Aparat keamanan diminta tidak mengedepankan penggunaan senjata

Aparat keamanan diminta tidak mengedepankan penggunaan senjata

John NR Gobai berkunjung ke Wagete, Kabupaten Deiyai, pada Kamis (23/5/2019) serta bertemu Simon Mote dan Markus Mote, dua kerabat almarhum Yulianus Mote yang tewas karena tertembak polisi pada Selasa lalu. – John NR Gobai/Dok Pri

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –  Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Laurenzus Kadepa meminta aparat keamanan yang bertugas di Papua tidak mengedepankan penggunaan senjata ketika menangani masalah yang terjadi di masyarakat. Hal itu disampaikan Kadepa menyikapi kasus Waghete di Kabupaten Deiyai, Papua, yang menyebabkan satu warga tewas tertembak dan seorang lainnya terluka pada Selasa (21/5/2019) lalu.

Kadepa mengingatkan masyarakat Papua hingga kini masih menyimpan trauma mendalam terhadap aparat keamanan. Trauma itu disebabkan rangkaian kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di masa lampau. “Penggunaan senjata dalam persoalan di masalah di Papua tidak akan menyelesaikan masalah, dan justru akan memicu masalah baru,” ujar Laurenzus Kadepa, Minggu (26/5/2019).

Penembakan dan amuk massa yang membakar markas Polsek Tigi pada Selasa lalu bermula ketika empat pemuda yang mabuk mencegat dan memalak mobil yang melintas di dekat SMP YPPK Waghete. Sopir yang menolak dipalak mengadu ke Polsek Tigi, sehingga sejumlah polisi mendatangi lokasi itu.

Baca juga: Ketua BMDS minta Kapolda Papua menindak Kapolsek Tigi

Kronologi versi polisi menyatakan Melianus Dogopia merupakan salah satu dari empat pemuda mabuk yang mencegat dan memalak mobil yang melintas di Waghete. Dogopia sempat dibawa pergi keluarganya, namun kemudian kembali ke lokasi pemalakan dengan membawa panah, dan merusak mobil polisi. Polisi mengaku telah memberikan tembakan peringatan yang tidak dihirauakan Dogopia, sehingga polisi menembak kaki Dogopia.

Penembakan terhadap Dogopia itulah yang menimbulkan amuk massa yang akhirnya membakar markas Polsek Tigi pada Selasa petang, dan menghancurkan empat mobil di halaman markas Polsek Tigi. Yulianus Mote tewas tertembak ketika polisi menghalau massa pasca terbakarnya Polsek Tigi.

Laurenzus Kadepa mengkritik cara polisi menangani persoalan di Waghete itu. Kadepa menyatakan jika aparat  keamanan hadir untuk mengayomi masyarakat, seharusnya aparat keamanan mengedepankan pendekatan persuasif untuk menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.

Baca juga: Wagete mulai aman, Yulianus Mote dimakamkan di depan markas polsek

“Jangan sedikit-sedikit menggunakan senjata. Jangan seperti itu, masih banyak cara-cara lain menyelesaikan masalah di masyarakat. Saya ini orang asli dari wilayah Meepago. Saya lahir dan dibesarkan di wilayah itu. Saya tahu karakter masyarakat saya dan bagaimana aparat keamanan menghadapi masyarakat ketika ada masalah,” kata Laurenzus Kadepa

Secara terpisah Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal mengatakan tidak mungkin polisi menembak masyarakat tanpa alasan. Pasti ada alasan sehingga tindakan itu diambil oleh anggota polisi yang bertugas di lapangan.

Baca juga: Polda Papua turunkan tim untuk selidiki penembakan yang tewaskan warga Deiyai

Hingga kini Polda Papua masih menunggu hasil penyelidikan tim yang diturunkan ke wilayah itu dan dipimpin beberapa perwira utama Polda Papua itu. “Tim masih di sana. Kan ada beberapa titik peristiwa. Tim mencari apakah tindakan anggota polisi di lapangan sudah sesuai prosedur, dan apakah benar anggota polisi di lapangan dalam situasi terancam sehingga melepaskan tembakan,” kata Kombes Pol. A.M. Kamal.

Anggota polisi yang berada di tempat kejadian perkara menurutnya, akan diperiksa untuk mengetahui kronologis yang sebenarnya terjadi. “Masalah seperti ini mesti di dalami. Tidak langsung menyalahkan anggota yang berada di lapangan saat itu,” ujarnya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)