HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Aktivis KNPB di Merauke dianiaya aparat keamanan di depan Balita

Anggota KNPB dan Balita yang ditangkap di Merauke – KNPB Merauke for Jubi.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Seorang anak berusia lima tahun bersama sembilan aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Merauke ditangkap aparat Kepolisian Polres Merauke, Sabtu (23/2/2019) lalu.

Martina Yawon (5) ditangkap ketika sedang berjalan bersama sembilan orang anggota KNPB yang saat itu menggunakan pakaian berlogo Bendera Bintang Kejora (BK).

Aktivis, KNPB Wilayah Merauke yang membidangi Ketua Komisariat diplomasi KNPB Wilayah Almasu, Marius Kapeng mengatakan, penangkapan yang tiba-tiba terjadi membuat Martina Yawon yang masih berusia lima tahun menjadi trauma. Ia ketakutan akibat menyaksikan pemukulan dan penangkapan yang terjadi secara tiba-tiba.

“Dari Sekretariat kami ke Pasar baru, tempat penjualan pinang, kemudian kami makan pinang menuju pulang melalui jalan Brawijaya, masih mengenakan baju bermotif BK dan KNPB. Tetapi di situ juga ada mess Kopassus kurang lebih 50 meter jaraknya. Ternyata mereka sudah pantau kita dan kami dihadang oleh tiga orang anggota Kopasus yang menggunakan mobil ranger putih,” kata Marius kepada Jubi Senin (25/2/2019).

Loading...
;

Menurut Marius, ia dan rekannya yang lain dipaksa oleh tiga anggota Kopassus untuk membuka baju yang berlambang Bintang Kejora. Karena menolak, beberapa aktivis mendapat perlakuan kasar. Tak sampai di sana, mereka digelandang ke Polres dan kembali dipaksa membuka pakaian berlogo bintang kejora itu.

“Kami bertahan argumen karena dipaksa buka baju namun tidak terima, maka satu teman kami dicekik leher dan ditampar satu kali di wajah oleh satu oknum Kopassus. Setelah beberapa menit kemudian, mereka hubungi Polres Merauke dan tiga mobil Patroli datang menangkap kami dan dibawa ke Polres. Kami dipaksa tulis nama dan pakaian kami diambil, sesudah itu dipulangkan,” ujar Kapeng.

Menanggapi itu, Ketua I KNPB wilayah Merauke, Manuel Metemko menyayangkan adanya penangkan ini. Apalagi penangkapan dan penganiayaan tersebut dilakukan di hadapan Balita. Menurutnya, aparat keamanan Indonesia tidak bisa asal tangkap hanya karena pakaian.

“Kami dijamin oleh undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 Pasal 28 dan Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Maka tindakan aparat sangat-sangat berlebihan. Pola seperti ini perlu diubah agar tidak terulang kembali,” kesal Matemko.

Ia menganggap kebebasan berpendapat dan berekspresi di Papua sama sekali tak berlaku. Padahal, para aktivis tidak memasang bendera melainkan hanya menggunakan kaos berlogo bintang kejora. Ia mempertanyakan apa yang salah dari penggunaan kaos tersebut.

“Tidak ada demokrasi di tanah Papua. Kami diintimidasi oleh aparat. Kami (diintimidasi) khususnya masyarakat Papua yang ada di sini. Kami berharap aparat kepolisian harus profesional dalam tindakan,” katanya.

Sementara itu, Jubi sudah berusaha untuk mengkonfirmasi Kapolres Merauke, AKBP Bahara Marpaung. Namun hingga berita ini diturunkan, tak ada jawaban dari pesan yang dikirimkan oleh Jubi. (*)

 

Editor : Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top