Dia sudah merintis jalan untuk emansipasi bangsanya

Dia sudah merintis jalan untuk emansipasi bangsanya

Pater Neles Tebay semasa hidupnya – katoliknews.com

In Memoriam Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebay

Oleh : Cypri Jehan Paju Dale

KABAR menyesakkan itu datang di hari Minggu siang (14/04). Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebay meninggal dunia di RS Carolus Jakarta pada usia yang masih terbilang muda, 55 tahun. Kebadabi— nama adat yang dianugerahkan kepadanya pada saat pentahbisannya sebagai imam Katolik tahun 1992— berarti “orang yang membuka jalan”, “sang perintis jalan”. Dia tidak membuka jalan fisik seperti pemerintah Belanda dan Indonesia yang getol membangun infrastruktur darat, laut, sungai dan udara di atas tanah airnya. Tetapi orang Papua, yang sekarang berkabung atas kepergiannya, tahu bahwa dia sudah merintis jalan emansipasi bangsanya. Dan mereka akan melanjutkan perjalanan yang telah dimulainya itu.

Kontak terakhir
Kabar sakit yang kemudian menjadi etape terakhir perjalanan Pater Neles mengagetkan banyak pihak. Saya sendiri masih mendapat pesan WA darinya pada pertengahan Januari 2019. Pesan itu terkesan tiba-tiba karena sudah cukup lama sebenarnya (sejak 2016, saat saya masih melakukan penelitian lapangan di Papua) kami tidak bertukar kabar. Dalam pesan itu Pastor Neles mengapresiasi tulisan saya yang berjudul “Penjajahan Lewat Pembangunan di Papua”. Begini isi pesan itu, “Selamat siang bung Cypri. Tulisanmu ttg penjajahan melalui pembangunan memberikan cara pandang baru untuk pahami realitas sosial dan paham di belakang kegiatan pembangunan di tanah Papua. Saya salut dan beri apresiasi yang tinggi atas tulisan penting ini. Semoga kami tidak tersesatkan oleh pernyataan2x yang kedengarannya baik tapi mengandung niat yang jahat. Sekali lagi terimakasih banyak atas tulisanmu. Tuhan jaga.”

Waktu itu saya heran dengan WA yang muncul setelah lama tidak berkontak itu. Pasalnya, artikel yang diapresiasi Pater Neles itu sebenarnya tulisan lama dipublikasikan pada Mei 2016 (bisa dibaca di sini https://www.rappler.com/indonesia/133896-penjajahan-lewat-pembangunan- papua atau di sini http://www.sastrapapua.com/2016/06/penjajahan-lewat- pembangunan-di-papua.html). Mengapa Pater Neles baru mengapresiasinya setelah tiga tahun? Sekarang saya menafsirkan keanehan itu sebagai berikut. Bahwa Pater Neles di akhir masa hidupnya hendak memberi penekanan pada pentingnya membaca situasi di Papua bukan sekadar sebuah konflik Pusat vs daerah yang dapat diselesaikan dengan dialog pembangunan, tetapi sebuah situasi kolonialisme yang antara lain bekerja lewat proyek-proyek pembangunan itu. Setelah sekian tahun percaya pada niat baik Jakarta akan untuk terwujudnya dialog yang substansial dan menyeluruh, Pater Neles tahu bahwa pembangunan itu bisa merupakan selubung dari kolonilisme baru yang dapat menjebak orang Papua secara permanen dan melemahkan daya tahan mereka untuk menjadi manusia berdaulat di atas tanah air mereka sendiri.

Komplesitas Gereja Katolik
Pastor Neles adalah putra Papua yang memiliki posisi dan peran strategis di dalam Gereja Katolik Papua. Terakhir dia adalah Ketua (Rektor) Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT Fajar Timur), tempat pendidikan kader pemimpin Katolik Papua.

Ketika saya berkunjung lagi ke Papua pada Februari 2019, saya menghubungi beliau untuk bertemu. Saya juga menawarkan untuk mempresentasikan satu paper saya di STFT Fajar Timur yang dipimpinnya. Saya kirimkan kepadanya abstrak dari paper saya yang berjudul “Kekatolikan, Ideologi Pembangunan, dan Politik (De)kolonisasi di West Papua“. Saya juga memintanya untuk menanggapi tulisan itu. Sayangnya, rupanya waktu itu Pastor Neles sudah berbaring sakit di Jakarta.

