Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Buku ‘Mama Menganyam Noken’ dari pedalaman Keerom

Guru SD YPPK Akarinda Semografi, Keerom, Papua, Gaudiffridus Sone Usna’at atau Gody Usna’at saat memperkenalkan bukunya “Mama Menganyam Noken” di Jayapura – Jubi/Timo Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Merefleksikan kondisi di pedalaman Papua, baik pendidikan, alam dan cinta, maupun kesehatan dan kehidupan masyarakatnya, dilakukan melalui banyak cara. Guru SD Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Akarinda Semograf, Kabupaten Keerom, Papua, Gaudiffridus Sone Usna’at, memilih cara yang tidak biasa, yakni puisi.

Dalam buku terbarunya “Mama Menganyam Noken”, Gody–panggilan dia–menulis banyak hal di pedalaman Keerom dan perjalanannya sebagai pengajar dan pendidik. Mama Menganyam Noken yang diterbitkan Papua Cendekia (September 2019), terdiri dari 68 puisi yang dibagi ke dalam empat bagian (21 bagian I, 15 bagian II, 9 bagian III, dan 23 puisi pada bagian IV).

Bukunya belum beredar di etalase-etalase Papua, tapi sudah dicetak 400 eksemplar, yang sudah disebarkan di Bali, Malang, Sorong, dan Kupang.

Senin, 14 Oktober 2019, Jubi berkesempatan mewawancarainya di kawasan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura. Dia mengatakan, proses kreatif menulisnya dimulai sejak 2007 di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores. Ketika itu digelar Festival Ledalero dan penulis-penulis tanah air diundang hingga dibuka kelas-kelas menulis.

Loading...
;

“Waktu itu saya malu untuk gabung di kelas-kelas itu. Rasa minder ada. Saya hanya lewat saja ketika mereka ada kegiatan,” katanya.

Dia semakin tertarik pada puisi setelah mengenal penyair Joko Pinurbo meski kala itu dia tidak memahami maksud puisi beliau. Selain itu, karya-karya Chairil Anwar, Sitor Situmorang, dan penyair terbesar berbahasa Spanyol abad 20 asal Amerika Latin, Pablo Neruda, adalah penyair-penyair lain yang membuat guru dan katekis ini menyukai puisi.

“Saya banyak baca dia (Neruda) punya karya terjemahan,” katanya.

Pada 2008, Gody gabung dengan kelompok menulis “Pujangga Sendal Jepit” di Ledalero.

“Waktu itu saya menulis puisi. Malu tapi masuk saja. Saya tertarik karena Pater Budi Kleden apresiasi sa punya puisi,” ujarnya.

Saat menjalani masa TOP (tahun orientasi pastoral) di Ende, Gody bertemu dengan beberapa pastor dan penulis, yakni Pater Gorys Bera, Pater Charles Ola Nama, dan Pater John Dami Mukese. Mereka adalah figur-figur yang menginspirasi Gody dalam menulis puisi.

“Mereka bimbing saya, sharing. Saya punya puisi masuk mingguan DIAN. Dari situ tambah senang,” kenangnya.

Puisi-puisi Gody ditulis di HP lalu dikirim kepada kawan-kawannya. Pesan-pesan puitik itu baru terkirim bila ponselnya terhubung jaringan telekomsel.

“Saya tulis saja. Mereka bosan ka, tida ka, sa kirim saja. Dari situ saya posting di facebook,” katanya.

Kebiasaan itu pun dibawanya saat mengajar di pedalaman Papua, terutama di Semografi, Ubrub, Kabupaten Keerom. Puisi-puisi yang ditulisnya via SMS kemudian mendapat apresiasi sebagai penyair muda dari Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), Agustus 2017. Tujuh puisinya terpilih dari belasan puisi yang dikirim bersama ratusan peserta kepada panitia.

Kumpulan puisi “Mama Menganyam Noken” terbagi dalam empat bagian, di antaranya, tentang kesehatan, alam, pendidikan, dan kehidupan orang-orang kecil di pedalaman Keerom.

Daerah pedalaman baginya merupakan buku. Dari sana semua inspirasi terjelma dalam puisi-puisi.

