HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Bahasa dan kata-kata, ‘senjata’ bagi seorang jurnalis

Foto bersama puluhan para jurnalis Merauke dan Kepala Balai Bahasa Papua serta pejabat dari Kominfo Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

SEHUBUNGAN dengan penyuluhan Bahasa Indonesia yang diselenggarakan Balai Bahasa Papua dan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang berlangsung selama dua hari terhitung dari tanggal 8-9 Agustus 2019,  belasan jurnalis media cetak dan elektronik, diundang mengikuti kegiatan dimaksud.

Pelaksanaan kegiatan difokuskan di Aula Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Merauke dengan menghadirkan dua pemateri yakni Kepala Balai Bahasa Papua, Suharyanto serta Siswanto. Sejumlah materi diberikan selama dua hari berturut-turut.

Kepala Seksi Layanan Informasi Dinas Komunikasi dan Informatikan Kabupaten Merauke, Ratna, dalam sambutannya mengatakan pihaknya menyambut baik ajakan Balai Bahasa Papua untuk melaksanakan penyuluhan Bahasa Indonesia bagi para jurnalis.

Bangsa Indonesia, menurutnya, terdiri dari beragam bahasa dan suku yang dipersatukan dalam satu bahasa yakni Bahasa Indonesia. Olehnya harus dipahami secara baik dan benar oleh semua orang, termasuk kalangan jurnalis.

Loading...
;

Dikatakan, wartawan adalah komponen pers yang bertugas mencari dan mempublikasikan informasi kepada khalayak. Bagi seorang jurnalis, bahasa adalah senjata dan kata-kata adalah peluru.

Seorang jurnalis tak bisa melumpuhkan kekuatan, pikiran, dan suasana hati maupun gejolak perasaan masyarakat jika tak menguasai secara baik dan benar Bahasa Indonesia. Jurnalis  harus memiliki amunisi baik dan memadai dengan menguasai kosa kata, ejaan, pilihan kata, maupun paragraf.

“Kegiatan yang dilaksanakan hari ini, merupakan sarana paling tepat untuk membekali para  jurnalis di Kabupaten Merauke agar memiliki kemahiran berbahasa Indonesia. Seorang wartawan yang mahir Bahasa Indonesia akan mampu mengubah masyarakat ke arah lebih baik,” ujarnya.

Ratna mengharapkan agar belasan jurnalis yang mengikuti kegiatan dimaksud, senantiasa memahami materi yang diberikan. Sehingga nantinya dapat diterapkan ke redaksi masing-masing.

Kepala Balai Bahasa Papua, Suharyanto, mengatakan tegaknya demokrasi di negara ini, tak hanya ditentukan oleh sejauhmana lembaga-lembaga penyokong berjalan seperti partai politik maupun NGO. Tetapi juga peran dari lembaga pers.

Artinya, sejauhmana seorang jurnalis dapat melaksanakan fungsi artikulasi masyarakat dan mampu menyampaikan peran kontrol, sejauh itu pula demokrasi akan berjalan baik.

Oleh karena pentingnya lembaga pers, maka rakyat telah memberikan kewenangan secara khusus dalam UU Nomor 40 Tahun 2009. Dengan UU itu, kemerdekaan pers lebih terjamin keberadaannya.

Pers nasional, katanya, secara tegas bertugas melaksanakan peranaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi tepat, benar, dan akurat.

“Kenapa saya garis-bawahi, karena tanpa informasi kurang tepat, dapat menimbulkan hal-hal kurang berkenan di tengah masyarakat. Peran pers adalah menumbuhkan situasi kondisi di masyarakat dan memegang peran penting,” ujarnya.

Pers juga, lanjut dia, berhubungan langsung dengan fungsi kebahasaan. Dalam kaitan dengan itu, maka Balai Bahasa Papua mengajak para jurnalis kooperatif dalam bertukar pikiran agar informasi yang disampaikan, dapat dikemas dalam bahasa sesuai kaedah dalam Bahasa Indonesia.

Dengan pengemasan kalimat sesuai kaedah Bahasa Indonesia, diharapkan informasi yang disampaikan dapat sampai ke masyarakat sekaligus direspons.

Melalui tulisan setiap hari dari seorang jurnalis, masyarakat akan terpengaruh dengan penggunaan bahasa.

“Saya berharap melalui kegiatan ini, teman-teman jurnalis dapat melakukan penulisan secara cermat, teliti, dan sesuai kaedah dalam Bahasa Indonesia baik kaedah ejaan, pemilihan kata, penyusunan kalimat, maupun paragraf,” katanya.

Dengan terciptanya bahasa yang tertib, martabat Bahasa Indonesia akan semakin meningkat.

Tahun 2009 silam, telah diundangkan UU Nomor 24 Tahun 2009 yang di dalamnya mengatur Bahasa Indonesia. Salah satu yang diamanatkan yakni peranaan fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

“Ada beberapa faktor yang didorong menjadi bahasa internasional yakni dari sisi jumlah penutur. Sesungguhnya Bahasa Indonesia memiliki penutur sangat besar. Dalam negeri saja sesuai data BPS sekitar 265 juta. Lalu dari jumlah itu, sekitar 245 juta adalah penutur Bahasa Indonesia aktif.

“Kita tahu bersama bahwa di daerah Jawa, masih terdapat penduduk di atas usia 50 tahun, belum mampu berbahasa Indonesia secara baik. Sehingga jumlahnya mengalami penurunan,” ujarnya. (*)

Editor:  Yulan Lantipo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top