Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Berbudi daya untuk melestarikan anggrek alam

Blandina Were (kiri) saat pameran anggrek di halaman Kantor Bupati Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Blandina Were masuk-keluar hutan untuk berburu anggrek alam. Selain melestarikan spesies, Were menangguk untung lumayan dari budi daya anggrek.

ANGGREK pada sejumlah pot kayu menarik perhatian pengunjung. Jenis dan rupanya beragam.  Ada jenis Yohanes, nenas, kelinci, bawang, dan beragam varian anggrek lainnya.

Puluhan anggrek tersebut merupakan koleksi Blandina Were. Dia memajangnya pada pemeran yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Merauke.

Were telah 16 tahun menggeluti anggrek. Dia membudidayakan tanaman eksotik itu dari anggrek alam di hutan Papua. Di habitat alam, anggrek tersebut menempel pada pohon-pohon besar sebagai inang.

Loading...
;

“Kalau pohonnya terlalu tinggi, kami terpaksa menjolok (anggrek) dengan bambu. Kalau pohonnya rendah, (anggrek) diambil dengan cara dipanjat,” kata Were, menceritakan pengalamannya saat berburu anggrek di hutan kepada Koran Jubi, pekan lalu.

Anggrek hasil buruan itu kemudian dibersihkan Were setiba di rumah. Setelah itu, perakarannya direndam dalam larutan zat pengatur tumbuh (ZPT) selama sekitar lima menit, sebelum anggrek ditanam pada pot perawatan. Adapun untuk merangsang pertumbuhan daun dan batang anggrek, Were mengandalkan pupuk anorganik.

Untuk merangsang pertumbuhan akar anggrek, Were juga menggunakan air bekas cucian beras. Larutan itu disiramkan ke tanaman setelah sepekan berada di pot.

Kebun anggrek Were berada di sekitar kediamannya di Kampung Wasur, Distrik Merauke. Hampir setiap hari ada peminat yang membeli koleksi tanamannya itu. Sekali beli ada yang bahkan memborongnya hingga sebanyak 30 pot.

Were membanderol koleksinya sekitar Rp20 ribu-Rp50 ribu setiap pot. Jenis anggrek bawang menjadi koleksi termahal yang dijualnya.

”Anggrek bawang banyak peminat, tetapi sulit mendapatkannya lagi di hutan.”

Menyilangkan anggrek

Were menangguk pendapatan sebesar Rp2 juta-Rp3 juta sebulan dari berjualan anggrek. Selain kebutuhan keluarga, uang tersebut digunakannya untuk membeli pot kayu dan berbagai keperluan dalam budi daya anggrek.

“Pot kayu saya beli Rp100 ribu untuk 10 buah.”

Were juga aktif mempromosikan usahanya melalui berbagai pameran. Cara itu dianggapnya efektif untuk memamerkan anggrek, sekaligus menarik minat masyarakat agar membeli.

Dia bahkan menyatakan kesanggupannya untuk mengikuti pameran anggrek di Kota Kuching, Serawak, Malaysia, yang bakal digelar dalam waktu dekat.

“Kalau disuruh pergi (mewakili Merauke ke Kuching), tentu dengan senang hati saya siap.”

Were pun mulai mempelajari teknik persilangan untuk mengembangbiakan anggrek. Dia bersama beberapa pegiat anggrek diutus Kantor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Merauke mengikuti pelatihan di Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

“Banyak ilmu didapat dari sana (pelatihan) untuk dikembangkan di sini. Kami juga bisa saling ‘mencuri’ ilmu teman-teman dari daerah lain,” kata Were.

Bupati Merauke, Frederikus Gebze, mengapresiasi upaya para pegiat dan pencinta anggrek dalam melestarikan keberadaan spesies tanaman tersebut melalui budi daya.  Usaha itu juga sekaligus bernilai ekonomi tinggi karena hasil perbanyakannya laris terjual.

“Saya berterima kasih kepada Mama-Mama Papua yang tak henti-hentinya mengambil anggrek dari hutan untuk dipelihara dan dijual. Ini sekaligus sebagai sumber pendapatan keluarga,” ujarnya.

Bupati Gebze menyebut pameran perdana yang diselenggarakan Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) menjadi langkah awal untuk mengembangkan anggrek di Merauke. Dia berharap pameran serupa digelar rutin setiap tahun. (*)

Editor: Aries Munandar

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top