Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Belasan perempuan dan anak di PNG tewas

Kasus ini menunjukkan terbatasnya sumber daya bagi kepolisian negara itu, menurut pengamat. – ABC News/AAP/Lloyd Jones

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Karida, Jubi – Setidaknya 16 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, meninggal dunia di Kampung Karida, Senin lalu (8/7/2019), setelah konflik suku yang telah berlangsung beberapa dekade di wilayah pegunungan tinggi di negara Pasifik itu kembali pecah.

Polisi belum dapat memastikan jumlah korban tewas yang terbaru ke ABC news, dengan beberapa laporan menyatakan ada sekitar 18 korban jiwa. Setidaknya dua perempuan yang terbunuh diyakini sedang mengandung.

Ahmad Hallak, kepala misi Komite Internasional Palang Merah ICRC di Papua Nugini, mengungkapkan kepada ABC bahwa penggunaan senjata telah menyebabkan lebih banyak korban dalam perang suku.

“Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa adanya senjata modern, membuat persoalan ini menjadi lebih buruk,” katanya.

Loading...
;

“Konflik antarsuku adalah suatu bagian dari sejarah; hal itu sudah berlangsung sejak dulu. Namun, di masa lalu, karena menggunakan busur dan anak panah (dan) tombak, peperangan yang terjadi jauh lebih terbatas.”

“Dengan adanya senjata modern, hal ini sudah tidak lagi terjadi, dan kita telah menyaksikan dampak kemanusiaannya yang sangat mirip dengan yang terjadi di Irak, Suriah, Afganistan.”

Motif di balik pembantaian massal ini masih belum diketahui, namun para pejabat percaya kejadian itu bisa jadi dipicu tindakan balas dendam, untuk perang suku baru-baru ini yang memakan nyawa tujuh orang.

“Kerabat dari beberapa korban yang meninggal sebelumnya main hakim sendiri dan mencoba menyerang musuh mereka sesukanya. Dan itu telah memburuk menjadi pembantaian atas belasan perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah,” Gubernur Hela, Philip Undialu, menjelaskan kepada ABC.

Ribuan orang terpaksa pindah akibat konflik antarsuku setiap tahun di PNG.

Kasus ini menunjukkan terbatasnya sumber daya bagi kepolisian negara itu, Perdana Menteri James Marape mempertanyakan bagaimana bisa sebuah provinsi dengan populasi 400.000 orang bisa berjalan dengan kurang dari 60 petugas kepolisian.

PM Marape berkata di Facebook bahwa para pelaku dapat menghadapi hukuman mati dan memberikan peringatan kepada para pembunuh.

Sementara itu Damien Arabagli, ketua Hela Gimbu Association, berkata bahwa kelompok masyarakat yang ia pimpin, telah meminta pemerintah untuk menambah jumlah polisi. (ABC News)


Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top