Deforestasi mendangkalkan Danau Paniai dan mengirim banjir ke Sima

Deforestasi mendangkalkan Danau Paniai dan mengirim banjir ke Sima

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua John NR Gobay memimpin konsultasi publik membahas perhutanan Papua di Jayapura, Selasa (12/3/2019) – Jubi/Hengky Yeimo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Deforestasi yang terjadi di sekitar Danau Paniai, Kabupaten Paniai, Papua telah mendangkalkan danau yang disebut-sebut sebagai salah satu danau terindah di dunia itu. Kedalaman danau yang pada masa 1970-an berkisar 300 meter pada tahun 2016 tinggal tersisa sekitar 70 meter, karena sedimen tanah tererosi terus masuk ke Danau Paniai.

Kondisi memprihatinkan dari salah satu danau terbesar di Papua itu menjadi salah satu pembahasan dari konsultasi publik tentang kondisi hutan di Papua yang digelar Dewan Perwakilan Rakyat Papua di Jayapura, Papua, Selasa (12/3/2019). Pemerhati Danau di Papua, Fransiskus Xaverius Magai menyatakan pendangkalan di Danau Paniai terjadi karena deforestasi besar-besaran di sekitar danau yang terletak di ketinggian 1.740 meter dari permukaan laut itu.

Hutan di sekitar Danau Paniai semakin berkurang seiring bertambahnya kebutuhan kayu untuk membangun rumah dan pagar, membuat perahu, dan kebutuhan sehari-hari warga. “Sungai Eka, Sungai Agadide, Sungai Kopo, dan Sungai Enarotali semuanya bermuara ke Danau Paniai. Setiap kali hujan, aliran sungai-sungai itu membawa edapan tanah yang tererosi. Selain itu pedangkalan Danau Paniai juga disebabkan dampak pembangunan jalan. Kini, sampah pun masuk mendangkalkan Danau Paniai,” kata Magai.

Magai menyebutkan pendangkalan Danau Paniai membuat air danau meluap jika terjadi hujan lebat, dan pada 2016 telah menimbulkan banjir bandang besar. “Kondisi danau itu semakin parah karena sekarang danau dipenuhi enceng gondok. Pemerintah bersama masyarakat adat harus merehabilitasi hutan di sekitar danau, dan membersihkan sampah di sungai yang bermuara ke Danau Paniai,” kata Magai.

Dalam konsultasi publik yang sama, Sekertaris Suku Yeresiam Gua Robertino Hanebora mengeluhkan deforestasi di Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, telah membuat Kampung Sima mendapat kiriman banjir setiap musim penghujan. Hanebora menyebut banjir kiriman itu dampak dari deforestasi Hak Pengusahaan Hutan yang marak pada tahun 1980-an, karena fenomena banjir kiriman itu tidak pernah terjadi sebelum tahun 1982.

“Pada beberapa tahun terakhir, hujan deras hampir selalu membuat rumah para warga Kampung Sima tergenang. Banjir besar terjadi di Kampung Sima pada 2016, dan seharusnya membuat pemerintah mengupayakan penanganan banjir kiriman ke Kampung Sima,” kata Hanebora kepada Jubi.

Hanebora menyatakan banjir menjadi semakin parah ketika dua sungai yang mengapit kampung itu menjadi tempat pembuangan limbah sawit. Hanebora  mempertanyakan tidak adanya upaya Pemerintah Kabupaten Nabire mencegah banjir kiriman ke Kampung Sima, mengingat wilayah Suku Yerisiam Gua yang mendiami Kampung Sima turut menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah melalui hasil hutan, perikanan, perkebunan, dan menjadi daerah tujuan wisata. “Kami usulkan agar pemerintah dapat menanggulangi bencana ini untuk jangka panjang. Jangan membuat sesuatu yang kemudian akan rusak lagi,” katanya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua John NR Gobay mengatakan konsultasi publik pada Selasa berupaya mengumpulkan seluruh persoalan terkait pengelolaan hutan di Papua, agar program dan proyek yang dikerjakan Pemerintah Provinsi Papua sesuai dengan persoalan yang dialami warga, khususnya masyarakat adat pemilik hutan ulayat.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)