buntu. Pemilik lahan kembali menyegel sekolah dan menuntut ganti rugi kepemilikan.

Pihak sekolah telah melaporkan kejadian terbaru kali ini kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Merauke maupun Papua. Mereka kemudian menyarankan Agus untuk melaporkannya kepada polisi.

“Kami telah bertemu langsung dengan Kepala Polres Merauke. Pengaduan ini direspons cepat dan segera ditindaklanjuti. Senin ini, polisi akan turun ke sekolah untuk mengambil langkah lebih lanjut,” jelas Agus.

Agar kejadian itu tidak terus berulang, Agus berharap pemilik ulayat bisa bertemu dengan pihak sekolah pada hari yang sama. Kedua belah pihak harus mencari jalan keluar bersama untuk menyelesaikan perkara tersebut.

Ketua Komisi Pendidikan DPRD Merauke, Yeremias Moses Kaibu, juga mendesak pemerintah setempat bertindak tegas terhadap aksi penyegelan. Apalagi, aktivitas belajar bagi siswa berkebutuhan khusus tersebut bakal dimulai kembali dalam waktu dekat.

“Itu adalah fasilitas umum sehingga tak boleh ada pemalangan. Saya akan ikut berjuang agar palang dibuka, dan penerimaan siswa baru bisa dilaksanakan,” tegas Kaibu.

Sementara itu, Bupati Frederikus Gebze pernah berjanji akan mengoordinasikan permasalahan itu dengan Kepala Disdikbud Merauke Tiasony Betaubun. Dia berharap penyegelan segera diakhiri sehingga tidak mengganggu aktivitas belajar siswa.

“Saya belum mendapat laporan resminya, tetapi akan segera disikapi. Fasilitas umum itu tak boleh dipalang,” kata Bupati Gebze, beberapa waktu lalu. (*)

Editor: Aries Munandar

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top