Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Cegah potensi rusuh, Komnas HAM bentuk jejaring

Suasana workshop Komnas HAM perwakilan Papua beberapa hari lalu – Jubi/Arjuna.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Komisi Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM perwakilan Papua membentuk jejaring. Pembentukan ini bertujuan mendapat masukan dari berbagai pihak, terkait upaya mencegah kembali terjadinya aksi mengecam ujaran rasisme  di Papua yang dapat meluas menjadi rusuh seperti beberapa waktu lalu.

Komnas HAM perwakilan Papua menyatakan masih ada potensi kembali terjadi protes terhadap isu rasisme yang dikhawatirkan meluas menjadi rusuh, karena beberapa faktor. Salah satunya, belum adanya rekonsiliasi menyeluruh pascademonstrasi yang meluas menjadi rusuh di sejumlah daerah di Papua beberapa bulan lalu.

“Bagaimana upaya rekonsiliasi pascakonflik ini, Komnas HAM membangun kembali jejaring. Ada pertemuan nanti pada Maret 2020. Kami menyesuaikan dengan kalender internal Komnas HAM,” kata Kepala Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Ramandey, Kamis (12/12/2019).

Menurutnya, pembentukan jejaring juga merupakan permintaan berbagai pihak saat Komnas HAM perwakilan Papua menggelar workshop saat peringatan hari HAM internasional ke-71 pada 10 Desember 2019.

“Membangun jejaring itu penting supaya dengan jaringan yang kuat, kita bisa melakukan upaya pencegahan,” ujarnya.

Loading...
;

Komnas HAM perwakilan Papua juga akan menyampaikan kepada pemerintah daerah, aparat keamanan, dan pihak gereja melakukan upaya rekonsiliasi menyeluruh, menghindari potensi terjadinya aksi massa terkait isu rasisme.

Sementara, bagian pengaduan Komnas HAM Perwakilan Papua, Melchior S Waruin mengatakan pascaterjadinya ujaran rasisme di Surabaya, Jawa Timur beberapa bulan lalu, Komnas HAM RI langsung melakukan pemantauan.

Komnas HAM juga menetapkan dua rekomendasi yakni, meminta kasus tersebut diusut tuntas serta menangkap pelaku pengrusakan asmara mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya dan rekomendasi kedua adalah meminta semua pihak menahan diri.

“Proses hukum kejadian di Surabaya sedang berjalan. Akan tetapi informasi ke publik tak massif. Komnas HAM tetap melakukan pengawasan. Namun di Papua mesti segera dilakukan pencegahan, karena ada potensi respons terhadap kasus di Surabaya kembali terjadi di Papua,” ucap Melchior S Waruin.

Katanya, tiga warga sipil terduga pelaku tindakan rasisme di Surabaya sedang menjalani proses hukum. Selain itu, lima oknum TNI juga kini sedang ditahan dan menjalani pemeriksaan. Dua di antara oknum tersebut diduga kuat menjadi bagian dari pihak yang melakukan ujaran rasisme.

“Mereka bagian dari TNI sehingga mekanisme hukum pengadilan militer yang akan berlaku. Akan tetapi tetap dijuntokan dengan peraturan terkait diskriminasi rasial,” katanya. (*)

Editor : Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top