Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

DAP versi KLB minta pelajar dan mahasiswa Papua segera dipulangkan

Ribuan warga dari tiga suku besar di Wilayah Adat Lapago-yaitu Suku Huwula, Suku Yali, dan Suku Lanny-berunjukrasa di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (26/8/2019) untuk menolak rasisme terhadap orang Papua. – Dok. Bonny Lanny

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dalam unjukrasa ribuan di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (26/8/2019), Dewan Adat Papua versi Kongres Luar Biasa atau DAP versi KLB menuntut pemerintah segera memulangkan para pelajar dan mahasiswa Papua yang bersekolah di luar Papua. DAP versi KLB juga akan mengadukan kasus rasisme terhadap para mahasiswa Papua kepada Komisi Masyarakat Adat Perserikatan Bangsa-bangsa.

Hal itu dinyatakan Ketua Dewan Adat Papua atau DAP versi KLB, Dominikus Surabut saat membacakan tuntutan aksi tersebut di hadapan para pengunjukrasa di Wamena. Unjukrasa itu adalah demonstrasi lebih dari 7.000 warga dari tiga suku besar di Wilayah Adat Lapago-yaitu Suku Huwula, Suku Yali, dan Suku Lanny-untuk menolak persekusi dan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Jawa Timur pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu.

Surabut menegaskan, pemerintah daerah di Papua harus berkoordinasi untuk segera memulangkan para pelajar dan mahasiswa Papua yang bersekolah di luar Papua.”Kami meminta pemerintah segera memulangkan anak-anak kami, mahasiswa Papua, dari seluruh kota studi di Indonesia,” kata Surabut.

Surabut menyatakan praktik diskriminasi, persekusi, dan rasisme terhadap para mahasiswa Papua terjadi karena model nasionalisme Indonesia. “Nasionalisme Indonesia membuat rasisme ini terulang. Ya sudahlah, [kami ingin rasisme itu] diakhiri saja dengan pemulangan anak-anak kami,”ungkapnya.

Loading...
;

Selain meminta pemulangan para pelajar dan mahasiswa Papua yang bersekolah di luar Papua, Dewan Adat Papua versi Kongres Luar Biasa juga menyatakan akan membawa kasus rasisme itu kepada Komisi Masyarakat Adat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). “Kami menuntut masalah rasisme itu dibawa kepada mekanisme internasional. [Kami akan melaporkan tindakan rasisme itu] Komisi Masyarakat Adat PBB,” kata Surabut.

Di Kantor Bupati Jayawijaya di Wamena, sejumlah pemimpin unjukrasa itu berorasi mengencam kasus persekusi dan rasisme yang dialami para mahasiswa Papua di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Bonny Lanny, seorang aktivis dan warga Wamena, menyatakan tuntutan pemulangan para pelajar dan mahasiswa Papua muncul dalam orasi para pemimpin unjukrasa itu. “Selain itu, aspirasi utama lainnya adalah tuntutan agar para pelaku rasisme [di Surabaya] segara diadili,” kata Bonny Lanny.

Meskipun unjukrasa di Wamena berlangsung dengan damai, seorang warga kota Wamena bernama Nato Dawi menuturkan demonstrasi itu membuat banyak toko di Wamena memilih tutup. Dawi menyebut aktivitas di Wamena nyaris lumpuh. “Kios-kios, perkantoran, dan sekolah di Wamena sunyi dari aktivitas,” ungkapnya melalui telepon seluler. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top