HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Banjir bandang: Masyarakat adat Kampung Sereh akan nyatakan sikap

Bongkahan kayu besar yang memadati ruas jalan raya dekat Kantor Bupati Gunung Merah Sentani – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Jayapura, Jubi – Ondofolo Besar Kampung Sereh, Yanto Eluay mengatakan pihaknya dalam waktu dekat akan menyatakan sikap untuk mengawasi semua aktivitas masyarakat di kawasan cagar alam siklop.

Dirinya juga mengatakan bahwa pernyataan sikap ini akan melibatkan semua komponen masyarakat adat yang ada di Bumi Kenembai Umbai. Baik dari suku Sentani sendiri sebagai pemilik hak ulayat tetapi juga dari sejumlah suku yang mendiami kaki gunung Siklop (Cycloop).

Dijelaskan pernyataan dan kesepakatan ini bertujuan untuk menghentikan semua aktivitas masyarakat yang merusak alam dan lingkungan.

Baca Juga:

Loading...
;

69 sembilan orang masih proses pencarian

Bupati Jayapura: Go Adipura dan Pon XX tetap berjalan

“Jadi bencana alam saat ini murni karena kerusakan alam, secara kusus kawasan Siklop yang selama ini kita sebut-sebut sebagai mahakarya tuhan bagi kita,” ujar Yanto eluay yang juga aktif sebagai Ketua Fraksi Golkar dan anggota DPR Kabupaten Jayapura saat dihubungi di Sentani. Minggu (17/3/2019).

Yanto juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pemerintah yang telah berkali-kali disampaikan untuk seriusi penaganan kawasan cagar alam Siklop. Tetapi hal tersebut tidak ditanggapi dengan serius.

Menurutnya, kawasan cagar alam Siklop akan diawasi dan ditinggali hanya oleh masyarakat Kamung Sereh. Selain masyarakat Kampung Sereh harus nyatakan sikap untuk menjaga dan turut mengawasi terhadap pelestarian kawasan cagar alam.

“Apa yang kepala suku sudah bicara lalu tidak direspon maka dampaknya akan seperti ini, tetapi ke depannya pemerintah daerah harus lebih tegas dalam menyikapi kondisi dan persoalan alam yang saat ini sedang kita gumuli secara bersama,” katanya.

Sementara itu, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw meminta kepada semua masyarakat adat setempat untuk tidak lagi menjual tanah dengan sembarangan.

“Hutan Sagu seperti di kampung nendali, harapan, dan sejumlah tempat yang dulunya banyak ditumbuhi tanaman sagu sudah tidak ada. Sekarang ini kita juga tidak bisa saling melempar kesalahan serta menuding yang tidak-tidak, saatnya kita secara bersama berbenah diri dan kembalikan apa yang menjadi potensi kita untuk dapat dibanggakan,” katanya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top