Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Beras menumpuk di tempat penggilingan, petani pasrah

Petani di Kampung Sumber Harapan, Donatus Manu – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

RUPANYA sampai saat ini Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional (Divre) tak kunjung menyerap beras petani dalam jumlah banyak. Alasannya kapasitas gudang terbatas.

Dari pengakuan sejumlah petani, beras mereka menumpuk di tempat penggilingan. Jumlahnya antara 1-2 ton. Pihak penggilingan tak bisa menjual. Karena dari bulog belum memberikan kepastian pembelian.

Donatus Manu, salah seorang petani di Kampung Sumber Harapan, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke pekan lalu mengungkapkan hampir semua petani di kampungnya telah membawa gabah ke tempat penggilingan. Namun sayangnya, setelah digiling tidak langsung menerima uang.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, setelah gabah digiling, pemilik gilingan langsung melakukan pembayaran. Beda dengan tahun ini. Di mana petani harus rela menunggu antara 1-2 bulan terlebih dahulu.

Loading...
;

“Memang di Kampung Sumber Harapan, ada empat tempat penggilingan. Hanya semuanya sudah menumpuk beras dan tak kunjung dijual keluar. Karena belum adanya permintaan dari Bulog Sub Divre Merauke,” ungkapnya.

Donatus mengaku beras miliknya di tempat penggilingan sekitar 2 ton belum dibayar. Belum dengan petani lain yang berkisar antara 500 kilogram hingga 1 ton.

Petani tidak bisa memaksakan pemilik penggilingan untuk membayar. Karena diapun belum memiliki uang. Jadi, sejauh ini petani hanya menunggu adanya kejelasan dari bulog.

“Ini adalah risiko. Kami tak mungkin menggiling dan membawa pulang beras ke rumah, karena jumlahnya sangat banyak. Belum lagi mengantisipasi kerusakan. Beruntung bahwa pemilik penggilingan memiliki gudang yang aman, sehingga dapat menampung beras petani,” ujarnya.

Apakah ada petani meminjam uang di bank, Manu mengaku sejauh ini tidak ada. Hanya saja mereka tak memiliki modal, karena berasnya tak kunjung dibeli.

Terkadang pemilik penggilingan memberi pinjaman, tetapi nilai yang diberikan terbatas. Paling berkisar Rp 500.000, mengingat kondisi keuangan pula.

“Ya kadang ada urusan mendesak, petani datang ke pemilik penggilingan. Kalaupun dibantu, nilainya tidak seberapa juga,” katanya.

Dikatakan, harga besar yang dijual petani di tempat penggilingan yakni Rp7.700/kg. Itu sudah berlaku dari tahun ke tahun.

Saat ini petani sedang mempersiapkan diri membuka lahan kembali, karena sudah memasuki musim hujan. Namun pembajakan lahan tidak dapat dilakukan, mengingat hasil penggilingan beras tak kunjung dibeli.

Biasanya pemilik alat pertanian meminta pembayaran dilakukan ke depan, sebelum pembajakan lahan dilakukan. Kondisi demikian yang menjadi hambatan petani.

Darto, salah seorang petani di Kampung Sumber Harapan – Jubi/Frans L Kobun

Hal serupa disampaikan Darto (45), petani di Kampung Sumber Harapan.

“Saya punya beras di tempat penggilingan sekitar 40 karung. Sampai sekarang belum terjual. Kami hanya menunggu informasi dari pemilik penggilingan. Jika berasnya sudah dibeli, pasti ada uang kami terima,” jelasnya.

Diapun mengaku kurang lebih 2 bulan, berasnya tertahan di penggilingan, lantaran belum terjual.

“Ya, kita pasrah saja menunggu. Tak mungkin harus memaksakan pemilik gilingan,” katanya.

“Saya berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke dapat mencari jalan keluar agar beras petani yang sudah tersimpan lama di tempat gilingan dapat dibeli,” pintanya.

Jika beras dibiarkan begitu terus, dikhawatirkan akan mengalami kerusakan dan tentunya yang dirugikan adalah petani.

50.000 ton beras petani belum terjual

Beras petani yang dibeli Bulog Sub Divre Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, Eddy Santoso, menjelaskan pihaknya memperkirakan sekitar 50.000 ton beras petani belum terjual sampai sekarang.

Jumlah itu berdasarkan perhitungan dengan hasil panen pada musim gadu bulan Oktober.

“Betul bahwa dalam tahun ini, petani mengalami kesulitan memasarkan berasnya, lantaran mengalami over produksi,” katanya.

Di satu sisi, pemerintah bangga, lantaran produksi beras petani mengalami peningkatan. Tetapi di sisi lain, hasil kerja keras petani tak kunjung memberikan hasil maksimal.

“Kami sangat mengharapkan agar Bulog Sub Divre Merauke dapat menyerap beras dalam jumlah banyak. Karena hingga kini sebagian beras petani masih menumpuk di gudang tempat penggilingan dan tak kunjung dijual,” harapnya. (*)

Editor: Yuliana Lantipo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top