Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Daya beli menurun, Pasar Hamadi sepi pembeli

Seorang penjual komoditas pangan lokal di Pasar Hamadi sedang merapikan dagangannya – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Jayapura, Jubi – Tren penjualan sejumlah komoditas pangan di Pasar Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, turun dalam beberapa minggu terakhir. Turunnya daya beli masyarakat diduga menjadi penyebab sepinya transaksi jual beli di pasar ini. Sejumlah komoditas pangan lokal yang diketahui menurun diantaranya bete, keladi, singkong, dan ubi ungu.

Salah satu penjual komoditas pangan lokal, Angelina Tabuni mengatakan, sepinya pembeli dirasakan sejak awal Januari 2019, meski stok dan harga masih tetap stabil.

“Harganya tidak naik dan tidak turun. Stoknya juga ada, tidak kosong. Satu hari kadang laku Rp500 ribu saja. Buat biaya anak sekolah dan uang makan sehari-hari,” ujarnya saat ditemui dilapaknya di Pasar Hamadi, Jumat (15/2/19).

Tabuni mencontohkan, penjuala bete bila hari-hari besar keagamaan seperti lebaran Idul Fitri dan Natal, dalam sehari terjual hingga 100 tumpuk. Namun saat ini hanya laku lima tumpukkan saja.

Loading...
;

“Sekarang ini kadang lakunya hanya lima tumpuk. Harga satu tumpuk Rp50 ribu isi delapan buah. Satu karung kalau sekarang harganya Rp800 ribu, kalau pas mau lebaran Idul Fitri dan Natal, satu karung harganya Rp1 juta, biar mahal orang beli karena dibutuhkan dan orang laku bisa Rp2 juta sampai Rp5 juta,” katanya.

Tabuni mengaku membeli keladi, bete, singkong, dan ubi ungu dari pedagang asal Arso, Koya, Keerom, Sarmi dan Genyem, yang dijual di Pasar Youtefa, bahkan ada juga yang didatangkan di Pasar Hamadi.

“Harga satu karung bervariasi. Kalau bete sekarang harganya Rp800 ribu, singkong Rp300 ribu, dan keladi Rp700 ribu. Dari dulu harganya tidak pernah berubah, tidak naik tidak turun,” ungkapnya.

Akibat sepinya pembeli, tak jarang penjual harus membuang yang busuk akibat tidak laku terjual.

“Saya rugi juga kalau tidak laku. Satu kali jualan laku semua boleh, itu banyak untungnya,” jelasnya.

Sepinya peminat komoditas pangan lokal juga dirasakan, Mince Tabuni. Dalam sehari, ia hanya bisa mengantongi Rp500 ribu. Padahal saat mendekati lebaran dan Natal, ia bisa mengantongi hingga Rp3 juta.

“Sekarang sepi pembeli. Barang kadang tinggal busuk, baru saya belinya mahal satu karung. Bete sekarang harganya Rp800 ribu, kalau lebaran atau Natal, harganya bisa Rp1 juta. Saya jualan buat kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak sekolah. Saya sudah 20 tahun jualan,” ungkapnya.

Mince mengaku, pembeli yang datang berbelanja dagangannya dari warga Kota Jayapura. Bahkan, ada juga yang dari Papua Nugini. (*)

 

Editor : Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top