Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Bahasa Indonesia dipelajari di sejumlah negara

Pengajar BIPA Balai Bahasa Papua, Yulius Pagappong, ketika promosi bahasa dan kuliner Indonesia di PNG – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Bahasa Indonesia sudah dibuka menjadi program studi di delapan negara, yaitu Kanada, Jepang, Australia, Korea Selatan, Ukraina, Suriname, dan Hawai.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Papua, Suharyanto, mengatakan pada bagian keempat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 dan bab 7 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 diamanatkan mengenai peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

Ada dua tujuan utama dari peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Pertama adalah untuk menunjukkan jati diri bangsa Indonesia dan meningkatkan daya saing bangsa.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang mendorong untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia itu sebagai bahasa internasional.

Loading...
;

“Karena memang bahasa Indonesia sendiri sudah memiliki beberapa modal yang bisa digunakan sebagai bahasa internasional,” ujarnya.

Pertama dari sisi jumlah penutur. Seperti diketahui bersama bahwa bahasa Indonesia di dalam negeri sendiri sudah memiliki penutur setidaknya 265 juta penduduk Indonesia.

“Itu baru jumlah penutur yang ada di Indonesia. Selain penutur yang ada di dalam negeri, penutur bahasa Indonesia itu juga berasal dari diaspora Indonesia yang ada di luar negeri itu jumlahnya berkisar antara 7 sampai 8 juta orang,” katanya.

Selain dari diaspora Indonesia, kata dia, saat ini bahasa Indonesia itu setidaknya sudah diajarkan di 45 negara dan diajarkan kurang lebih 250 lembaga yang ada di 45 negara tersebut.

Selain diajarkan sebagai materi pembelajaran, di delapan negara bahasa Indonesia itu juga sudah dibuka sebagai sebuah program studi.

“Jadi kalau tadi di 45 negara dengan 250 lembaga baru diajarkan, tetapi untuk yang delapan negara memang sudah dibuka program studi bahasa Indonesia. Di sana memang secara khusus mempelajari mengenai bagaimana seluk beluk kaidah-kaidah yang ada di dalam bahasa Indonesia dan sastranya,” ujarnya.

Delapan negara tersebut antara lain Kanada, Jepang, Australia, Korea Selatan, Ukraina, Suriname, dan Hawai.

“Jadi itu tadi di delapan negara sudah dibuka program studinya, modalnya utamanya adalah dari sisi jumlah penutur,” katanya.

Di PNG 500 siswa pelajari bahasa Indonesia

Selain delapan negara tadi, Papua Nugini (PNG) juga mempelajari bahasa Indonesia. Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK), Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengutus Yulius Pagappong untuk mengajar 500 siswa di ST. Paul Lutheran Secondary School, Distrik Wapenamanda, Provinsi Enga, PNG.

“Selain mengajarkan bahasa Indonesia untuk Level A1, saya pun berusaha memperkenalkan budaya, kuliner, lagu, dan tarian Indonesia dan juga memperbaiki citra Indonesia sejak tahun lalu,” kata salah satu pengajar BIPA Balai Bahasa Papua, Yulius Pagappong.

Menurut Yulius, sebagian besar siswa dan guru di sana hanya mengenal Bali. Beliau membawa peta dan menunjukkan bahwa Indonesia terdiri atas lima pulau besar, sekitar 17.504 pulau, dan 668 bahasa daerah, tapi dipersatukan oleh satu bahasa, yakni bahasa Indonesia.

“Kami sangat menjunjung bahasa persatuan kami, sehingga mampu mengikat persatuan dan kesatuan 260 juta penduduk Indonesia” kata Pagappong.

Kala itu, dia mengajar 500 siswa Grade IX, 25 guru, 2 staf perpustakaan, dan 2 staf distrik. Mereka bersemangat mempelajari bahasa Indonesia. Mereka sangat haus dengan buku, kamus, video, dan artikel tentang Indonesia.

Untuk mengatasi hal tersebut, Yulius telah menyiapkan beberapa video dan film dokumenter tentang Indonesia, pendidikan di Indonesia, tingkat pendidikan di Indonesia, bahkan seragam yang dipakai di setiap jenjang pendidikan. Mereka semakin penasaran untuk berkunjung ke Indonesia. Yulius juga membagikan aplikasi kamus luring Bahasa Indonesia – Bahasa Inggris.

Dari 500 siswa yang belajar bahasa Indonesia, 60 persen sangat tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia, bahkan selama enam bulan, mereka sudah dapat berkomunikasi. Mereka berharap program BIPA ini dapat dilanjutkan atau dibuat satu kelas, khusus bahasa Indonesia.

Hal yang paling berkesan bagi Yulius adalah setiap pagi, siang, dan sore, guru dan siswa saling menyapa menggunakan bahasa Indonesia, bertanya tentang keadaan, bahkan meminta untuk diajarkan lagu dan tari Indonesia.

Selain itu, ketika siswa melihat Yulius di jalan atau di pasar, mereka berteriak “Pak Bahasa, Pak Bahasa”. Ada kebanggaan tersendiri dalam hidupnya, bahwa ada simbol negara yang dibawa ke PNG, yakni bahasa.

Bahasa pengantar di ST. Paul Lutheran Secondary School adalah bahasa Inggris. Namun, sebagian besar siswa masih berbahasa Tok Pisin, bahasa kedua terbesar. Dalam sistem abjad Tok Pisin, tidak ada huruf “C” dan “R” sehingga sangat lucu ketika Yulius mengajarkan materi prapengajaran tentang abjad Indonesia.

Semua siswa tertawa terbahak-bahak ketika menyebutkan kedua huruf tersebut. Untuk mengingatkan pemelajar, dia menggunakan kata caca, cici, cucu, cece, coco, rara, riri, ruru, rere, roro sehingga mudah dihafal. Yulius menggunakan kapur tulis di papan tulis dan menyiapkan sendiri penghapus.

“Kita ingat waktu sekolah dulu di kampung, guru-guru kita menulis pakai kapur. Itulah yang saya alami di sana,” katanya.

“Ya, (bahasa Indonesia) sedang digalakkan. Di UPNG, KBRI ada kelas bahasa dan beberapa sekolah,” kata Yulius kepada Jubi Kamis. (*)

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top