Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Cuti kuliah demi menjual gorengan

Papua No. 1 News Portal | Jubi

 

Jayapura, Jubi – Selintas pandang, ia hanya penjual gorengan biasa. Semakin mendekat, jajanan “rasa intelektual” malahan menjemput tiap pembeli.

“@Kriw..”

Demikian tulisan di ujung kiri atas gerobak bercat hijau. Nyaris tak terbaca karena dua huruf akhirnya ditutupi noken. Di sebelahnya terdapat sebuah buku yang masih terbuka.

Loading...
;

Ya, itu gerobak jualan milik Jimi Gabriel Kayowai (27), mahasiswa semester 6 Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih (Uncen). Ia memilih cuti untuk berwirausaha.

Mengenakan kaus oblong krem dengan tatapan menyamping, sambil merapikan gorengan yang dibungkus kantong plastik hitam, senyum lebarnya menyapa Jubi di kawasan kampus Uncen Waena, Kota Jayapura, Sabtu (27/1/2018).

“Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah berpikir untuk berusaha. Ketika masuk ke Fakultas Ekonomi Uncen, teori saja tidak cukup tapi harus punya skill, sehingga saya tidak melanjutkan kuliah dan berwirausaha,” katanya.

Sebelumnya Jimi punya usaha fotokopi. Karena mesinnya hilang, tahun 2016, ia lalu membanting setir dengan menjual gorengan.

Penghasilannya terbilang lumayan. Meski baru dua minggu, pendapatan ‘kotor’ per hari dari pukul 5.00-11.00 WIT sekitar Rp 120 ribu, dengan pendapatan bersih Rp 50 ribu.

Sebagian besar pelanggan atau pembelinya adalah mahasiswa.

Selain untuk belajar mandiri sejak mahasiswa, hasil jualannya digunakan untuk kuliah, kos-kosan, dan keperluan sehari-hari.

Jimi merupakan satu-satunya orang Papua yang menjual gorengan di sekitar kampus Uncen, Kota Jayapura dan Sentani.

Pria asal Sorong, Papua Barat ini pernah bekerja di toko fotokopi selama 1,5 tahun dengan gaji Rp 3.000.000/bulan, enam bulan di warung internet (warnet) dengan gaji Rp 2.000.000, lalu menjadi karyawan di sebuah toko elektronik di Kota Jayapura.

“Saya juga belajar dari kelompok wirausaha yang dibentuk oleh KAPP Mei 2017. Di sana organisasi garap gerakan wirausaha orang muda Papua yang berkeinginan untuk belajar wirausaha, karena di sana terbuka bagi orang Papua,” katanya.

Selain berdagang, menurutnya, menjual gorengan merupakan sarana mengasah soft skill, berkomunikasi dan bernegosiasi.

“Dengan menjual gorengan saya mau menjadi pengusaha sukses. Saya pikir untuk menjadi pengusaha besar, dimulai dari hal-hal kecil. Hobi saya memasak, makanya saya menjual pisang goreng,” kata pemuda yang bercita-cita punya mal ini.

Merintis usaha kecil ini diakuinya terinspirasi dari pengusaha sukses Donald Trump, yang terpilih menjadi presiden ke-45 Amerika tahun 2016.

Awalnya menjual gorengan membuatnya ditantang. Terutama lantaran respons pembeli yang tidak mendukung usahanya. “Dari raut wajahnya mereka merasa aneh. Mereka bilang saya mampu di bidang lain, kenapa menjual gorengan?” kisahnya.

Menjual gorengan tak hanya untuk mendapatkan uang, mandiri, tetapi juga memotivasi orang muda Papua lainnya.

“Pisang goreng itu kita orang Papua punya, kenapa harus kita jual kepada orang non-Papua atau penjual gorengan kemudian kita beli gorengan? Ini ironis,” katanya.

Maka dari itu, ia mengajak orang-orang Papua agar tidak menjual pisang kepada orang luar, tapi mengolah dan menjualnya sendiri. Meski demikian, ia tak menyebutkan apakah pisang yang dijualnya menjadi pisang goreng, ditanam sendiri atau dibeli dari pihak lain.

“Nilai penting dari orang berwirausaha adalah kejujuran. Kenapa? Semua hal yang kita buat itu berguna bagi tiap orang. Saya sendiri mau menunjukkan bahwa OAP bisa berwirausaha apa saja,” katanya.

Usaha Jimi tidak disokong oleh siapapun. Gerobaknya dibuat sendiri. Kompor juga dibeli dari hasil kerja kerasnya.

“Saya mandiri. Tawaran dari orang tidak ada untuk bergabung. Kalau ada yang ajak untuk bergabung saja setuju, apalagi dia anak Papua. Kita sama-sama saling mendukung, menjual gorengan ala Papua,” katanya sambil berharap orang-orang muda harus kreatif.

Staf dosen Fakultas Ekonomi Uncen Alfrida Yamanop menilai apa yang dilakukan Jimi merupakan hal positif.

“Apalagi kalau dia mahasiswa ekonomi maka tidak salah. Jiwa wirausahanya bagus. Saya belum tahu mengapa berjualan dan kesulitan biaya kuliah? Apa dapat beasiswa? Kalau tidak, mengapa?” kata Alfrida.

Ia mengatakan kewirausahaan merupakan program nasional. Mahasiswa diberikan modal usaha. Uncen sejak tahun lalu menggiatkan program kewirausahaan bagi mahasiswa dan alumni.

Alfrida berharap tahun ini Jimi mengikuti program tersebut. Namun, diharapkan tidak melupakan kuliah.

“Dia juga sebaiknya berkomunikasi dengan dosen wali dan kampus tentang apa yang dialami sehingga bisa dicarikan jalan keluarnya. Termasuk memberikan kesempatan kepadanya untuk mendapatkan modal usaha,” katanya.

Membuka usaha merupakan hal positif bagi mahasiswa. Dengan demikian, usai lulus mereka tidak melulu lamar menjadi ASN, tetapi menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan orang lain. (*)

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top