HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Dampak terlambatnya pencairan dana Otsus

Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura usai memberikan sosialisasi kepada pelaku UMKM di Kampung Yoka – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Kelancaran kegiatan pembinaan UMKM di Kota Jayapura terhalang terlambatnya pencarian dana Otonomi Khusus. Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura khawatir berdampak kepada semangat berusaha calon penerima bantuan.

Terlambatnya pencairan dana Otonomi Khusus (Otsus) berdampak pada pemberian bantuan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan kinerja Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kota Jayapura.

Dana Otsus tersebut digunakan untuk kegiatan pelatihan, pendampingan, sosialisasi, dan pemberian bantuan kepada koperasi. Kegiatan tersebut bertujuan menyejahterakan warga untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, mandiri, dan berdaya saing untuk mengembangkan usaha.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Jayapura Robert L. N Awi menyatakan akibat terlambatnya dana Otsus hampir semua kegiatan di Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura terhambat.

Loading...
;

“Sebanyak 80 persen anggaran kegiatan kami bersumber dari dana Otsus karena berhubungan dengan pemberdayaan pendampingan, sekaligus pembinaan kepada pelaku UMKM khususnya Orang Asli Papua (OAP),” ujar Awi, usai kegiatan sosialisasi di Kampung Yoka, Sabtu, 6 Juli 2019.

Awi menjelaskan bahwa kegiatan pendampingan sejak Februari 2019 hingga Juni terpaksa dihentikan karena belum ada anggaran untuk membayar tenaga pendampingan UMKM yang tersebar di lima distrik.

Akibatnya sekarang pelaku usaha tidak lagi ada yang mendampingi.

“Kami khawatir apabila kegiatan pendampingan tidak dilakukan maka menyebabkan menurunnya kualitas pengelolaan usaha maupun keuangan pelaku usaha yang selama ini sudah didampingi,” katanya.

Selain itu, keterlambatan juga berefek pada penerima bantuan. Orang-orang yang tadinya sudah disiapkan untuk mendapatkan bantuan tidak lagi terpantau, akibatnya pada saat penerimaan bantuan sudah tidak bisa lagi menentukan dengan fair, yaitu siapa saja yang boleh menerima bantuan dan tidak.

“Sehingga program kami yang sudah berjalan empat tahun, mungkin mengalami kendala yang sangat berat di tahun ini, akibat ketiadaan dana yang bersumber dari dana otsus, padahal kami sudah memprogramkan,” katanya.

Akibatnya, Awi menginstruksikan kepada bidang terkait untuk bernisiatif, yaitu pendampingan yang tadinya dilakukan fasilitator seminggu dua kali, diimbau untuk melakukan pemdampingan minimal satu bulan sekali.

Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura juga sudah menyampaikan ke penerima bantuan tentang keterlambatan dana Otsus dan belum jelas kapan cairnya.

“Kami khawatir nantinya ada kekecewaan pelaku usaha dan akhirnya tidak semangat untuk berusaha, kami sampaikan bahwa kami juga sedang menunggu perkembangan dari dana Otsus, kalau sudah turun kami tetap fasilitas, sesuai yang sudah kami sampaikan kepada pelaku usaha kami,” katanya.

Berdasarkan jadwal, kata Awi, mestinya dana pemberdayaan ekonomi masyarakat khusus OAP (Orang Asli Papua) tersebut sudah diberikan kepada penerima pada Agustus 2019. Tentu saja jika dana tak kunjung cair program tidak jalan tahun ini.

Kota Jayapura mendapatkan Rp7 miliar dari dana Otsus untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat khusus OAP. Selain untuk disalurkan ke penerima dan pendirian koperasi, dana juga digunakan untuk pendampingan, pemberian gaji kepada 31 fasilitator. Fasilitator terdiri dari empat bidang, yaitu bidang perdagangan 10 orang, industri 6 orang, koperasi 5 orang, UMK 10.

“Kami meminta perhatian dari Pemerintah Provinsi Papua agar bisa membantu mendesak pemerintah pusat untuk segera mencairkan dana tersebut, sebab sampai hari ini kami berjalan tertatih-tatih untuk pendampingan,” katanya.

Awi menambahkan kegiatan yang bersumber dari dana Otsus untuk fisik belum ada yang jalan. Kegiatan tersebut adalah pembangunan koperasi, pemberian bantuan, pemberian modal usaha, kegiatan pelatihan manajemen usaha dan pengelolaan keuangan, sosialisasi, kegiatan kunjungan ke palaku usaha, dan pendampingan.

“Sama sekali nol persen untuk kegiatan fisik yang bersumber dari dana Otsus tahun ini, pendampingan kami hentikan karena kami sudah tidak punya dana untuk membayar gaji fasilitator,” ujarnya.

Selain itu realisasi fisik dan keuangan 100 persen pada 2018. Sementara, untuk 2019 realisasi fisik sudah diatas 50 persen (DAK, DAU, DID) dan keuangan baru 7 persen.

Kepala Bidang Industri Kecil Menengah Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura, Susianti, mengatakan pendampingan kepada pelaku UMKM memang belum dimulai karena dana belum ada.

Namun ia berharap kepada pelaku usaha agar tetap semangat, tetap berusaha, dan tetap melakukan pembukuan.

“Usaha mikro yang kami bina seperti kios, kue, atau modal usaha di bawah Rp50 juta, untuk sementara itu kami ambil alih pendampingannya,” ujarnya

Tahun ini ada 100 pelaku usaha yang didampingi selama setahun. Mereka diajari pembukuan.

“Untuk mengetahui perkembangan usaha setiap minggu, pembukuan dilaksanakan atau tidak,” katanya.

Pelaku usaha kios dan kerajinan tangan di Kampung Yoka yang tercatat akan menerima, Ubertina Tukayo, mengatakan akan tetap semangat berjualan.

“Sebagai ibu rumah tangga, jualan dari hasil usaha kios dan kerajinan tangan merupakan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai anak sekolah, saya berdoa agar dana Otsus segera cair agar usaha kami dapat berkembang,” katanya.

Ia mengakui pendampingan yang diterimanya sangat bermanfaat karena menaikkan penghasilannya dari sehari Rp200 ribu sampai Rp500 ribu menjadi Rp1 juta lebih.

“Saya usaha sejak 2006, asal bisa atur manajemen keuangan dan pembukuan yang bagus maka usaha bisa berkembang, saya bersyukur adanya pendampingan dari Disperindagkop karena membantu kami mengembangkan usaha,” ujarnya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top