Batasi kekerasan daring, Facebook perketat siaran langsung

Batasi kekerasan daring, Facebook perketat siaran langsung

Ilustrasi, pixabay.com

Jenis pelanggaran juga akan diperluas untuk dikenai skors seperti itu

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

San Fransisco, Jubi  – Perusahaan Facebook menyatakan telah memperketat aturan siaran langsung menjelang pertemuan dengan para kepala dunia. Langkah itu  untuk membatasi kekerasan daring sebagai buntut dari pembunuhan massal di Christchurch, Selandia Baru.

Tercatat pada 15 Maret lalu seorang terjadi penembakan brutal yang menewaskan 51 orang di dua masjid di kota Christchurch, pelaku menyiarkan langsung aksinya melalui Facebook.

Berita terkait : Percakapan Facebook ungkap blok koalisi Vanuatu labil

Facebook akui lamban cegah menyebarkan ujaran kebencian di Myanmar

Dampak penutupan sementara Facebook di PNG meluas

Kejadian tersebut merupakan penembakan terburuk yang pernah dialami Selandia Baru pada masa damai dan memicu seruan agar perusahaan-perusahaan teknologi berbuat lebih banyak untuk melawan ekstremisme melalui layanan mereka.

Dalam pernyataannya, Facebook mengatakan memperkenalkan kebijakan “satu-pukulan” untuk Facebook Live, dengan mempersempit untuk sementara akses bagi orang-orang yang ditertibkan karena melanggar aturan perusahaan di semua situsnya.

Pelanggar pertama kali akan diskors untuk menggunakan siaran langsung dalam jangka waktu tertentu. Jenis pelanggaran juga akan diperluas untuk dikenai skors seperti itu.  Facebook tidak menyebut secara khusus pelanggaran-pelanggaran seperti apa yang patut mendapat kebijakan “satu pukulan” atau berapa lama penangguhan akan diberlakukan.

Baca juga : Dampak penutupan sementara Facebook di PNG meluas

Gambar bermuatan kekerasan meningkat di Facebook

Tak mungkin pemerintah Indonesia blokir Facebook

Seorang juru bicara mengatakan aturan baru, menyebutkan seorang penembak tidak akan mungkin bisa menggunakan akunnya untuk mengunggah siaran langsung. Facebook berencana memperluas wilayah pengetatan baru dalam beberapa pekan mendatang, mulai dengan mencegah orang yang sama untuk membuat iklan di Facebook.

Selain itu, akan mendanai suatu penelitian di tiga perguruan tinggi tentang teknik pelacakan media yang dimanipulasi, yang sulit dilakukan oleh sistem Facebook setelah serangan Selandia Baru terjadi.

Facebook telah menghapus 1,5 juta video secara menyeluruh yang berisi gambar-gambar serangan dalam 24 jam setelah kejadian. Perusahaan itu mengatakan dalam sebuah unggahan di blog pada akhir Maret bahwa pihaknya telah mengidentifikasi lebih dari  900 ragam berbeda dari video tersebut. (*)

Editor Edi faisol

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)