Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Apakah kava merupakan jawaban untuk ekonomi lokal Vanuatu?

Kava adalah minuman yang sangat populer di Pasifik Selatan. – BBC/Sarah Treanor dan Vivienne Nunis

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Sarah Treanor dan Vivienne Nunis

Saat itu adalah sore yang lembab seperti biasa di Port Vila, ibu kota Vanuatu, negara kepulauan yang tersebar sepanjang ratusan mil di Samudra Pasifik.

Jangkriknya bersuara keras, nyamuk mencari mangsa untuk digigit, dan di bar kecil-kecilan, seorang perempuan Ni-Vanuatu menyendok cairan serupa berlumpur ke dalam mangkuk plastik kecil. Cairan yang dituangkan adalah kava, yang merupakan campuran air dan bubuk dari akar tanaman kava yang telah dihancurkan.

“Kalian harus meminum semuanya sekaligus… mulut dan lidah kalian akan mati rasa,” jelas Dr. Vincent Lebot, seorang ahli kava terkemuka di dunia. Awalnya berasal dari Prancis, ia telah menetap di Vanuatu selama beberapa dekade.

Loading...
;

Ada lampu di atas gerbang masuk bar itu, mengisyaratkan kepada pelanggan bahwa kava masih dijual. Ketika persediaan terbatas untuk hari itu habis, lampu tersebut akan dimatikan.

Bar itu, atau disebut nakamal, bernama Last Flight – karena lokasinya yang berada di belakang bandara utama negara itu. Bar ini terkenal di kalangan pekerja-pekerja berseragam dan sepatu bot berat, dengan suasana beer garden yang sangat tenang.

Namun tidak ada minuman beralkohol lainnya yang dijual di sini, hanya ada kava. Pelanggan langsung meneguknya, terkadang mereka berkumur dengan air untuk membantu menetralkan rasanya, dan kemudian meludahkannya. Mereka yang mendukung kava berkata minuman tersebut mengurangi kecemasan, membantu tidur, dan bahkan dapat membuat peminumnya merasa sedikit gembira. Kritikus berkata kava itu berbahaya, dan ini dilarang di Uni Eropa.

“Kava adalah minuman yang sangat suci di seluruh Pasifik,” jelas Dr. Lebot. Di Vanuatu, kava sering kali dinikmati oleh kepala-kepala suku dalam pertemuan-pertemuan penting, seraya membahas urusan-urusan lokal. Itu akan diminum dari batok kelapa. “Kepala-kepala suku akan meminum kava supaya mereka dapat berkomunikasi dengan leluhur mereka,” jelasnya.

Namun belakangan ini, konsumsinya telah menjadi lebih umum. Sebagian besar keluarga-keluarga di Vanuatu tahu mengenai kava dan menanamnya di pekarangan di sekitar rumah mereka. Meskipun dulunya perempuan dilarang untuk meminum kava, modern ini di ibu kota Port Vila, hal ini telah menjadi lebih umum, meskipun sebagian besar perempuan dari daerah pedesaan masih menjauhi kava.

Dr. Lebot berharap cairan yang rasanya unik, asam, dan berwarna seperti tanah liat ini dapat menarik perhatian dunia, dan dapat mendatangkan pemasukan yang sangat dibutuhkan oleh Vanuatu.

Ekspor kava telah berulang kali dicoba sebelumnya, tetapi tidak pernah berakhir seperti yang direncanakan. Dr. Lebot menjelaskan bahwa kava sekarang dibatasi, bahkan dilarang, di sebagian besar negara Uni Eropa, setelah ekstrak kava yang sempat naik pamor dalam bentuk suplemen, tetapi lalu dinyatakan tidak aman untuk dikonsumsi. Dr. Lebot menegaskan bahwa ketika dipersiapkan dengan cara yang tepat, ketika akar kering itu ditumbuk menjadi pekat dan dicampur dengan cairan, itu ‘sangat aman’.

