HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Awan panas gunung Merapi meluncur sejauh 950 meter

Erupsi gunung api, pixabay.com

“Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi lebih kurang selama 95.80 detik,”

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan awan panas guguran erupsi Gunung Merapi terjadi pada Rabu, pukul 04.52 WIB, mencapai 950 meter ke arah hulu Sungai Gendol.

“Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi lebih kurang selama 95.80 detik,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Agus Wibowo dalam keterangan tertulis, Rabu, (14/8/2019).

Berita terkait : Gunung Merapi kembali meletus Kamis dini hari

Loading...
;

Gunung Merapi meletus, warga diimbau tidak beraktivitas di radius dua kilometer dari puncak

Gunung Merapi luncurkan guguran lava

Gunung Merapi yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu, ditetapkan status level II atau Waspada sejak (21/5/2018).

“Beberapa hari sebelumnya, gunung itu mengalami erupsi tidak menerus,”kata Agus menambahkan.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi mencatat melalui rekaman seismograf pada 10 Agustus 2019 terjadi 10 kali gempa guguran, satu kali gempa embusan, satu kali gempa “low frequency”, satu kali gempa hybrid/fase banyak dan dua kali gempa tektonik jauh.

Badan Gelologi merekomendasikan kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

Selain itu, radius tiga kilometer dari puncak Merapi agar dikosongkan dari aktivitas warga. Masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana III dimohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas vulkanik Gunung Merapi.

Kawasan Rawan Bencana III merupakan kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lava, lontaran bom vulkanik. Di kawasan itu, siapa pun tidak direkomendasikan untuk membuat hunian tetap dan memanfaatkan wilayah untuk kepentingan komersial.

“Otoritas setempat memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti rekomendasi dari pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi,” kata Agus menjelaskan. (*)

Editor : Edi Faisol

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)