Begini jawaban Pater Neles atas permintaan saya, “Terima kasih untuk tulisan ini. Harus didiskusikan di STFT”. Beliau lalu mengarahkan saya untuk berkoordinasi dengan dua orang dosen di STFT, karena “saya sedang perawatan”.

Dalam tulisan itu saya menyoroti keadaan gereja Katolik Papua yang proses pribumisinya (indigenisasi)—yaitu proses pengakaran agama Katolik dari misionaris Barat ke komunitas lokal— terdistorsi oleh proses politik yang saya sebut Indonesianisasi. Posisi-posisi strategis, teologi, dan aspirasi politik dikuasasi oleh elit Katolik non-Papua, sementara posisi orang asli menjadi marginal. Dalam tulisan itu saya mengutip satire yang disampaikan Pastor Neles pada moment perayaan yubileum 50 tahun STFT Fajar Timur 2017 lalu. Dia katakan, “Setelah 50 tahun, STFT Fajar Timur ini semakin berkembang, tetapi orang Papua semakin sedikit. Mahasiswa asli Papua semakin sedikit dari tahun ke tahun. Dosen asli Papua juga hanya tinggal satu orang, yakni yang bicara ini.” Narasi lain yang saya angkat adalah surat Solidaritas Perempuan Katolik Asli Papua saat kunjungan 23 uskup Melanesia ke Jayapura pada 2016. Mereka katakan, “kondisi kehidupan orang asli Papua sekarang ini buruk. Kami mengalami kekerasan dan kematian akibat tindakan brutal militer dan polisi Indonesia. Setiap hari jumlah pendatang terus bertambah. Kami menjadi minoritas di tanah kami sendiri; bahkan di dalam gereja kami sendiri; sementara orang-orang Indonesia menguasai semua aspek kehidupan”. Orientasi teologis dan sikap politik Gereja Katolik Papua, akibatnya, cukup berjarak dari pergumulan emansipasi orang asli Papua.

Paper itu pun akhirnya didiskusikan dalam seminar akademik di STFT. Sayangnya, tanpa kehadiran Pater Neles yang waktu itu berbaring sakit di Jakarta.

Tidak bisakah orang Papua menjadi Uskup?
Satu waktu di tahun 2014 (saya tidak ingat persis bulannya) saya mengunjungi Pastor Neles Tebay di perumahan Dosen STFT Fajar Timur bersama Pastor John Djonga, sahabat dan rekan kerja Pastor Neles di Keuskupan Jayapura yang juga pegiat HAM. Perjumpaan Pastor John dan Pastor Neles selalu merupakan moment yang lucu. Kendati mereka tokoh agama dan pegiat sosial yang serius, ketika berjumpa mereka seringkali main gila atau baku tipu saja (bercanda). Salah satu candaanya kurang lebih begini. Pastor John bilang ke Pastor Neles, “Nai (sapaan sopan untuk laki-laki Mee), mulai sekarang ko jangan terlalu progresif, jangan dulu banyak bicara politik. Awas nanti dorang cegah ko dipilih jadi uskup. Nanti setelah ko sudah jadi uskup baru kita mainkan”. Sambil tertawa Pastor Neles menjawab, “John, ko yang akan dorang angkat jadi uskup. Jadi mulai sekarang ko musti mulai rajin misa dan baca kitab suci, jangan jalan-jalan urus HAM terus”. Kami semua tertawa dengan candaan itu.

Belakangan nama Pastor Neles Tebay disebut-sebut sebagai salah satu calon kuat uskup di Papua. Komunitas orang katolik asli Papua juga gencar menuntut bahwa uskup berikutnya di Papua haruslah Orang Asli Papua. Kenyataan bahwa dari lima keuskupan yang ada tidak ada satupun uskup yang adalah orang asli Papua dimaknai oleh orang Papua (dan juga orang Indonesia lainnya) bukan sebagai “kesalahan Roh Kudus” atau “diskriminasi dari Tuhan Allah”, melainkan bagian dari diskriminasi rasial dan intervensi politik.

