HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

BBKSDA dan IKA SKMA Papua tanam pohon di Dosay

Ilustrasi. Pengunjung menuju lokasi hutan lindung di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Papua dan Ikatan Alumni (IKA) Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) menanam sebanyak seratusan pohon dan melepasliarkan dua ratus lebih satwa di Kampung Dosay, Kabupaten Jayapura, Sabtu (10/8/2019).

Aksi tanam 100 bibit pohon dan melepasliarkan dua ratusan lebih satwa itu guna memperingati Hari Konservasi Alam Nasional yang biasa diperingati pada 10 Agustus tiap tahun.

Kepala BBKSDA Provinsi Papua, Edward Sembiring, mengatakan kedua aksi tersebut melibatkan Dinas Kehutanan Kabupaten Jayapura, Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Jayapura, dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura.

“Ikut pula Pramuka Saka Wana Bhakti, Komunitas Reptil Jayapura, warga, pemuda dan pelajar dari Kampung Dosay. Jadi, kegiatan ini lebih kepada memperingati Hari Konservasi Alam Nasional dengan mengajak dan mengedukasi semua pihak untuk tanam pohon dan melindungi satwa dengan melepasliarkan kembali ke alam,” katanya.

Loading...
;

Menurut dia, satwa liar seharusnya hidup di alam terbuka, bukan dipelihara meski ada mekanisme untuk pemanfaatannya. Misalnya, buaya bisa dimanfaatkan dengan cara izin penangkaran dan juga hewan lainnya.

“Intinya kami ingin mengajak semua pihak untuk bersinergi, melengkapi dan berkolaborasi untuk konservasi alam ini dan kepada pihak terkait, seperti pemerintah, gereja, adat, dan agama, bisa bersama-sama untuk melakukan hal yang baik bagi alam,” katanya.

Edward menjelaskan satwa atau hewan yang dilepasliarkan adalah satu ekor burung nuri, satu ekor burung kaka tua jambul kuning, dua ekor kadal Panama, 230 kadal mata merah dan ular.

“Kami juga mau sampaikan terima kasih kepada Satgas Pamtas RI-PNG dari Yonif PR 328/DGH yang sudah membantu menjaga perbatasan dan menyerahkan satwa kepada kami, juga kepada komunitas reptil atau lainnya termasuk Pemerintahan Kampung Dosay yang sudah berkenan mendukung kegiatan ini,” kata Edward.

Ketua Pengda IKA SKMA Provinsi Papua, Ridwan Atmojo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian dari pihaknya terhadap pelestarian flora dan fauna khususnya di Papua.

“Pada kesempatan ini, kami ikut melepasliarkan satwa dan tanam pohon, sehingga kami sampaikan terima kasih kepada BBKSDA Papua yang sudah melibatkan IKA SKMA,” katanya.

Ia mengaku IKA SKMA di seluruh Papua memiliki anggota kurang lebih 400 orang yang tersebar di berbagai tempat atau instansi yang ada di Bumi Cenderawasih.

“Intinya kami siap mendukung yang namanya pelestarian flora dan fauna. Mari kita bersama-sama lindungi dan lestarikan alam kita,” kata Ridwan.

Sementara Kepala Cabang Dinas Kehutanan Kabupaten Jayapura, Clemens Ayomi ,yang juga mewakili Dinas Kehutanan Provinsi Papua sangat mendukung aksi tersebut.

“Memang keinginan kami, bukan saja menjaga hasil hutan kayu tetapi ada fauna yang juga perlu diperhatikan. Meski pimpinan kami tidak hadir tetapi kegiatan ini sangat baik. Kami sepakati soal sinergitas untuk pelestarian flora dan fauna di Papua,” katanya.

Hewan dan tumbuhan dimusnahkan

Sementara itu, sehari sebelumnya, Jumat (9/8/2019), Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura memusnahkan sejumlah hewan dan tumbuhan yang coba diselundupkan oleh oknum warga tanpa disertai persyaratan atau dokumen lengkap.

Pemusnahan itu dilakukan di Distrik Abepura, Kota Jayapura, yang disaksikan oleh perwakilan dari Polsek KPL Jayapura, dan sejumlah tamu undangan.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura, Muhlis Natsir, memgatakan pemusnahan itu sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 16 tahun 1992 Tentang Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan. Salah satu tugas karantina adalah ada tindakan pemusnahan.

“Yang kita musnahkan hari ini, itu karena tidak sesuai persyaratan perundangan undangan karantina hewan, ikan, dan tumbuhan. Komoditas tersebut adalah unggas berupa burung kenari 3 ekor, pleci 1 ekor, trucukan 3 ekor, merpati 2 ekor, ayam filipina 1 ekor, ini dimasukkan ke Jayapura tanpa dilengkapi dokumen dan tidak ada jaminan kesehatan dari daerah asal masuk ke Papua,” katanya.

Kemudian beberapa komoditas karantina tumbuhan seperti kayu gaharu seberat 500 gr, kemudian sarang semut 1,25 k dan bibit tanaman pisang 1 batang.

“Ini juga tidak dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan dan tidak dilaporkan ke petugas karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran. Nah, setelah dilakukan penahanan kemudian dilakukan penolakan 1×24 jam, sehingga kita lakukan pemusnahan pada hari ini,” katanya.

Tindakan pemusnahan tersebut, kata dia, merupakan tugas dan fungsi dari karantina dalam mencegah masuk dan tersebarnya serta mencegah keluarnya dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terutama di Provinsi Papua.

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, sebagai garda terdepan itu tentunya butuh bantuan kerja sama dan koordinasi dari pihak terkait, baik di pelabuhan, bandara, perbatasan dan kantor pos,” katanya.

Muhlis menambahkan pemusnahan tersebut merupakan kali kedua, sebelumnya telah dilakukan pada 14 Juni 2019. (*)

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top