Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Beras petani tak diserap, dimana tanggung jawab Bulog Merauke?

Gabah kering milik petani yang siap untuk digiling – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

DALAM sebulan terakhir, keluhan petani tentang gabah yang sudah digiling menjadi beras, tak kunjung dibeli Bulog Sub Divre Merauke. Sehingga sempat menjadi sorotan berbagai kalangan, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke.

Sebagai tindaklanjut terhadap keluhan petani, beberapa waktu lalu Komisi B DPRD Merauke memanggil Kepala Bulog Sub Divre Merauke, Djabiruddin, bersama Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan setempat, Edy Santoso, untuk memberikan klarifikasi.

Selain itu juga, disikapi cepat oleh anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Papua, Sulaeman Hamzah, setelah mendapatkan pengaduan.

Untuk mencari solusi penyelesaian, Sulaeman Hamzah mengundang perwakilan pemerintah dari empat kabupaten yakni Merauke, Boven Digoel, Mappi, serta Asmat untuk dilakukan pertemuan di Swiss Bell Hotel, kemarin.

Dari Kabupaten Asmat langsung dihadiri Bupati Elysa Kambu. Kemudian, dari Kabupaten Boven Digoel dihadiri oleh Wakil Bupati Chaerul Anwar dan Sekda Gregorius Tuantana dari Kabupaten Mappi. Sementara dari Kabupaten Merauke hanya mengirimkan Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Eddy Santoso.

Loading...
;

“Kita duduk bersama untuk menyelesaikan permasalahan tentang keluhan petani. Karena beras yang telah digiling, belum semuanya dibeli Bulog Sub Divre Merauke,” ungkap Sulaeman.

Tentunya, lanjut Sulaeman, hasil kerja keras petani yang telah membuka lahan hingga menanam dan  merawat padi hingga panen, perlu diperhatikan. Artinya bahwa, ketika gabah digiling, sesegera mungkin dibeli Bulog.

“Saya dapat laporan kalau sejumlah petani rumahnya terancam disegel pihak bank. Karena berasnya tak kunjung dibeli untuk bisa membayar cicilan hutang yang telah dipinjam,” ujarnya.

Kakanwil Bulog Provinsi Papua dan Papua Barat, Sopran Kenedi, mengungkapkan kendala terbesar dalam penyerapan beras petani Merauke adalah masalah kapasitas gudang.

“Memang ada izin prinsip dari Bulog pusat untuk pembangunan tambahan gudang bulog di Distrik Tanah Miring dengan kapasitas daya tampung beras 1000 ton. Hanya masih butuh waktu agak lama,” ujar dia.

Selama ini, katanya, Bulog Merauke telah melakukan kerja sama dengan mitra untuk dilakukan pinjam pakai gudang. Hanya kapasitasnya juga tak terlalu besar, hanya sampai 500 ton.

Dikatakan, ada sejumlah tempat bisa dilakukan pinjam pakai, namun perlu diperhatikan bangunannya. Karena tempat penyimpanan beras juga harus steril.

“Ya, kalau bagian dalam gudang sama dengan permukaan, tentunya dikhawatirkan terjadi banjir. Itu yang menjadi pertimbangan,” katanya.

Diakui pernah ada pembicaraan penggunaan kapal milik PT SPIL. Awalnya telah ada kesediaan membuka rute dari Merauke, Jayapura hingga Sorong. Hanya menjadi kendala adalah menyangkut biaya angkutan.

Selama ini, biaya angkutnya hampir setengah dari biaya yang ditawarkan PT SPIL. Mudah-mudahan Pemkab Merauke melakukan fasilitasi kembali. Karena diluar kegiatan komersil, ada tanggung jawab moril membantu pemerintah serta masyarakat dalam penyerapan beras.

“Kita tak bisa fokus lakukan pendistribusian dalam wilaha Kabupaten Merauke saja, lantaran serapan beras pasti rendah,” katanya.

Dia mengaku kalau ada gudang milik pemerintah di Kurik dengan kapasitas sekitar 2.500 ton beras yang dapat dimasukan. Mudah-mudahan dapat dimanfaatkan untuk pinjam pakai dan tak disewa, karena akan menambah biaya.

Anggota DPR RI, Sulaeman Hamzah sedang melakukan pertemuan di Swiss Belt Hotel – Jubi/Frans L Kobun

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, Eddy Santoso menjelaskan, tahun 2016, luas tanam adalah 44.347 hektar. Memasuki 2017, luasan tanam menjadi 49. 322 hektar. Ada peningkatan sekitar 13 persen.

Selanjutnya di 2018, 57.678 hektar atau peningkatan 12 persen. Sedangkan tahun 2019, 59,751 hektar. Peningkatan terjadi karena dalam setahun, dua kali petani menanam.

Untuk prediksi produksi dalam tahun 2016, rata-rata produksi satu hektar 3,12 ton. Sedangkan di tahun 2017 meningkat 4,36 ton per hektar. Tahun 2018, 5,2 ton per hektar. Sedangkan tahun 2019, data sementara 6,2 ton per hektar.

Dalam dua minggu terakhir, setelah dilakukan pengecekan di lapangan berkaitan dengan stok beras di tempat penggilingan sekitar 5.600 ton. Sebagian besar adalah hasil panen rendengan.

Memasuki bulan Agustus, panen gaduh telah dilakukan hingga September diatas lahan 24.768 hektar. Perkiraan produksi 133 ribu ton gabah kering. (*)

Editor: Yuliana Lantipo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top