HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Anak muda OAP disiapkan menjadi tenaga perhotelan

Pemuda Papua mengenakan pakaian tradisional – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Menyambut PON 2020 Dinas Tenaga Kerja Kota Jayapura mempersiapkan anak muda OAP (Orang Asli Papua) sebagai tenaga kerja di bidang perhotelan.

Dinas Tenaga Kerja Kota Jayapura mempersiapkan anak muda, khususnya Orang Asli Papua (OAP) sebagai tenaga kerja terampil di bidang perhotelan dalam menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2020.

“Tahun ini yang kami latih sebanyak 40 orang dan 2020 kami juga siapkan 40 orang lagi, pelatihan dibiayai melalui dana otonomi khusus,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Jayapura, Djoni Naa, di Jayapura, Jumat, 9 Agustus 2019.

Menurut Naa, peluang kerja sangat besar untuk penyerapan tenaga kerja di sektor perhotelan seperti house keeping, receptionist, dan keahlian masak-memasak.

Loading...
;

Tujuannya untuk pengurangan pengangguran di Kota Jayapura, karena angka pengangguran atau pencari kerja sampai Juni 2019 sebanyak 10.022 orang. Di antaranya laki-laki 5.202 orang dan perempuan 4.820 orang. Usia mereka produktif 25-30 tahun dengan pendidikan sarjana dan SMA.

“Kami harapkan dengan pelatihan tersebut mereka bisa dimanfaatkan oleh perusahaan perhotelan sebagai tenaga kerja yang bisa melayani masyarakat yang datang ke Kota Jayapura, diharapkan juga nantinya menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Dijelaskan Naa, pembinaan kompetensi berupa pengetahuan terkait dengan perhotelan yang dibutuhkan adalah keterampilan dan pembinaan sikap perilaku dalam melayani tamu (masuk dan keluar) di depan pintu hotel.

Kepada warga yang sudah mengikuti pelatihan, Naa mengimbau hendaknya ilmu dan pengalaman yang sudah diperoleh dapat diaplikasikan sehingga menjadi lebih bermanfaat.

“Kalau OAP di setiap hotel pasti ada, 5-10 orang pasti ada OAP, memang minim kalau sektor perhotelan karena menyangkut bertahan dalam bekerja, kami prioritaskan OAP yang bermukim di 14 kampung, selain itu untuk menyiapkan di bidang perhotelan kami juga memberikan pelatihan operator komputer dan mengemudi,” katanya.

Jika dilihat sepintas, dunia kerja memang terlihat menyenangkan, apalagi bagi anak muda yang baru lulus SMA maupun perguruan tinggi.

Namun, masalah pekerjaan dewasa ini semakin kompleks, karena pertumbuhan pencari kerja cenderung tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan pekerjaan sehingga membuat naiknya angka pengangguran.

Terkait itu, Naa mengajak anak muda di Kota Jayapura untuk berwirausaha karena ke depan yang tidak terampil bisa tersisih.

“Untuk itu dibutuhkan pengetahuan, skill, dan sikap agar bisa bersaing, karena jumlah perusahaan sebanyak 526 tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja yang mencapai ribuan orang,” ujarnya.

Menurut Naa, tidak semua pencari kerja mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Para pencari kerja yang belum diterima bekerja agar tidak berputus asa. Apalagi, bekerja tidak harus di sektor formal.

“Tetapi juga bisa di sektor nonformal, banyak potensi yang bisa dikelola sehingga bisa menjadi pelaku wirausaha,” katanya.

Menurutnya warga di Kota Jayapura bisa menciptakan sendiri pekerjaan itu. Hanya saja banyak yang tidak mau karena takut mengambil resiko. Padahal, banyaknya jumlah pelaku wirausaha menandakan Kota Jayapura semakin maju dan berkembang.

“Ya, memang itu berat tetapi bukan berarti tidak bisa, yang penting kita punya tekad yang kuat, untuk mendorong warga mampu menciptakan lapangan kerja sendiri kami gencar melakukan pelatihan dan pendampingan komputer, mengemudi, pariwisata, dan perhotelan, melalui program tersebut warga dilatih untuk berwirausaha,” katanya.

Melalui pembinaan kewirausahaan, dikatakan Naa, dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada warga karena selama ini kendala yang dihadapi masyarakat adalah pengetahuan dan minimnya modal.

Dengan mengoptimalkan pembinaan kewirausahaan, katanya, masyarakat bisa menopang perekonomian diri sendiri dan keluarganya, selain membuka lapangan kerja bagi orang lain.

“Harapan kami, sebenarnya kalau bisa berwirausaha malah bagus supaya warga tidak selalu mengharapkan pekerjaan sebagai PNS,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Matias B. Mano, mengatakan sudah saatnya anak muda asli Papua diberdayakan agar tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri, karena PON nanti menjadi peluang besar masyarakat Papua mendapatkan pekerjaan.

“Tinggal dipoles lagi talenta anak-anak asli Papua, mulai dari tutur kata, etika, dan berpakaian, karena ini sangat penting dan harus dilakukan agar membuat pengunjung nyaman,” ujarnya.

Diakui Matias Mano, pihaknya mempersiapkan anak muda asli Papua melalui pelatihan pemandu wisata (guide). Upaya itu dilakukan dengan mendorong optimalisasi peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan, terutama etika, tutur kata, dan penampilan.

“Memang masyarakat lokal sudah mengusai tempat-tempat wisata tapi perlu pelatihan sehingga apa yang disampaikan tentang informasi sejarah masing-masing tempat wisata benar dan memberikan pemahaman yang baik kepada pengunjung,” ujarnya.

Warga Jayapura, Weli Wambauw, mengatakan jika berbicara kompetensi maka berwirausaha atau mandiri itu sebetulnya lebih baik. Hanya saja membutuhkan modal dan pengetahuan.

Perempuan yang bekerja di salah satu perusahaan swasta itu mengaku senang mendapatkan pekerjaan karena menjadi mandiri secara finansial dan menjalin banyak relasi baru.

Hanya saja, kata Wambrauw, menjadi seorang tenaga kerja memiliki realita, yaitu rutinitas yang membosankan, gaji yang terkadang tak sesuai ekspektasi, bersikap profesional, dan pekerjaan yang tak ada habisnya.

“Saya belum berani berwirausaha karena minim pengetahuan dan modal, saya akui sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk peningkatan ekonomi warga seperti program padat karya dan pelatihan komputer karena saya pernah ikut,” ujarnya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)