Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Dari peduli sampah hingga aktivitas seni

Anak-anak di Kampung Yokiwa sedang membuat replika ikan gabus dari kumpulan plastik dan botol bekas. Replika ini dimaknai bahwa ikan gabus asli Sentani kini dipenuhi dan dicemari sampah akibat ulah manusia – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

SEJAK beberapa hari terakhir anak-anak Yokiwa memungut sampah plastik. Mereka tersebar di pinggiran danau Sentani dan beberapa sungai.

Aksi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap alam dan lingkungan serta komitmen menjaga kelangsungan ekosistem di danau Sentani beserta sungai yang bermuara padanya.

Mereka juga melatih kreativitas dan jiwa seninya dengan melukis. Ignasius Dicky Takndare, perupa Papua yang selama ini menetap di Yogyakarta, datang membimbing kumpulan anak-anak dan pemuda di kampung tersebut.

“Karya-karya mereka akan dipamerkan 27 Februari 2019 hingga 1 Maret 2019 di sini,” kata Dicky, demikian alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini disapa, ketika diwawancarai Jubi, Kamis, 21 Februari 2019.

Loading...
;

Kampung Yokiwa berada di Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Ditempuh sekitar satu sampai dua jam dengan mobil dari Abepura, Kota Jayapura. Atau sekitar lima puluh menit dengan motor, melewati Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura.

Di Kampung Yokiwa, kreativitas anak-anak diasah dan dikembangkan di Aliakha Art Center (AAC).

AAC adalah sebuah pusat kesenian yg dibentuk oleh sepasang suami istri, Markus Rumbino dan Irma Awoitauw. Wadah ini dibentuk untuk memenuhi kebutuhan pengembangan potensi seni dan budaya lokal di kampung Yokiwa dan Papua.

Platform ini diharapkan akan menjadi gerbang bagi seniman-seniman lokal dan dari luar Papua, yang ingin mempromosikan karyanya.

“Untuk periode Februari 2019, atau program pertama AAC ini kami menghadirkan seniman Ignasius Dicky Takndare yang sebenarnya adalah putra Sentani sendiri. Dicky tinggal di AAC mulai tanggal 6 Februari hingga penutupan kegiatan pada 1 Maret nanti,” ujar Rumbino.

Untuk kelas dewasa dua pemuda Yokiwa terlibat sebagai seniman residensi, yakni Brian Suebu dan Freddy Monim. Pelatihan soal dasar-dasar pengetahuan seni rupa, pembahasan konten lokal, hingga pembuatan karya.

Brian dan Freddy akan dibimbing menghasilkan karya pribadinya. Begitu pula anak-anak, yang jumlahmya tidak lebih dari 20 orang.

Dalam bahasa Sentani, Khayouw adalah sebutan untuk ikan gabus asli danau Sentani. Khayouw dianggap semakin punah oleh karena keberadaan sampah plastik. Maka, dalam sesi itu mereka membuat replika ikan gabus yang ditutupi plastik.

Ikan gabus sepanjang 10 meter dan tinggi 4 meter dibuat dari bahan-bahan plastik yang dibuang masyarakat di danau dan kali. Dikumpulkan sejak 16 Februari 2019.

“Kami juga belajar buat sketsa,” kata Brian Suebu.

Aksi angkat sampah juga melibatkan komunitas Papua Trada Sampah. Mereka melakukan kerja bakti di  sungai Itauwfili, kampung Yokiwa, hingga Telaga Emfote (Danau Love). Dari aksi tersebut dikumpulkan 52 kantung sampah plastik. Sampah sampah inilah yang akan menjadi bahan dasar pembuatan karya-karya peserta.

“Kami ingin mengirimkan pesan untuk masyarakat Sentani maupun Papua umumnya, bahwa sampah plastik adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan kelak akan menjadi ancaman yang sangat serius bagi manusia. Ikan plastik ini akan menjadi simbol peringatan itu,” katanya.

Aksi anak-anak Yokiwa tak berkaitan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 21 Februari. Tapi bentuk kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Di Kota Jayapura, sekelompok anak muda menyuarakan kebersihan kota dengan aksi berbeda.

Di kawasan Lingkaran Abepura dan Pasar Youtefa, sekitar 100 anak muda dari berbagai komunitas, yang tergabung dalam Forum Komunitas Jayapura membentangkan poster-poster dan spanduk. Mereka berharap agar masyarakat lebih bijak membuang, mengelola, dan meminimalisasi penggunaan sampah plastik dan sampah-sampah lainnya.

“Kita tahu bahwa salah satu penyebab bencana alam seperti banjir itu dari sampah-sampah yang menumpuk dan membuat saluran air tidak dapat mengalir dengan baik,” kata Fredy Edi, Ketua Forum Komunitas Jayapura.

Kegiatan ini juga diikuti mahasiswa jurusan kesehatan lingkungan Poltekes Jayapura. Dia mengakui sudah mempersiapkan kegiatan ini selama dua hingga tiga minggu sebelumnya.

Soal sampah bukan hanya persoalan pemerintah atau pihak tertentu, tapi persoalan bersama. Maka dari itu, harus diselesaikan hingga ke akar-akarnya, yaitu perilaku kita sendiri.

“Kita harus saling sinergi untuk peduli terhadap lingkungan, kalau tidak bisa membersihkan sebisa mungkin untuk tidak mengotori,” katanya.

Pengguna jalan juga diminta untuk tidak membuang sampah di jalanan karena jalanan bukan tempat sampah.

“Mari kita mulai dari diri kita dan keluarga kita untuk bisa meminimalisir sampah yang timbul, dan juga bisa mengelolanya menjadi sesuatu yang bermanfaat,” kata Gamel Abder Nasser, koordinator aksi.

Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Jayapura menyebutkan, 4.000 ton sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tiap bulannya. Ribuan sampah itu merupakan gabungan dari sampah umum, pasar, dan sampah rumah tangga.

Dosen Geografi Universitas Cenderawasih, Yehuda Hamokwarong, mengatakan data sampah itu adalah sampah di daratan. Kalau ditambah di laut diperkirakan dua sampai tiga kali lipat jumlahnya. Karena itu Pemkot Jayapura perlu menyiapkan armada dan tenaga yang sama seperti di darat.

Hal ini penting karena sampah kota yang tidak terangkut dan ke teluk Numbay dan teluk Youtefa bisa sama banyak atau lebih dari sampah di darat.

“Ini harus jadi perhatian serius pemkot,” katanya. (*)

Editor: Angela Flassy

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top