Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Bubarkan acara bakar batu, Kapolres Mimika dinilai langgar aturan adat

Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto berdiri panggung kegiatan lalu menyuruh mahasiswa dan masyarakat bubarkan diri – Jubi/Ist

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Dewan Adat Papua (DAP) menegaskan Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa) di Mimika sudah ada sejak tahun 1992. Telah menjadi rumah bagi masyarakat setempat. Bahkan bagi semua yang datang ke tanah Amungsa.

“Aneh dan lucu ketika hanya karena dugaan yang belum tentu benar, Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto membawa personel kurang lebih 100 orang lalu membubarkan acara bakar batu,” kata Sekretaris II DAP, John NR. Gobai kepada Jubi di Jayapura, Minggu, (22/9/2019).

“Dengan membubarkan acara bakar batu, Kapolres Mimika telah melanggar adat,” kata dia

Kapolres Mimika membubarkan acara bakar batu di lemasa, Kapolres bicara di media massa karena menduga acara diadakan dan ditunggangi KNPB, ULMWP dan OPM.

“Dua hari kemudian dibantah oleh KNPB Mimika bahwa mereka tidak terlibat dalam acara itu. Ini menunjukkan akal-akalan sang Kapolres untuk mencari pembenaran,” ujar Gobai yang juga anggota DPR Papua.

Loading...
;

 

Ia curiga, nampaknya Kapolres sudah tidak suka kepada KNPB. Sehingga momentum adat pun dikaitkan dengan organisasi perjuangan Papua merdeka itu.

“Saya duga ini juga terjadi di kabupaten lain, rakyat membuat aksi dan ibadah sendiri tanpa ditunggangi. Namun dugaan yang telah terbentuk adalah semua digerakkan oleh KNPB dan ULMWP,” katanya.

John menegaskan, harus dicatat dalam adat suku apa saja, acara selamatan adalah hal biasa dilakukan. Termasuk masyarakat pegunungan Papua.“Bakar batu adalah upacara selamatan atas apa saja,” ujarnya tegas.

Ia menyayangkan sikap Kapolres. Belum makan makanan khas Papua lantas bubarkan paksa acara.  Bahkan tangkap peserta upacara adat sambil  keluarkan tembakan. “Dalam adat pegunungan Papua kalau dibubarkan saat tunggu makan atau saat makan, ini sangat dilarang. Sangat tidak sopan dan disebut tidak etis,” ucapnya.

“Bakar batu merupakan acara adat di Timika, kemarin dibubarkan setelah bungkusan (bakar batu) ditutup dan ingin ibadah. Setelah ibadah rencananya akan membuka bungkusan bakar batu untuk makan bersama,” kata dia.

Ia meminta kepada Kapolda Papua agar segera periksa Kapolres tersebut karena diduga telah melanggar kode etik. “Satu solusi Kapolres harus diperiksa di Propam Polda Papua,” ucapnya.

“Melakukan penangkapan dan penahanan mungkin juga tanpa surat. Copot Kapolres Mimika. Jangan gampang menuding orang tanpa dicek kebenarannya. Aneh orang ini,” ujarnya.

Ketua Departemen Keadilan dan Perdamaian Gereja KINGMI di Tanah Papua, Koordinator Puncak Selatan, Pendeta Deserius Adii mengatakan, acara bakar batu yang dibuat para mahasiswa eksodus hanya untuk menyampaikan kepada orang tua bahwa mereka telah pulang ke kampung halamannya.

“Bakar batu itu tradisi kita yang mesti dipertahankan. Juga sebagai pemberitahuan kepada orang tua bahwa kita sudah pulang ke tanah Papua,” katanya.

Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto mengatakan, jajarannya akan melakukan gelar perkara untuk menentukan siapa saja aktor di balik kegiatan pengumpulan mahasiswa yang eksodus dari kota studi mereka di luar Papua itu.

“Siapa yang menjadi provokator dan aktor intelektualnya akan kita proses lebih lanjut, yang tidak memenuhi unsur akan kita pulangkan,” Agung. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top