Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Anak-anak pengungsi Gome sudah dua pekan tidak bersekolah

Anak para pengungsi di Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua. – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dalam dua pekan terakhir, anak-anak para pengungsi di Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua, tidak bisa bersekolah. Sejumlah guru di tiga sekolah dasar yang ada di Gome telah meninggalkan tempat tugas, demi menghindari penyisiran yang dilakukan aparat keamanan di delapan kampung yang ada Distrik Gome.

Sejak 24 Agustus 2019, aparat keamanan menyisir sejumlah kampung di Distrik Gome, mengejar kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Goliat Tabuni dan Anton Tabuni. Penyisiran itu seketika membuat 800 warga sipil dari Kampung Misimaga, Tegelobak, dan Kelanungin ke Kantor Klasis Gereja Kemah Injil Indonesia atau GKII di Kampung Yenggernok. Dari hari ke hari, jumlah pengungsi terus bertambah.

Relawan yang menangani para pengungi di Distrik Gome Kabupaten Puncak, Papua, Torius Tabuni menuturkan penyisiran aparat keamanan itu ternyata juga membuat para guru di tiga sekolah dasar di Distrik Gome telah mengungsi ke Ilaga, ibukota Kabupaten Puncak. Sejak 26 Agustus 2019, para anak pengungsi di Distrik Gome tidak bisa bersekolah.

Torius Tabuni menjelaskan di Distrik Gome terhadap dua SDK YPPK,  dan satu SD YPPGI. Sebelum terjadinya pengejaran aparat keamanan terhadap kelompok bersenjata di sana, seluruh guru ketiga SD itu aktif mengajar, dan proses belajar-mengajar berjalan lancar. “[SD di Gome] sudah tidak aktif setelah ada pengungsian, guru-gurunya tidak ada,” kata Torius Tabuni saat dihubungi di Yenggernok pada Rabu (4/9/2019) malam.

Loading...
;

Torius Tabuni menyatakan hingga Rabu pengungsi telah bertambah menjadi sekitar 2.000 warga yang berasal dari 11 kampung di Distrik Gome, dan ditampung di enam tenda darurat di Yenggernok. Ia berharap penyisiran aparat keamanan di Distrik Gome dapat segera diakhiri, agar para pengungsi dapat segera pulang ke kampungnya masing-masing.

“Saya berharap [dalam] dua-tiga hari mendatang ada kesepakatan dari kepala suku, tokoh agama, dan tokoh pemuda untuk memulangkan pengungsian ke kampung [masing-masing], agar anak-anak [mereka] bisa belajar seperti biasa,” katanya.

Salah satu hal yang membuat para pengungsi enggan kembali ke kampungnya masing-masing adalah peristiwa tertembaknya seorang pelajar SMP bernama Yul Magai (18). “Siswa kelas tiga SMP itu tertembak hendak ke sekolah tanpa menggunakan pakaian seragam. Ia meninggal dunia 28 Agustus 2019 di di Distrik Gome. Kami sangat menyayangkan tindakan itu,” katanya.

Seorang warga yang tidak bersedia disebutkan identitasnya menyatakan dari hari ke hari jumlah pengungsi di Kampung Yenggernok semakin bertambah. Ia berharap aparat keamanan segera ditarik dari Distrik Gome.

“Masyarakat [yang mengungsi] semakin hari semakin banyak. Di pengungsian mereka susah untuk mendapatkan makanan. [Kami berharap aparat keamanan ditaruk] agar [warga sipil] bisa bergerak bebas. Kami harap untuk Bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bicara untuk tarik pasukan, agar masyarakat bisa kembali ke kampungnya,” katanya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top