Anak-anak Nduga jatuh pingsan kurang makan

Anak-anak Nduga jatuh pingsan kurang makan

Anak-anak perempuan merajut noken di sekolah darurat – Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

SUDAH sebulan anak-anak pengungsi konflik Nduga belajar di sekolah darurat yang dibangun di halaman gereja Kingmi Jemaat Weneroma, Ilekma, Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Meski sekolah darurat itu dikelola guru, relawan, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Nduga namun tidak memberikan jaminan kepada anak-anak di sana bisa bebas dari persoalan mendasar.

Persoalan kesehatan adalah masalah terbaru yang diketahui. Awal pekan lalu seorang murid jatuh pingsan saat belajar. Ternyata ia belum makan ketika pergi ke sekolah.

Mengetahui hal itu, pada Rabu, 6 Maret 2019, tim relawan bekerja sama dengan beberapa petugas kesehatan, termasuk dua dokter relawan, melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada seluruh anak.

“Anak yang pingsan di rumah hanya makan satu kali saja, jadi ketika tiba di sekolah dia pingsan,” kata Ence Geong, seorang relawan kepada Jubi di posko pengungsian, Kamis, 7 Maret 2019.

Hasil pemeriksaan kesehatan ternyata ada 37 anak sedang sakit. Namun 20-an anak tidak bisa dilayani karena tidak tersedia obat-obatan sesuai penyakit mereka.

“Obat yang kami sediakan juga dari beberapa relawan yang membantu kami, seperti obat batuk, pilek, tetapi tidak banyak juga, vitamin ditambah obat untuk pertolongan pertama jika terjadi luka, hanya itu yang kami punya,” katanya.

Ence menjelaskan kini sudah ada 613 anak tingkat SD, SMP, dan SMA di sekolah darurat, diajar 80-an guru, dan dibantu 17 orang relawan. Sekolah darurat tersebut masih kekurangan ruang kelas. Karena itu rencananya akan dibangun dua ruang kelas lagi.

Relawan kesehatan, dokter Ronny Oagay, yang memeriksa kesehatan anak-anak, mengatakan dari hasil pemeriksaan banyak anak yang mengalami sakit mag, batuk disertai flu, sakit kepala, dan cacingan.

Menurutnya, hal itu kemungkinan disebabkan kurangnya pasokan makanan yang cukup karena kemungkinan mereka hanya makan saat di sekolah yang disiapkan para relawan.

“Di pokso juga mereka kekurangan obat, memang kami ada rencana ingin membuat penyuluhan hidup bersih dan sehat kepada anak-anak, karena mereka ini sepertinya hanya makan satu kali saja sehari, yaitu pas di sekolah,” ujarnya.

Terlebih ketika di kampung mereka biasa mengkonsumsi makanan yang alami, sedangkan di pengungsian kemungkinan terlalu sering memakan mie instan.

Di posko dan sekolah darurat memang setiap anak diberikan makan siang. Namun dengan jumlah anak 613 untuk melayani mereka cukup berat karena kurangnya persediaan bahan makanan. Makanan dan obat-obatan ini persoalan besar bagi relawan.

“Anak-anak ini makan hanya sekali saja setiap hari sehingga kami mau tidak mau berjuang untuk memberi makan di sekolah,” kata Ence.

Untuk sekali masak membutuhkan 80-100 kg beras. Belum lagi sayur mayur dan kayu bakar.

“Karena itu kami mengemis di mana-mana meminta pertolongan ke berbagai pihak, jika ada pihak-pihak yang ingin membantu kami sangat senang, khususnya membantu kami di bahan pokok,” ujarnya.

Meski begitu Ence juga melihat dengan tidak mengurangi rasa beryukur atas bantuan yang selama ini telah diberikan untuk anak-anak pengungsi, sebenarnya bantuan mie instan yang saat ini berada di gudang mereka cukup banyak.

Untuk itu ia berharap jika akan ada bantuan dari pihak manapun, yang saat ini diperlukan anak-anak ialah beras atau lebih bagus lagi ubi (hipere), sayuran, dan juga kayu bakar.

“Jika terlalu banyak masak mie instan kami takut akan berpengaruh kepada kesehatan anak-anak sehingga kami tidak terlalu banyak masak menggunakan mie,” katanya.

Penyembuhan trauma

Selain melakukan pengobatan, tim relawan juga telah memulai melakukan trauma healing atau penyembuhan trauma bagi anak-anak di pengungsian.

Metode yang dilakukan ialah dengan menggelar sejumlah kegiatan maupun permainan olah raga seperti bola voli dan sepak bola. Selain itu, dilakukan juga merajut atau menganyam noken.

“Apa yang kami bisa buat kami sediakan, menganyam noken ini dilakukan sambil berbagi cerita tentang perasaan setiap anak setelah mengalami rasa trauma yang dirasa cukup berat bagi mereka, meski ada yang belum tahu membuat noken, kami ajarkan pelan-pelan,” kata Ence.

Elana Umangge, murid Kelas 6 SD Inpres Mbua yang berada di sekolah darurat mengaku senang bisa sekolah kembali, meski di pengungsian.

Ia mengaku lebih senang bersekolah di kampungnya, namun dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di luar jam sekolah, ia merasa senang.

“Isi waktu luang kita biasa buat noken, dari hasil membuat noken ini nanti kita bisa jual supaya bisa dapat beli sesuatu untuk makan,” kata Elena Umangge. (*)

Editor: Syofiardi

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)