Melalui puisi-puisinya, dia mengetuk kesadaran masyarakat dan pemerintah, untuk memperhatikan pendidikan, kesehatan, dan kehidupan orang-orang Papua di pedalaman.

“Kira-kira apa yang pemerintah (seharusnya) buat untuk masyarakat, sehingga mereka tidak terus hidup ‘tidak enak’. Misalnya pendidikan harus dibenahi,” katanya.

Dia juga berharap agar anak-anak Papua tidak takut menyuarakan aspirasinya melalui karya sastra, baik puisi, maupun prosa.

“Jangan takut dikritik. Bagi saya kritik (terhadap karya) merupakan kekuatan untuk terus maju,” kata Gody, yang tahun lalu juga menulis “Syair Semografi” bersama kawan-kawan Papua.

Penggiat literasi di Komunitas Secangkir Kopi NTT, Robertus Elyakim Lahok Bau, baru membaca beberapa puisi Gody. Dari sana Robertus menemukan perjuangan dengan mengabdi di pedalaman Papua.

Robertus berpendapat dengan pengabdiannya yang dituangkan dalam puisi-puisi, Gody berhasil menghadirkan imajinasi pembaca, untuk menemukan kehidupan asli masyrakat Papua yang tenang, aman, dan damai.

“Dalam keterbatasan, anak-anak Papua tetap optimistis mengenyam pendidikan untuk meraih cita-cita dan masa depannya. Saya menemukan semangat perjuangan anak-anak Papua dalam puisi-puisi G. Usna’at,” kata Robertus kepada Jubi di Jayapura per pesan WA, Selasa, 15 Oktober 2019.

Oleh sebabnya, Obby, sapaan dia, merasa berutang budi apabila tidak membagikan buku ini kepada publik, untuk dikonsumsi sebagai referensi dalam memahami Papua yang lebih baik lagi. Dia bahkan menjual 100 eksemplar di Kupang sebagai perkenalan kepada masyarakat.

Dayu Rifanto dari komunitas Inisiatif Literasi Bukuntukpapua Sorong, Papua Barat baru mengenal Gody tahun 2015, saat bersama Nusantara Sehat. Ketika itu Nusantara Sehat mau mendirikan rumah baca, hingga akhirnya mereka menggalang donasi buku. Alhasil, donasi buku menyatu menjadi rumah baca Jendela Semografi.

Sejak 2015, Gody menceritakan perkembangan Semografi melalui cerita per telepon dan melalui puisi-puisi pada 2017.

“SMS-SMS ini, kemudian saya ketik ulang dan susun dalam words. Setelah saya baca, ternyata pak guru ini punya puisi menyentuh. Satu-dua puisinya kemudian saya tulis dan posting di media sosial, ternyata banyak yang respons,” kata Dayu.

Menurut Dayu, Gody tidak mengetahui bahwa puisi-puisi yang dikirim via SMS itu diteruskan ke Mastera.

“Satu minggu sebelum pengumuman Mastera, saya dikontak Mahwi Air Tawar untuk kirim ulang puisi Pak Guru Gody. Setelah itu sa kasih tahu pak guru, bahwa puisinya sa kirim ke Mastera,” ujarnya.

Dayu mengatakan sebuah perjumpaan tak terduga karena sebagian puisi “Mama Menganyam Noken” sebenarnya ada di buku “Syair Semografi”.

“Untuk pembaca, jangan lupa beli bukunya. Pak Guru ini tipe pendidik yang luar biasa menurut saya, di saat banyak orang tra mau tinggal di pedalaman, dia mau dan sudah begitu, dia menulis puisi dengan bagus. Jadi, pasti tidak rugi beli dan membaca bukunya,” katanya.

Dia juga meminta Pemerintah Provinsi Papua dan daerah agar mendukung anak-anak Papua yang bergelut di bidang sastra.

“Saya ingat akhir bulan ini pak guru bisa terpilih ke Joglitfest tentu tanpa dukungan pemerintah daerah di Jayapura atau Keerom, malahan pemerintah daerah lain seperti di Jogja bisa melihat karya beliau,” ujarnya. (*)

Editor : Angela Flassy

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top