Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Dari minimnya siswa hingga tak layaknya bangunan sekolah

Salah satu RBK SMAN Satap Senayu yang sedang dirampungkan – Jubi/Frans L Kobun

ANTARA hidup dan mati. Begitulah kondisi pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Plus Satu Atap (Satap) Senayu di Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke.

Betapa tidak, selain bangunan sekolah tidak layak, jumlah siswa-siswi juga sangat minim. Banyak orang tua memilih menyekolahkan anaknya ke tempat lain, karena fasilitas pendukung di SMAN Satap Senayu sangat minim.

Bahkan selama kurang lebih dua tahun, kegiatan belajar mengajar untuk siswa Kelas III, harus dilangsungkan digarasi motor guru. Karena tak ada gedung yang dipersiapkan.

Beberapa waktu lalu, atas inisiatif dan kesepakatan bersama para guru, sehingga mengumpulkan dana untuk pembangunan dua ruangan kelas I dan II. Itupun berdinding papan dan berlantai tanah.

Kepala SMAN Plus Satap 4 Senayu-Merauke, Nikson T Notanubun yang ditemui Jubi Selasa, 17  September 2019, mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir, atas kerja sama para guru dan anak didik, satu ruangan kegiatan belajar (RKB) dibangun menggunakan dana bantuan operasional sekolah (BOS).

Loading...
;

“Itupun berdinding papan dan lantai tanah. Kami tak memiliki anggaran besar  membangun tembok dan melantai tanah dengan semen. Kondisi demikian tak bisa dipaksakan. Intinya adalah bangunan berdiri dan proses belajar mengajar dapat dilangsungkan,” ungkapnya.

Kurang lebih empat hari, pembangunan satu unit RKB dikerjakan secara gotong royong  oleh  guru dan siswa-siswi. Jika tak ada hambatan, hari ini atau besok sudah dapat dirampungkan. Bangunan dimaksud berukuran 6×6 meter/segi yang bisa menampung sekitar 15 siswa.

Dikatakan, pada tahun-tahun sebelumnya, banyak orang tua datang mendaftarkan anaknya di sekolah ini. Hanya begitu melihat kondisi bangunan serta fasilitas pendukung seperti kursi  dan meja tak layak, akhirnya anak mereka dipindahkan ke sekolah lain.

Orang tua, katanya, lebih memilih mencari sekolah dengan fasilitas memadai, meskipun jarak tempuh sangat jauh. “Bayangkan saja, anak-anak ke sekolah di SMA Agrindo, Jagebob harus menempuh perjalanan antara 15-16 kilometer,” ujarnya.

Bahkan, ada yang harus sekolah ke SP-7, Kampung Hidup Baru. Karena disitu terdapat sekolah menengah kejuruan (SMK). “Ya, kami tak bisa melarang anak-anak ke sekolah lain. Mungkin itulah pilihan orang tua, setelah melihat kondisi bangunan SMAN  Plus Satap Senayu yang tidak layak,” katanya.

Dijelaskan, data siswa aktif untuk SMAN Plus Satap Senayu sampai sekarang adalah kelas X terdapat 6 orang, kelas XI terdapat 6 orang dan kelas XII terdapat 9 orang. Meskipun jumlahnya sangat minim, namun kegiatan belajar mengajar tetap berjalan sebagaimana biasa karena tenaga guru selalu berada di tempat tugas.

Dia mengaku, beberapa kali mendapatkan rekomendasi dari Bupati Merauke, Frederikus Gebze untuk dialokasikan anggaran pembangunan beberapa unit bangunan sekolah. Hanya saja, tak ada tindaklanjut sampai hari ini. “Saya sendiri tidak tahu kendalanya dimana,” ujarnya.

Diakui jika sekolah Satap, regulasinya berbeda dan itu kewenangan di tingkat provinsi. Namun perlu diketahui bahwa anak didik termasuk bangunan sekolah merupakan aset daerah.

Ketua Komite SMPN/SMAN Satap Senayu, Selestinus Gewo – Jubi/Frans L Kobun

“Saya sudah bosan dan cape, karena beberapa kali membuat proposal sekaligus menghantar langsung ke provinsi, tetapi tak ada jawaban juga,” tegasnya.

Diharapkan perlu ada tim khusus melakukan pengkajian terhadap sekolah-sekolah di kampung, agar tidak diabaikan begitu saja, terutama di kampung lokal yang didiami orang asli Papua.

“Memang kalau dibandingkan bangunan sekolah maupun sarana pendukung lain di lokasi eks-transmigrasi dengan sekolah di kawasan orang asli Papua, sangat jauh. Ini fakta sesungguhnya yang terjadi,” ungkapnya.

Notanubun juga mempertanyakan kunjungan pengawas yang dilakukan secara rutin tiap bulan ke sekolah. Sekaligus menginventarisir berbagai persoalan di sekolah. Tetapi tak ada penyelesaian.

Dikatakan, sejak tahun 2010, ia bersama kepala sekolah mendirikan SMPN Senayu. Dalam perjalanan, kepala sekolah sakit, sehingga dirinya melanjutkan sendiri.

Pada tahun 2015 silam, ia melihat angka putus sekolah sangat tinggi. Dimana anak-anak yang tamat SMP, tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Akhirnya diambil langkah membuka sekolah dimaksud. Hanya saja, fasilitas mulai dari bangunan dan lain-lain, hingga sekarang masih sangat kurang.

Sementara Ketua Komite SMPN/SMAN Satap Senayu, Selestinus Gewo mengatakan, berbagai usulan sekolah maupun komite untuk pembangunan sekolah maupun penambahan fasilitas lain ke pemerintah setempat, hanya sampai sekarang tak ada tindaklanjut.

“Kami orang asli Papua harus diberikan perhatian. Karena pendidikan sangat penting bagi anak-anak. Dengan fasilitas yang mendukung, tentunya anak-anak akan betah mengikuti proses belajar mengajar dengan tenang,” katanya.  (*)

Editor      : Yuliana Lantipo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top