Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Babel pecahkan rekor tari campak

Ilustrasi tari ballet, pixabay.com

Pada jaman penjajahan Bangsa Portugis, tarian ini kemudian mengalami akulturasi budaya.

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Pangkalpinang, Jubi – Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berhasil memecahkan rekor museum rekor indonesia (MURI) dengan menampilkan tari campak yang diikuti 1.854 pelajar. Tari campak diikuti pelajar se – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu dilakukan berpasang-pasangan.

“Awalnya untuk rekor MURI ini ikuti 1.400 pelajar, namun setelah dihitung lebih yang mencapai 1.854 pelajar,” kata Manager MURI, Triyono, Selasa, (30/4/2019).

Baca juga : Pemuda Sorong galang dana untuk Sentani dengan tarian adat

Loading...
;

SDN 1 Hamadi rutin ajarkan tarian Yosim dan Pancar

Tarian tradisional warnai pembangunan Gereja Entrop

Menurut Triyono, pemecahan rekor MURI tari campak atau tari pergaulan masyarakat Babel ini tergolong unik karena tidak ada di daerah lain. “Kami memberikan apresiasai, tradisional khas Babel, diangkat kembali ke generasi muda,” kata Triyono menambahkan.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan, mengapresiasi seluruh pelajar yang sukses menarikan tarian campak itu. “Ini merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat Bangka Belitung,” kata Djohan.

Ia menyebutkan tari campak merupakan tarian tradisional dari daerah kepulauan Bangka Belitung yang menggambarkan keceriaan dalam pergaulan remaja. Tarian ini biasanya dibawakan oleh para penari pria dan wanita dengan ekspresi dan gerakan yang menggambarkan kegembiraan.

“Tarian campak ini biasanya dipentaskan dalam acara-acara seperti penyambutan tamu besar, pernikahan dan lain-lain,”kata Djohan menjelaskan.

Baca juga : Festival BMW VI, parade tarian Wor dan Yospan di sepanjang jalan Kota Biak

Sanggar Sinifagu Sorong ciptakan tarian Obor Asian Games

Sejarah tari campak berasal dari kepulauan Riau, kemudian dibawa dan dikembangkan di Bangka Belitung oleh seorang bernama Nek Campak, sehingga tarian ini dikenal dan sering disebut tari campak.

Pada jaman penjajahan Bangsa Portugis, tarian ini kemudian mengalami akulturasi budaya. Percampuran budaya ini sangat terlihat dari gerakan, kostumnya, dan musik pengiringnya yang memiliki kesan gaya Eropa.

Walaupun begitu, budaya lokal juga masih melekat pada tarian ini, hal ini terlihat pada kostum penari pria, alunan pantun dan beberapa musik pengiringnya yang merupakan gaya Melayu. (*)

Editor : Edi Faisol

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top