Bangladesh akan pulangkan korban perdagangan orang dari Vanuatu

Bangladesh akan pulangkan korban perdagangan orang dari Vanuatu

Gereja-gereja Advent di Port Vila telah mengunjungi 101 korban itu dua kali setiap bulan sejak Februari. – DVU/ Vanuatu Mission of Seventh-day Adventists

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Port Vila, Jubi – Pemerintah Bangladesh berupaya untuk memulangkan 101 warganya, yang menjadi korban perdagangan orang yang berada di Vanuatu, setelah mereka datang karena dibujuk dengan janji pekerjaan yang tidak kunjung terwujud, menurut seorang pejabat pemerintah di Bangladesh, Rabu lalu (10/4/2019).

Para korban, termasuk di antaranya dua anak di bawah umur, telah tertahan di negara Kepulauan Pasifik terpencil itu sejak November tahun lalu, ketika empat orang ditangkap dengan tuduhan, dan hanya dapat bertahan hidup berkat pemberian bantuan dan ransum.

Informasi mengenai mereka mulai muncul bulan lalu, dan pemerintah Bangladesh telah meminta komisi tinggi terdekatnya di Australia, untuk memverifikasi apakah benar mereka merupakan warga Bangladesh.

“Mereka akan mengirim suatu tim ke Vanuatu dan memulai proses verifikasi secepatnya,” kata pejabat kementerian dalam negeri, Abu Bakar, kepada Thomson Reuters Foundation, menerangkan bahwa itu adalah langkah awal dalam membawa mereka kembali.

Semua warga Bangladesh, dua di antaranya berusia di bawah 18 tahun, telah ditunjuk sebagai saksi dalam persidangan empat tersangka yang telah menyangkal tuduhan tersebut.

Ke-101 korban itu semuanya laki-laki, dan berkata mereka ditipu oleh sejumlah perantara di Tangail dan Barisal di Bangladesh, yang mendatangkan mereka ke Vanuatu melalui India, Singapura, dan Fiji selama dua tahun terakhir.

Diiming-iming dengan janji pekerjaan di Vanuatu dan Australia, mereka berkata telah menjual properti mereka, bahkan mengambil pinjaman senilai hingga $20.000, untuk membayar para pelaku.

Harun Or Rashid, salah satu dari 101 korban, ragu mereka bisa pulang sesegera mungkin, karena peran mereka dalam prosesi persidangan.

“Kami telah memberi tahu LSM-LSM setempat, bahwa kami ingin bekerja dan mendapatkan uang karena kasus ini mungkin akan berlangsung cukup lama,” katanya, melalui telepon dari Vanuatu.

Para korban saat ini hidup dari dukungan pemerintah lokal, badan amal setempat, dan badan migrasi PBB. (Daily Post/Thomson Reuters Foundation)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)