Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Bukan referendum Bougainville yang dorong provinsi lain di PNG minta merdeka

Arawa, Bougainville. – RNZI

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Thiago Cintra Oppermann

Perjanjian perdamaian, Bougainville Peace Agreement, yang berperan penting dalam mengakhiri konflik bersenjata di wilayah Bougainville, Papua Nugini (PNG) pada 1998, memiliki tiga pilar: pelucutan senjata, pembentukan pemerintahan otonom Bougainville, dan diakhiri dengan referendum yang membolehkan opsi untuk kemerdekaan penuh. Ditetapkan akan terjadi dalam 10 hingga 15 tahun setelah pembentukan pemerintahan ABG, referendum itu kini semakin dekat – dimulai 23 November 2019 ini.

Bagi banyak orang, referendum itu adalah peristiwa puncak dalam proses perdamaian di Bougainville selama lebih dari 20 tahun. Referendum itu akan meminta orang-orang Bougainville memilih antara merdeka dan diberikan otonomi yang lebih besar. Hasil referendum itu tidak mengikat secara hukum, tetapi ia akan mengarah pada negosiasi. Hasil negosiasi itu kemudian akan diajukan di Parlemen Nasional PNG dimana akan dilakukan pemungutan suara.

Banyak tulisan telah dicatat tentang peluang Bougainville untuk merdeka dan implikasinya bagi kawasan ini secara meluas. Namun hanya sedikit wacana yang telah merincikan implikasi referendum itu atas PNG secara keseluruhan.

Loading...
;

Di PNG hampir tidak ada persiapan sama sekali, baik untuk menyambut kemerdekaan atau menambahkan otonomi Bougainville. Pemerintah PNG telah menyelesaikan isu kemerdekaan Bougainville seolah-olah ini hanya akan mempengaruhi Bougainville. Kita tidak boleh salah menduga bahwa ini berarti nasib Bougainville ada di tangan orang-orang Bougainville, atau bahwa ada secercah keinginan terpendam untuk membiarkan Bougainville merdeka begitu saja.

Jika ada segelintir pertimbangan yang telah dibahas mengenai referendum ini, itu pun berkaitan dengan preseden yang ditetapkan oleh kemerdekaan Bougainville, dan apa yang ditunjukkan kemerdekaan itu kepada provinsi lain. Bougainville ditakutkan mungkin akan mendorong provinsi-provinsi lain di PNG untuk menuntut juga otonomi yang lebih besar – atau merdeka. Rasa tidak percaya terhadap pemerintah pusat dirasakan di seluruh pelosok PNG, demikian pula dengan rasa geram akibat alokasi sumber daya dan tanggungan antar provinsi.

Pemimpin-pemimpin PNG dan Australia mungkin telah berhasil meyakinkan diri mereka sendiri bahwa dengan mendukung dilanjutkannya integrasi Bougainville ke PNG, mereka akan mencegah pion domino pertama agar tidak jatuh dan mendorong pion lainnya. Namun ini bukanlah analogi yang tepat untuk situasi ini. Provinsi-provinsi di PNG bukanlah pion domino yang terletak di atas permukaan yang rata. Bidak-bidak domino itu berdiri berserakan di sana-sini, nyaris tidak bisa berdiri tegak akibat fondasi yang tidak rata dan tidak stabil. Belum pasti apakah pion-pion ini akan saling menjatuhkan, tetapi mereka semua pasti akan jatuh.

Masyarakat PNG di Enga, New Ireland, East New Britain dan West New Britain, serta provinsi-provinsi lainnya yang juga berambisi untuk mendapatkan otonomi, mereka tidak perlu melihat kemerdekaan Bougainville untuk menunjukkan kepada mereka bahwa pemerintah nasional yang kacau itu korup dan tidak kompeten. Ada berbagai sumber ketidakstabilan yang sangat serius di seluruh negeri ini, dan sebagian besar darinya tidak ada sangkut pautnya dengan status politik Bougainville.

Ketakstabilan di seluruh negara itu adalah masalah utama PNG. Ketidakmampuan pemerintah pusat, absennya proyek pembangunan yang berarti di negara itu dan korupsi yang merajalela, inilah yang menyebabkan rasa tidak puas yang banyak terlihat di provinsi-provinsi lain.

Keinginan untuk meninggalkan negara yang dilihat bagai kapal yang akan tenggelam, adalah salah satu faktor pendorong yang paling kuat dalam aspirasi kemerdekaan Bougainville.

Namun, faktor-faktor pendorong ini akan tetap ada, terlepas dari apakah Bougainville merdeka atau tidak. Bahkan jika Bougainville tetap menjadi bagian dari PNG setelah referendum itu, mungkin di bawah suatu bentuk pengaturan kedaulatan parsial, provinsi lainnya akan memiliki model yang dapat dicontoh – suatu jalur untuk memperoleh hak mereka. Inilah yang terjadi pada 1975, ketika Bougainville menyatakan merdeka, deklarasi itu memulai krisis yang lalu diselesaikan dengan memperkuat peran provinsi di negara ini.

Ada daerah-daerah di PNG – terutama daerah Southern Highlands dan Hela, dari mana banyak elite kekuasaan di pemerintahan pusat saat ini berasal – di mana dari tahun ke tahun, kekerasan yang tidak henti-hentinya menewaskan sedikitnya jumlah korban yang sama seperti di Bougainville saat krisis dulu. Seringnya catatan pemerintah dalam menelantarkan daerah-daerah pedalaman di PNG hampir, di beberapa tempat, hampir sama ekstremnya dengan yang dialami oleh orang-orang Bougainville pada 1990-an, baik karena alasan politik atau ketidakmampuan mereka.

Bougainville adalah kasus tersendiri di dalam PNG karena ada hasil dari upaya pemerintah yang bisa dikatakan berhasil, untuk menyelesaikan konflik di wilayah itu dan melucuti senjata. Upaya yang besar ini, seperti semua hal lain terkait Bougainville dalam konteks PNG, adalah suatu pengecualian. Hanya sedikit, kalau pun ada satu, pelajaran yang didapatkan pemerintah dalam bekerja dengan Bougainville, yang telah dibawa kembali ke daratan Papua. Akibatnya, orang-orang Bougainville yang nasionalis merasa dikuatkan tekadnya dan menolak kritikan PNG tentang kesiapan mereka untuk merdeka. Bougainville sendiri telah mencapai pembangunan perdamaian yang belum dapat dicapai oleh pemerintah pusat di Waigani.

Bisa dimengerti mengapa PNG berusaha membolehkan berbagai pengecualian untuk Bougainville. Tetapi dampak dari pengecualian ini justru berlawanan, ini menyebabkan lebih banyak perbedaan antara Bougainville dan daerah lainnya di PNG.

Mengakui bahwa kemerdekaan Bougainville bukan hanya masalah bagi Bougainville, tidak bisa dilakukan tanpa pengorbanan. Isu ini telah, dan akan selalu menjadi, bagian dari seluruh PNG. (East Asia Forum)

Thiago Cintra Oppermann bekerja sebagai peneliti College of Asia and Pacific, The Australian National University.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top