Bencana banjir bandang adalah bukti keserakahan manusia

Bencana banjir bandang adalah bukti keserakahan manusia

Salah satu masyarakat yang sedang duduk termenung memandangi lingkungan hutan yang porak-poranda karena diterjang banjir bandang pada Sabtu (16/3/2019) lalu. – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Tokoh Masyarakat Adat Sentani, Amos Ondikeleuw mengatakan penyebab bencana banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu adalah keserakahan manusia. Kerusakan Cagar Alam Cycloop yang telah lama terjadi dibiarkan begitu saja oleh para penentu kebijakan di daerah.

Lelaki 77 tahun yang biasa dipanggil “tete rambut putih” itu mengaku sangat sedih dan merasa terpukul dengan kejadian yang menelan banyak harta benda dan nyawa manusia itu. “ Puluhan tahun saya hidup dan bekerja untuk hutan Cycloop ini, dari yepase hingga pasir enam bentangan gunung ini sangat saya kenal,” ujar Amos Ondikeluew saat ditemui di kediamannya. Rabu (20/3/2019).

Amos berharap bencana banjir bandang itu membuat semua pihak melihat akar persoalan kerusakan Cagar Alam Cycloop. Cagar alam itu tidak selayaknya dijadikan permukiman, apalagi jika aktivitas para pemukimnya merusak alam Cycloop.

“Masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat (Cagar Alam Cycloop) harus duduk bersama dan membicarakan  kelangsungan kawasan cagar alam itu. Jika tidak, bisa-bisa keindahan Pegunungan Cycloop dan Danau Sentani cuma menjadi cerita. (Ekosistem) Gunung Cycloop dan Danau Sentani adalah satu paket, keduanya harus diperhatikan dengan baik,” ungkapnya.

Salah satu pemerhati lingkungan di Kabupaten Jayapura, Jeffry Kopeuw mengatakan Pemerintah harus mengambl langkah tegas untuk menertibkan kawasan Cagar Alam Cycloop dari permukiman warga.

“Kalau pemerintah tidak mau menemui masyarakat adat untuk membicarakan hal itu, pemerintah akan kesulitan meluruskan benang yang terlanjur kusut. Harus ada langkah tegas yang diambil, entah mau relokasi atau membangun pos kemanan, dan sebagainya. Jika terus dibiarkan, kawasan itu akan rusak selamanya, dan yang merasakan dampaknya adalah masyarakat di Kota Sentani,” katanya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)