Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Deiyai sudah kondusif, polisi diminta bebaskan 13 pemuda

Massa aksi tolak rasisme di Deiyai kibarkan bendera Bintang Kejora di halaman kantor Bupati Deiyai, 21 Agustus 2019 – Melison Dogopia for Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Pada apel gabungan , Senin, (30/9/2019) di halaman kantor Bupati Deiyai, Bupati Ateng Edowai menegaskan, kondisi keamanan di Kabupaten Deiyai sudah aman dan kondusif. Apel tersebut dihadiri pegawai ASN di lingkup Pemkab setempat dan TNI dan Polri.

Pernyataan Bupati Edowai itu ditanggapi seirus oleh tokoh pemuda Deiyai, Mando Mote. Ia mengatakan jika sudah kondusif maka pihaknya meminta kepada Kepolisian Resort (Polres) Paniai agar membebaskan sembilan pemuda Deiyai yang ditahan di rumah tahanan (Rutan) Polres Paniai pasca aksi penolakan rasisme 28 Agustus 2019 di Waghete.

“Kami meminta kepada Pemda Deiyai dan Polres Panai supata para pemuda Deiyai yang masih ada di tahanan segera dibebaskan. Jika benar-benar sudah kondusif. Kan mereka ditahan lantaran situasi tidak aman,” ujar Mando Mote kepada Jubi melalui telepon  selularnya, Senin,(7/10/2019).

Mando juga mengatakan, Bupati, TNI dan Polri juga telah melakukan kesepakatan damai. Berarti ia menduga perdamaian antara tiga pihak merupakan wujud dari pulihnya kondisi keamanan sekaligus bebaskan para tahanan. “Kami sudah tahu ada kesepakatan antara Bupati Deiyai, Kapolres Paniai, dan Pabung Dandim Paniai. Kalau sepakat damai, ya minta agar ketiga pimpinan segera bebaskan mereka tanpa syarat yang masih tahanan di Polres Paniai,” katanya.

Pada apel gabungan itu, Bupati Ateng Edowai minta kepada masyarakatnya agar kembali ke kampung (rumah) masing-masing untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Bupati juga sudah tekankan agar pihak TNI yang masih melakukan pencarian satu pucuk senjata api (senpi) agar berhenti.

“Biar senjata itu kami dari tim Pemda yang akan carikan. Kalau aparat yang cari menambah trauma bagi warga,” ujar Bupati Ateng.

Loading...
;

Menurut Mando, para pemuda yang ditahan, sejujurnya karena melakukan protes terhadap kejahatan rasisme di Deiyai. Bukan melakukan karena melakukan hal-hal yang tidak humanis.

Ibadah pemulihan dinilai tak layak

Sementara itu, anggota DPRD Deiyai, Alfret Pakage menyindir ibadah pemulihan yang dilakukan Pemkab setempat pada Jumat, (5/10/2019). Menurut Pakage selayaknya ibadah tersebut dilakukan setelah para tahanan dikeluarkan dari rutan Polres Paniai.

“Saya kira ibadah ini tidak cocok, harusnya mereka yang adadi penjara itu keluar dulu baru ibadah sama-sama,” kata Alfret.
Menurutnya, ibadah mencucikan darah manusia yang berhamburan di komplek kantor pemerintah telah selesai, kapan mereka dibebaskan? “Ya, kapan kita bebaskan mereka yang ada di penjara,” ucapnya.

Sebab menurutnya, para tahanan itu dipenjara bukan pelaku pembunuh terhadap anggota TNI yang meninggal dunia namun sesungguhnya mereka justru korban tindakan kekerasan aparat keamanan.

“Mereka yang ada di penjara ini bukan pelaku, saya saksi mata. Kita jangan happy-happy dengan ibadah. Saya rasa ini lucu,” kata Alfret.

Sependapat juga diungkapkan Manor Mote. Dalam rangka Deiyai aman dan damai telah melakukan ibadah pemulihan pasca terjadi peristiwa aksi protes kejahatan rasisme yang berujung puluhan masyarakat sipil korban.

“Itu langkah yang baik dan kami apresiasi sehingga pelayanan dan pembangunan ke depan tidak terhambat. Tapi jangan lupa dengan mereka yang ada di tahanan. Simpel kan, Deiyai damai, tahanan dibebaskan,” ujarnya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top