Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Aksesoris adat pantang dikenakan sembarangan

Bupati Mathius Awoitauw (berkemeja puth) saat mengunjungi Kampung Entiyebo di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Senin (18/11/2019) – Jubi/Engelbert Wally

Papua No.1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Penggunaan aksesoris adat memiliki etika dan perlakuan khusus sehingga tidak bisa sembarang dikenakan oleh setiap orang. Saat ini, banyak pihak mulai mengabaikan ketentuan adat yang diwarisi secara turun-temurun itu.

“Pemasangan topi (bermahkotakan hiasan) cenderawsih sering digunakan dalam penyambutan tamu atau acara formal. Topi itu hanya untuk (boleh dikenakan) pria dengan jabatan penting di masyarakat, tidak bisa digunakan sembarangan,” kata Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, Selasa (19/11/2019).

Bupati Awoitauw mengingatkan bahwa sakralitas aksesoris adat harus dihormati dan dijaga dengan mempergunakannya sesuai fungsi maupun aturan. Itu lantaran aksesoris tersebut telah menjadi jati diri bagi masyarakat adat.

“Kami di pemerintahan (Kabupaten Jayapura) tidak lagi mengunakan (menabuh) tifa  saat membuka kegiatan. Penggunaan tifa itu juga tidak bisa sembarangan karena harus melalui persetujuan kepala suku,” kata Awoitauw.

Loading...
;

Tokoh Masyarakat Adat Sentani Boaz Enok menyatakan ada aksesoris tertentu yang tidak boleh dikenakan oleh siapa pun selain kepala suku. Salah satu aksesoris adat itu ialah topi bermahkotakan hiasan cenderawasih.

“Masyarakat biasa dengan mudah menggunakan topi cenderawasih, yang merupakan (aksesoris) kebesaran seorang kepala suku di berbagai kesempatan. (Kesalahan) ini sudah diperingatkan, tetapi masih saja dilakukan karena tidak memahami aturan adat-istiadat setempat,” kata Enok. (*)

Editor: Aries Munandar

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top