Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Aktivis protes buku pelajaran di Fiji bantu stereotip ketidaksetaraan gender

Diagram dari Buku Latihan Healthy Living Pupil’s Kelas 8. – RNZI/Supplied

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Suva, Jubi – Buku pelajaran sekolah yang berisi pesan ’berbahaya’ sedang diedarkan di sekolah-sekolah Fiji, menurut seorang aktivis lokal.

Roshika Deo berkata perhatiannya teralih pada Buku Latihan Healthy Living Pupil’s Kelas 8 ketika dia membantu keponakannya bersiap untuk tahun ajaran yang baru. Deo berkata ia terkejut membaca ‘ekspektasi masyarakat’ yang terkandung dalam buku ini.

Buku itu berkata perempuan memainkan ‘peran sekunder’ tanpa memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan, dan harus ‘pasif’ di hadapan laki-laki sementara tidak terlalu blak-blakan.

Juga disebutkan dalam buku tersebut bahwa anak perempuan harus memperhatikan ‘penampilan’ mereka dan pada usia 15, ‘segera’ menikah. Selain itu, ada juga ekspektasi untuk mengerjakan tugas rumah tangga dan tinggal di rumah.

Menurut Deo, anak-anak kecil diajari bahwa perempuan itu di bawah standar di sekolah-sekolah di Fiji.

Aktivis HAM dan feminis itu, yang telah bekerja di seluruh wilayah Pasifik, termasuk untuk Amnesty International, menerangkan bahwa hasil penelitian menunjukkan penyebab utama kekerasan terhadap perempuan adalah ketidaksetaraan gender dan hubungan kekuasaan yang tidak seimbang. Deo berkata bahwa kurikulum ini mendukung penyebaran stereotip yang berbahaya.

Loading...
;

“Ini melanggengkan dan mengintensifkan ketidaksetaraan gender dan inilah yang mengarah pada kekerasan terhadap perempuan. Inilah yang mengarah pada budaya perkosaan. Inilah yang mengarah pada budaya menyalahkan korban dan hal-hal semacam itu yang menyebabkan perempuan dibunuh.”

Deo menerangkan anak laki-laki diberi tahu bahwa mereka lebih hebat daripada anak perempuan.

“Ini mengarah pada male entitlement. Memberitahu anak laki-laki bahwa mereka lebih hebat daripada anak perempuan, bahwa perempuan dan anak perempuan harus mendengarkan mereka, harus mematuhi mereka dan jika tidak, mereka memiliki wewenang untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan,” jelasnya.

Deo telah mengimbau Menteri untuk Perempuan dan Anak-anak tentang keprihatinannya melalui media sosial.

RNZ Pacific telah meminta komentar dari Kementerian Pendidikan dan dari Menteri Perempuan dan Anak-anak, Mereseini Vuniwaqa, tetapi belum menerima tanggapan apa pun. Awal bulan ini, Vuniwaqa meluncurkan Rencana Nasional untuk Mencegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak-anak Perempuan yang menyatakan negara itu sedang menghadapi krisis nasional.

Tahun lalu, 10 perempuan di Fiji meninggal karena KDRT. Menteri itu mengakui di hadapan media lokal bahwa tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di negara itu termasuk yang tertinggi di dunia.

Deo menegaskan ia menyambut baik sejumlah inisiatif yang telah diluncurkan pemerintah untuk mengatasi isu ini, tetapi terkejut bahwa materi ‘Healthy Living’ telah menjadi bagian dari kurikulum.

Deo menegaskan bahwa jutaan dolar dana pembangunan dan pemerintah yang dihabiskan untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, tidak akan berpengaruh jika orang-orang muda yang mudah dibentuk, diberikan materi yang ada saat ini. (RNZI)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top