Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Anak muda Keerom diskusi dan nobar tiga film lingkungan

Suasana nonton bareng dan diskusi film dokumenter di Keerom, Sabtu, 19 Oktober 2019 – Jubi/Asrida

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Komunitas Papuan Voices Keerom dan Jayapura menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi tiga film dokumenter tentang isu lingkungan dan masyarakat adat.

Kegiatan itu dilakukan Sabtu malam, 19 Oktober 2019, pukul 7 malam sampai pukul 9 malam di balai Kampung Yamara, Distrik Manem, Kabupaten Keroom.

Anggota Papuan Voices Siska Manam melaporkan dari Keerom bahwa tiga film yang diputar berjudul “Tiga Puluh Tahun Su Lewat”, “Perempuan di Tanahnya”, dan “Untuk Novalinda dan Andreas”.

“Film-film tersebut adalah karya anak-anak muda Papua yang bergelut di dunia perfilman bergenre dokumenter,” tulis Siska Namam.

Diskusi yang digelar selama kurang lebih tiga jam itu dihadiri 60 orang, baik mama-mama, bapak-bapak, maupun orang muda dan anak-anak.

“Pemutaran ini diawali dengan doa, pengenalan komunitas dan alasan pemutaran film tersebut. Lalu dilanjutkan dengan acara inti. Suasana dalam pemutaran ini sangatlah santai,” katanya.

Loading...
;

Menurut Siska Manam, beberapa film yang diputar membuat penonton tertawa dan bertepuk tangan, bahkan sangat antusias. Dalam pemutaran tak ada satu orang pun yang meninggalkan tempat duduknya hingga pemutaran film dan diskusi selesai.

Tujuan pemutaran film ini adalah bagian dari pengapresiasian kepada para sutradara yang telah membuat karya-karya di tempat mereka. Beberapa film ini menunjukkan bagimana seorang perempuan berjuang dan bangkit dari kegagalan perusahan kelapa sawit dalam menyejahterakan masyarakat.

Selain itu, nobar dilakukan untuk membangun kesadaran kepada masyarakat, bahwa lingkungan, tanah dimana tempat mereka tinggal ini harus dijaga, sebab tanah ini memberikan kehidupan.

“Dan bagaimana kita sebagai perempuan ikut andil dalam menjaga tanah,” katanya.

Usai dua pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi bersama dengan para penonton. Salah seorang narasumber dari kampung tersebut adalah Amatus Toam

Beliau mengaku sangat berterima kasih karena komunitas Papuan Voices dapat mengadakan kegiatan ini. Menurut dia, kelapa sawit menghancurkan masyakat asli

“Bukan hanya sekadar sawit tapi juga transmigrasi, baik dari luar Papua maupun dalam Papua,” kata Toam.

“Dulu sebelum perusahaan masuk, kami hidup bersatu dengan alam, mencari ikan tidak susah, tapi sekarang su susah,” lanjutnya.

Beliau juga berpesan kepada para anak muda, untuk terus belajar dan menjaga tanah yang sudah sedikit ini, tapi juga menghindari minuman-minuman beralkohol, karena akan menghancurkan orang Papua. (*)

Reporter: Asrida Elisabeth

Editor: Timo Marten

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top