Ia lalu membahas mengenai bar kava yang baru-baru ini mulai bermunculan di beberapa daerah paling trendi di New York. Jadi apakah kava bisa benar-benar memiliki daya tarik global?

Salah satu masalah yang dihadapi Vanuatu, dalam mencapai mimpinya untuk memodernkan industri kava di negara itu, adalah bahwa budi daya tanaman ini dilakukan secara ad-hoc.

Dan McGarry, seorang asal Kanada yang mengelola surat kabar lokal – dan seorang penikmat kava – menjelaskan bahwa di Pulau Pentecost, di mana tanaman itu seringkali dibudi-dayakan, orang-orangnya hanya memiliki parang untuk menumbuhkan tanaman kava.

Ia menceritakan bahwa setelah siklon tropis di negara tetangga, Fiji, baru-baru ini, permintaan pasaran atas pasokan Vanuatu telah naik dan harga kava juga meningkat.

“Kepopuleran kava telah berdampak cukup besar pada ekonomi lokal di sini,” terangnya.

Namun, McGarry berkata bahwa hal ini juga menyebabkan intimidasi dan perilaku kartel, ketika petani-petani yang lebih besar mencoba mengendalikan harga pasar.

Anne Pakoa, seorang tokoh masyarakat di Vanuatu, khawatir. “Kita sedang menghadapi situasi di mana kava telah menghancurkan keluarga-keluarga. Perempuan juga meminum kava, dan beberapa bar kava juga digunakan menjadi pusat prostitusi.”

Pakoa bercerita bahwa bahkan ada kasus di mana keluarga-keluarga meninggalkan anak-anak mereka tanpa pengawasan, untuk pergi dan meminum kava, dan rumah keluarga itu lalu terbakar. “Sekarang Kava banyak menyebabkan masalah. Konsumsinya telah berubah dari seremonial menjadi harian,” katanya.

Dengan rancangan kebijakan pemerintah Australia baru-baru ini untuk melonggarkan larangan impor kava, banyak perkebunan kava di Vanuatu sudah mulai meningkatkan produksinya.

Nicole Paraliyu membawa kita keliling di sekitar perkebunan kava yang ia kelola, sepetak besar lahan, dikelilingi oleh hutan hujan yang lebat. Kebun itu biasanya digunakan untuk menanam cendana, tetapi baru-baru ini mereka juga mulai menanam kava. Paraliyu berkata perkebunan seperti ini memiliki potensi untuk mendatangkan pemasukan yang sangat diperlukan oleh penduduk setempat. “Orang-orang bisa tinggal di pulau-pulau ini, daripada pergi mencari pekerjaan di luar negeri,” tuturnya.

Saat kita mencari tempat berlindung dari hujan badai tropis di dekat gudang kava di perkebunan itu, ini penuh dengan akar kava yang mengering. Ada aroma yang tajam, seperti jahe yang kuat dan apek.

Jadi, apakah ia pernah mencoba meminum kava? ‘Tidak, tidak sama sekali,” katanya, tergelak.

Kembali di laboratorium Dr. Lebot di Kementerian Pertanian Vanuatu, dia menunjukkan kepada kita berbagai campuran ramuan dan ekstrak, seraya menjelaskan tentang peluang untuk menggunakan beberapa efek anti-kecemasan yang disebabkan oleh tanaman itu, dan bahkan aspek-aspek yang menekan nafsu makan. Tujuannya adalah untuk menjual akar kava yang dihancurkan sebagai bubuk, yang lalu dapat dicampur dengan air, dan disaring untuk membuat minuman.

“Tidak adil kalau kava itu ilegal di beberapa belahan dunia,” tambahnya. “Vanuatu memiliki produk kava yang baik, dan ini sangat penting bagi kami. Hal ini disalah-pahami.”

Kembali di Last Flight, Dan McGarry setuju. “Sulit untuk menampik dampak transformasi yang akan dibawa bagi ekonomi lokal di pulau-pulau terpencil. Ini hanya bisa dianggap sebagai hal yang positif,” tekannya. (BBC News)


Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top