HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Antara revolusi mental, revolusi doa, dan revolusi harapan

Revolusi mental – Jubi/Setkab.go.id

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Geradus Wen

Bergerak cepat bila perlu sambil berlari mengejar ketertinggalan, keterlambatan, kemunduran, dan lain-lainnnya adalah makna revolusi. Santai, biasa-biasa saja dan bermental terima apa adanya dalam konsep revolusi sudah tidak mendapat tempatnya lagi.

Revolusi sudah pasti membongkar seluruh sisi zona nyaman pribadi yang suka bermental instan, suka malas, suka tipu, suka curi, suka mabuk, suka menang sendiri, suka dendam, suka iri, dan lain-lain.

Mentalitas negatif yang sudah pasti menghambat laju perubahan ke arah yang semakin positif, akan serta-merta tergerus dan terkikis oleh adanya gerakan revolusi mental yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Warga kaum tak bersuara, merasa nyaman, dan aman dengan revolusi mental, karena sering menohok sisi-sisi tertentu mentalitas kaum elite di NKRI.

Loading...
;

Revolusi mental yang dicanangkan oleh Jokowi terkesan kurang kentara hasilnya, namun ada yang nampak kuat di publik. Ada kaum elite yang sangat hebat menerjemahkannya dengan gerakan terjun langsung ke lapangan–mendengar keluhan warga, bekerja, dan hidup bersama warga beberapa saat, langsung menegur staf yang salah dalam bekerja, mencopot pejabat dari jabatannya, rutin memonitor rencana kerja, gemar membuat evaluasi, dan berusaha memperbaharui seluruh rencana yang salah, bahkan ada yang sudah berani memohon maaf kepada warga, atas semua kesalahan yang pernah dibuat.

Masih banyak lagi. Tapi poinnya bahwa ada banyak pejabat publik yang sudah hadir dan tampil dengan gagah memberi contoh hidup yang sangat baik kepada semua warga.

Warga sudah pasti berbangga dengan kaum elite seperti ini, dan sudah pasti pula mengutuk kaum elite yang suka santai, suka yang mewah, senang beretorika tapi susah dalam hal eksekusi/kerja, senang menyalahkan, tapi malas membimbing dan mengarahkan.

Lebih suka korupsi daripada berbagi. Lebih suka untung banyak  daripada merugi. Warga cerdas dengan sangat mudah menghakimi dan menghukum kaum elite, baik lewat media sosial, maupun ruang diskusi para warga.

Semua sudah pasti tahu tentang ini. Unsur insani, jasmani, dan ragawi lebih dominan menguasai kehidupan pribadi per pribadi.

Siapapun, sehebat apapun pasti selalu digoda oleh godaan tentang apa dan siapa. Ada banyak yang sudah mendengar tentang kaum elite kita yang masuk bui, terlibat dalam kegiatan asusila dan asosial.

Pasti semua miris mendengar hal ini. Mengapa? Doa belum dianggap sebagai benteng hidup pribadi. Berdoa masih sebatas rutinitas karena diajarkan. Belum menjadi spirit hidup pribadi tentang arti dan makna doa dalam kehidupan.

Romo Sindhunata pernah menulis dengan sangat baik tentang revolusi doa. Dapat disimpulkan bahwa Romo Sindhu berharap, terjadinya gerakan cepat tanggap dari pribadi per pribadi tentang apa, mengapa dan bagaimana seseorang harus berdoa dalam usaha mempertahankan hidup yang tetap, permanen, baik dan benar dalam seluruh arah gerak hidup pribadi, kelompok, masyarakat, dan bahkan dalam bernegara.

Gerakan ini perlu dengan masif dilakukan, sehingga Allah yang selalu dimuliakan dan diimani bahwa pasti terjadi itu Emanuel. Berdoa sudah pasti adalah urusan pribadi, hakiki pribadi per pribadi namun efeknya selalu nampak hadir di publik.

Berdoa dengan sikap, cara, dan penuh pemaknaan secara baik dan benar sudah pasti menentukan kualitas hidup seseorang dalam relasi sosialnya. Lex orandi, lex credendi et lex (con) vivendi (bagaimana berdoa, tidak hanya menentukan bagaimana kita beriman tetapi bagaimana kita hidup bersama).

Apalah artinya ketika suka atau gemar berdoa, sering kampanye adil dan sejahtera tapi suka menghujat orang lain, ingin membunuh sesama, iri dan dendam dengan orang lain, eksklusif dan memonopoli kebenaran sendiri, suka produksi hoaks dan ujaran kebencian?

Apa dan siapa yang dicari dalam kehidupan ini? Dalam doa yang berusaha selalu dengan cara yang baik dan benar pasti ada jawabannya. Yakin Emanuel itu selalu ada.

Tak ada kata terlambat, tak ada kata menyesal yang tidak bermakna. Bertobat dan selalu ingin berbalik ke arah yang baik dan benar adalah harapan siapapun dan ada–dimiliki oleh siapapun jua.

Terus berdebat, berargumentasi untuk pembenaran diri terkadang tidak diperlukan dalam usaha rekonsiliasi batin dan pemurnian diri. Semua selalu berharap ada progres perubahan mental dimulai dari diri sendiri. Menyembul, menyembur, bahkan mengalir mengisi sisi ruang dan waktu semua yang ada di alam semesta.

Simbiosis mutualisme kehidupan seyogyanya hadir dan masif menjadi gerakan bersama demi keutuhan kehidupan alam semesta ini tetap lestari dan terjalin dengan baik.

Dum spiro spero, selama masih bernafas pasti selalu ada harapan. Harapan yang bermuara pada hadirnya sejuta SDM Indonesia yang bermental pemenang dan bukan pecundang, bermental Pancasila sejati dan bukan bermental hipokrit, munafik seolah-olah pancasilais.

Optimistis bahwa revolusi mental, revolusi doa, dan revolusi harapan masih terus hadir dalam suasana dan nuansa Indonesia maju membangun. (*)

Penulis adalah PNS di Dinas  Pendidikan Kabupaten Mappi, Papua

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top