Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Arkeolog temukan batu fragmen keramik di Raja Ampat

Ilustrasi, lukisan kuno di sebuah gua di Raja Ampat – Jubi/flickr

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Srici Yulan Sukandar, menemukan kapak batu dan fragmen keramik dari China dan Eropa di Raja Ampat bagian utara, Papua Barat.

“Saya ketua satu penelitian di wilayah perbatasan di Pulau Vani di Raja Ampat bagian utara. Di sana kami mencoba menggali potensi arkeologi,” kata Srici di Jayapura, akhir pekan lalu.

Menurut dia, pihaknya menemukan kapak batu dan fragmen-fragmen keramik. Fragmen keramik itu berasal dari China dan Eropa.

Menurut dia, tulisan di fragmen keramik itu diketahui dari bagian bawahnya karena ada cap tulisan metenholand.

Loading...
;

Dia melanjutkan, ada juga alat dari kerang, dan alat dari tulang. Pihaknya juga menemukan beberapa situs gua di daerah itu yang cukup potensial untuk digali kembali.

“Jadi saya ada rencana juga untuk tahun depan itu kembali ke sana dan mengadakan penelitian,” ujarnya.

Ia menambahkan Pulau Vani merupakan salah satu pulau terluar di wilayah perbatasan bagian utara Raja Ampat, Sorong, Provinsi Papua Barat, namun akses ke pulau itu cukup sulit.

Gencarkan publikasi

Balai Arkeologi saat ini juga gencar mempublikasikan penelitian melalui video guna memperkenalkan apa yang dikerjakan oleh arkeologi kepada masyarakat umum.

“Kini sementara berupaya mempublikasikan pekerjaan arkeologi ke publik atau masyarakat umum,” kata Srici.

Untuk itu, kata dia, Kementerian Pendidikan melalui Pusat Penelitian Arkeologi Nasional juga digenjot untuk publikasinya.

“Jadi, tahun ini kita dituntut untuk membuat sebuah video mengenai proses penelitian dari awal sampai akhir, sebab penelitian arkeologi itu bisa dikatakan cukup menarik karena melakukan penelitian di tempat-tempat yang aksesnya susah dan belum diketahui oleh kebanyakan manusia. Kita juga menempuh lokasi penelitian itu cukup sulit, kalau boleh dibilang ekstremnya itu bertaruh nyawa,” ujarnya.

Selain publikasi melalui video penelitian, kata dia, pihaknya juga berupaya mempublikasikan apa itu Arkeologi melalui jurnal Arkeologi.

“Kalau jurnal Arkeologi itu kayaknya agak berat dibaca oleh masyarakat umum, jadi kita juga akan membuat buku-buku yang disesuaikan dengan kalangan pendidikan,” kata dia.

Situs Karawar di Pulau Roon

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Papua bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Teluk Wondama, Papua Barat di Pulau Roon, berhasil menemukan situs penguburan prasejarah Karawar.

Peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, di Kota Jayapura, awal pekan ini, mengatakan situs Karawar berada di lereng tebing Kampung Syabes, Distrik Roon.

“Situs Karawar berupa ceruk yang di dalamnya terdapat lima tengkorak dan tulang-tulang manusia,” katanya.

Pada masa prasejarah, ungkap dia, di Teluk Wondama dikenal dua jenis penguburan yaitu penguburan primer dan penguburan sekunder.

“Pada penguburan primer, mayat dibaringkan di para-para kayu yang berada di dalam hutan, dibiarkan begitu saja untuk beberapa waktu hingga kulit dan daging mengelupas tinggal tulang,” katanya.

Setelah menjadi tulang, lanjut dia, maka dilanjutkan dengan penguburan sekunder.

“Tulang dan tengkorak dikumpulkan, selanjutnya disimpan di lubang tebing atau ceruk disertai dengan bekal kubur gerabah,” katanya.

Tradisi penguburan prasejarah ini, kata alumnus Universitas Udayana Bali itu, berakhir setelah agama Kristen masuk di Teluk Wondama pada 1884.

“Pada tahun itu, agama Kristen yang diajarkan oleh pendeta Gottlieb Lodewyk Bink dari Belanda mulai masuk dan hal itupun mulai ditinggalkan,” kata Hari. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top