Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Belajar melalui permainan tradisional

Peserta didik SMP Negeri 1 Jayapura melestarikan permainan tradisional – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Setiap zaman memiliki karakter yang khas. Setiap karakter dibatasi zaman. Tidak ada yang salah dari metamorfosa permainan anak-anak.

Bukan pada bentuk permainannya, tapi nilai apa yang didapatkan saat memainkannya. Game online misalnya, ada banyak game edukasi yang tak kalah mengasyikkan dan menggiurkan, yang bisa membantu anak dalam pembelajaran.

Permainan tradisional sendiri tak kalah penting, seperti congklak, engklek, petak umpet, gobak sodor, gasing, yoyo, bola bekel, lompat tali, ular naga, dan masih banyak lagi. Tidak disayangkan jika permainan tradisional yang serat nilai itu nantinya benar-benar hilang.

“Namun, kelestarian permainan tradisional akan terjaga jika kita sebagai guru mau memanfaatkannya dalam konteks pembelajaran,” kata Purnama Sinaga, Kepala SMP Negeri 1 Jayapura di SMPN 1 Jayapura, Kamis, 3 Oktober 2019.

Loading...
;

Keberhasilan sebuah pembelajaran, katanya, tidak hanya ditentukan oleh tingginya pendidikan seorang pendidik. Namun tersedianya sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang bekerhasilan pendidikan.

Permainan tradisional dimainkan dengan rasa senang, terjalin kebersamaan dan kekompakan. Yang salah sekatang bukan bentuk permainannya, tapi orientasi pengambilan nilai dari permainannya.

“Jadi, mari kita flashback, kita buka satu per satu, kita temukan materi apa yang paling cocok dengan masing-masing permainan, kita tidak bisa memaksa anak-anak menyukai permainan-permainan kuno itu, kita tidak perlu berpikir keras mencari cara agar anak memilik permainan itu dibanding game yang biasa dimainkan anak sekarang,” katanya.

Purnama mengatakan bermain merupakan salah satu hak anak. Salah satunya adalah permainan tradisional yang mampu mengajarkan keterampilan penting terhadap daya tahan tubuh, kerja sama, dan kreativitas.

“Selain media pembelajaran di luar kelas, memanfaatkan permainan tradisional dalam mendidikan anak juga sebagai pelestariannya seperti yang dilakukan SMP Negeri 1 Jayapura,” ujarnya.

Menurut Purnama, pembelajaran di SMP Negeri 1 Jayapura tidak hanya bersifat teoritik tetap juga dapat mengenalkan media pembelajaran dengan menggunakan permainan tradisional.

Dalam permainan tradisional memiliki nilai-nilai pengetahuan yang seharusnya dilestarikan khususnya oleh seorang guru dalam pembelajaran, sekalipun pada kenyataanya permainan tradisional sedikit demi sedikit ditinggalkan.

“Permainan tradisional salah satu bagian terbesar dalam kerangka yang lebih luas, yaitu kebudayaan sehingga membantu siswa dalam meraih prestasi,” ujarnya.

Media pembelajaran dengan permainan tradisional, dikatakan Purnama, bisa memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar. Misalnya, permainan gasingan, layangan, yoyo, parasut, dan menggunakan kayu.

“Dengan bermain permainan tradisional anak akan menentukan upaya perkembangannya sesuai dengan apa yang dimilikinya, bagi anak, permainan dapat dijadikan sebagai kegiatan serius sekaligus mengasyikkan,” katanya.

Purnama berharap dengan adanya permainan tradisional yang digunakan sebagai aktivitas pembelajaran, siswa tidak merasa cepat bosan dalam mengikuti aktivitas pembelajaran pendidikan di sekolah.

“Sekolah memiliki peran penting dalam membantu setiap peserta didik untuk mampu mengekspresikan dirinya agar menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Siswi SMP Negeri 1 Jayapura, Ferdinanda Sayori, mengaku sangat antusias ikut dengan permainan tradisional karena merupakan salah satu aktivitas pendidikan jasmani yang mengandung unsur-unsur melempar, memukul, berlari, dan melompat.

“Sangat senang karena memperkenalkan permainan yang sudah lama dan mengembangkannya kembali, manfaat yang saya dapat dari permainan tradisional, yaitu sportivitas, kejujuran, kecermatan, kelincahan, ketepatan, dan kemampuan kerja sama kelompok,” ujarnya.

Senaga Sayori, Kuntari Gumilang mengatakan di zaman sekarang ini, kebanyakan anak seusianya lebih memilih game online sebagai sarana hiburan bila dibandingkan dengan permainan tradisional.

Sayori berharap dengan permainan tradisional peserta didik di SMP Negeri 1 Jayapura bisa mengenal berbagai jenis permainan sehingga tidak dilupakan, karena sangat penting menjaga permainan tradisional.

“Sangat senang, kalau permainan tradisional dijadikan sebagai media pembelajaran, dengan begitu permaianan tradisional tetap dilestarikan,” katanya.

“Saya berharap anak-anak di zaman ini tidak melupakan permainan tradisional untuk menjaga warisan permainan bangsa Indonesia agar tetap eksis di masa mendatang,” katanya.

Menurut Kuntari, permainan tradisional dapat memotivasi peserta didik untuk tetap semangat dalam menjalani segala bentuk pembelajaran di sekolah sehingga tidak ketinggalan mata pelajaran.

“Kalau sudah diperkenalkan harus dilaksanakan agar tetap lestarim permainan tradisional sangat penting dilestarikan, kalau bukan kita siapa lagi, mari lestarikan permainan tradisional,” ujarnya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top