HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Aparat pemerintah Indonesia sebut orang asli Papua “monyet”

Demo masyarakat sebagai aksi solidartas kepada mahasiswa Papua di Jawa yang mendapatkan perlakuan rasis, yang sedang berjalan menuju kantor Gubernur Papua – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Santon Tekege

Indonesia pertahankan Tanah Monyet Papua

Keinginan orang-orang monyet (binatang) Papua untuk melepaskan diri dari orang-orang baik (manusia) Negara Kesatuan Republik Indonesia itu sangatlah sulit. Papua lepas dari NKRI itu harus dikubur sedalam-dalamnya menurut pandangan orang Indonesia.

Pasalnya, Tanah Monyet Papua itu adalah pulau yang kaya raya sumber daya alamnya. Orang-orang baik alias (manusia yang baik) Indonesia diyakini tak akan pernah mau melepaskan Tanah Monyet Papua. Indonesia masih pertahankan pulau orang-orang monyet itu.

Loading...
;

Dalam berbagai kesempatan, Indonesia (manusia yang baik dan sejati itu), selalu saja menggunakan aparat militernya untuk menumpas orang-orang monyet. Manusia (Indonesia) mengedepankan represif militernya untuk mempertahankan tanah-tanah monyet yang ada di dalam pulau Papua alias pulau monyet itu. Pendekatan militer itu akan menghasilkan apa yang disebut kekerasan dan konflik di tanah Papua.

Pemerintah Indonesia itu suka sumber daya alam Papua. Sebaliknya orang Indonesia tidak suka orang-orang Monyet dari pulau itu. Ia lebih memilih sumber daya alamnya dibanding orang-orang monyet itu. Kapan dan di mana pun, Indonesia tetap memilih sumber alamnya dan orang-orang monyet harus distigma, dipenjarakan, diintimidasi dan dipukul, diskriminasi, dan ditembak/dibunuh habiskan supaya terjadi pendudukan orang-orang Indonesia di seluruh Tanah Papua.

Menarik perhatian internasional

Setiap kali orang-orang monyet ingin keluar dari manusia (Indonesia) itu sering terjadi kekerasan dan konflik di Tanah Monyet Papua. Akibatnya dari represif militer itu akan mengorbankan orang-orang monyet di Tanah Papua. Justru karena adanya represif militer itu, isu Papua Merdeka telah menarik perhatian dunia Internasional. Begitu pun menjamin dukungan dari LSM-LSM luar negeri.

Banyak pihak baik dalam negeri maupun luar negeri mendukung orang-orang monyet Papua keluar dari manusia (Indonesia) untuk menentukan nasib sendiri di Tanah Papua. Orang-orang asli Papua merasa bahwa Indonesia sudah lama menindas dan dijajah di Tanah Papua. Dan Indonesia telah berhasil mendudukkan Papua bagian yang tak terpisahkan.

Untuk kepentingan penjajahan itu, Indonesia katakan Orang asli Papua adalah orang-orang monyet. Orang asli Papua itu bodok, orang Papua itu binatang. Orang asli Papua itu tidak memiliki perasaan, orang asli Papua itu tidak memiliki harkat dan martabat di negara Indonesia. Tetapi orang Indonesia adalah manusia-manusia yang baik, Indonesia itu benar, dan orang indonesia itu memiliki perasaan, Indonesia itu memiliki harkat dan martabat. Justru karena stigma dan rasis itu, Orang Asli Papua terasa asing di negara Indonesia ini.

Dari semua itu, orang Papua mengalami banyak pengorbanan dan intimidasi bahkan terjadi rasisme dari negara Indonesia. Termasuk dalam persoalan status politik Papua, pelanggaran HAM, konflik dan kekerasan, diskriminasi terhadap orang Papua, dan masalah rasis yang dialami orang asli Papua itu menjadi perhatian dunia Internasional.

Anggapan pemerintah Indonesia terhadap orang Papua

Pemerintah Indonesia justru menganggap orang asli Papua seperti binatang monyet, binatang kera, bodoh, dan rasisme lainnya di negara ini. Karenanya, pemerintah Indonesia dalam mendekati orang-orang monyet Papua menggunakan pendekatan represif militer kekerasan dan konflik di Tanah Papua.

Rasisme terhadap orang asli Papua “monyet” untuk mendudukkan Tanah Papua. Sebutan itu bukan menjadi tanda pelepasan Papua dari Indonesia. Sebutan itu justru mengkhianati NKRI sendiri.

Indonesia berkata kita satu bangsa Indonesia tapi dianggap musuh, binatang kera, dan binatang monyet. Indonesia berkata orang asli Papua itu monyet sepanjang masa. Sementara Indonesia sendiri bilang orang-orang monyet Papua tidak bisa dilepaskan dari NKRI di Tanah Papua. Tetapi orang-orang Monyet Papua berkata kami orang-orang monyet sudah lama menjadi sebuah bangsa West Papua. Karena itu, kami bukan monyet.

Orang Papua merasakan bahwa kami orang-orang monyet sedang dijajah oleh Indonesia di negeri ini. Untuk semua masalah-masalah Papua harus diselesaikan melalui jalan dialog.

Perlu adanya dialog internasional

Dari dulu 1963 sampai sekarang 2019, Indonesia dan Papua adalah dua pihak yang bertikai terus selama ini. Malah kedua belah pihak selalu pertahankan pikiran masing-masing tanpa duduk bersama untuk membicarakan semua persoalan Papua. Kedua pihak ini juga tidak mau mencari solusi perdamaian antara Indonesia dan Papua.

Demi kehidupan yang layak dan damai, dibutuhkan dialog. Dialog itu penting untuk menyelesaikan semua persoalan yang terjadi di Tanah Papua. Dalam dialog itu harus bicara menyeluruh entah persoalan terkait pelanggaran HAM, kekerasan dan konflik, diskriminasi terhadap Orang asli Papua, masalah rasis terhadap orang asli Papua, termasuk masalah status politik West Papua yang menyimpan dan menjadi sumber akar masalah di Tanah Papua selama ini.

Salah satu jalan terbaik untuk menyelesaikan semua masalah di West Papua adalah jalan dialog Internasional antara ULMWP dan Indonesia. ULMWP dan Indonesia harus duduk bersama untuk membicarakan dan menyelesaikan semua masalah West Papua. Jadi dialog tersebut harus difasilitasi oleh pihak ketiga entah negara independen atau lembaga PBB. (*)

Penulis adalah pastor dari Keuskupan Timika, Papua

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top