Pastor Neles bukan saja sosok pastor asli Papua yang berkapasitas untuk posisi uskup. Dia adalah tokoh agama yang mau terlibat dalam pergumulan emansipasi bangsanya, yang sekaligus memilih cara damai tanpa kekerasan sebagai jalannya. Banyak orang Papua, Katholik maupun bukan, berharap Pastor Neles menjadi uskup, dan sebagai uskup dia akan terus bekerja untuk emansipasi bangsanya lewat jalan damai.

Dialog Jakarta Papua
Lebih dari satu dekade terakhir hidup Pastor Neles diabdikan untuk gerakan perdamaian dan keadilan untuk bangsanya. Pastor Neles adalah inisiator gerakan dialog Jakarta-Papua bersama Dr. Muridan Widjojo (Almarhum; sekarang mungkin dorang dua sedang evaluasi perkembangan dialog di surga) dari LIPI. Sampai akhir hayatnya Pastor Neles merupakan koordinator Jaringan Damai Papua (JDP). Gagasan dasar dialog adalah penyelesaian tuntas konflik antara bangsa Indonesia dan bangsa Papua melalui jalur dialog atau perundingan. Jaringan Damai Papua (JDP) merupakan himpunan orang-orang Papua dan Indonesia yang mengambil peran untuk mendorong terjadinya dialog itu. Dalam dan melalui JDP, Pastor Neles berkerjasama secara intensif dengan berbagai individu dan lembaga di Papua dan di Indonesia pada umumnya. Mereka berasal dari berbagai suku, agama, dan pandangan politik yang berbeda-beda.

Di Papua, JDP menyelenggarakan berbagai kegiatan konsultasi publik untuk menjaring aspirasi rakyat Papua dalam menyusun agenda dialog. Bahkan pada sebuah Konferensi Damai Papua pada 2012, para peserta berhasil memilih 5 juru runding Papua yang siap maju ke meja perundingan dengan Jakarta dalam dialog. Menariknya, lima juru runding itu adalah sekaligus tokoh-tokoh Papua Merdeka. Di Jakarta JDP berusaha menyakinkan pimpinan tertinggi Negara Republik Indonesia dan publik Indonesia untuk menyelesaikan persoalan Papua tidak dengan cara militeristik dan pendekatan Jakarta-sentris, tetapi lewat jalur dialog yang komprehensif. Dalam bahasa Muridan, “dialog tidak membunuh siapapun”. Rejim berganti rejim. Kendati secara retorika Pemerintahan Indonesia sudah menyetujui dialog sebagai jalan untuk penyelesian persoalan Papua, dialog itu belum pernah dijalankan. Terakhir pada tahun 2017 dikabarkan bahwa Pastor Neles Tebay ditunjuk Presiden Joko Widodo untuk mempersiapkan dialog, bersama dengan Menko Polhukam Wiranto dan staf khusus presiden yang berlatar belakang civil society, Teten Mazduki. Dialog itu dikabarkan merupakan dialog sektoral, dengan focus pada pembangunan. Kendati melenceng dari harapan orang Papua akan masuknya persoalan politik sebagai inti dialog, Pastor Neles tampaknya menerima dialog sektoral itu sebagai langkah awal menuju dialog komprehensif (sebagaimana implisit dalam artikelnya ini: https://tabloidjubi.com/artikel-9321-ini-penjelasan-pater-neles- tebay-tentang-penunjukan-dirinya-oleh-presiden-jokowi.html).

Sayangnya pemerintah tidak sepenuh hati menjalankan dialog ini. Sebagai gantinya Jokowi memakai apa yang disebut sebagai “pendekatan kesejahteraan, pendekatan pembangunan”. Titik sentralnya adalah pembangunan infrastruktur dan kawasan Industri, disertai dengan pendekatan keamanan demi mengamankan pembangunan infrastruktur dan investasi. Gagasan dialog dikesampingkan begitu saja, dan dijadikan sebagai penghias proyek pembangunan dan keamanan. Gagasan dialog yang dikedepankan JDP terhadang oleh buldoser pembangunan yang dikawal pasukan bersenjata.

Intelektual Terkemuka
Dr. Neles Tebay adalah salah satu intelektual Papua terkemuka. Gelar Doktor didapatkannya dari Universitas Kepausan Urbaniana di Roma, Italia. Dia aktif menulis baik akademik maupun popular. Selain buku-buku, artikelnya tersebar di berbagai media lokal dan internasional.

Analisisnya tajam. Bahasanya sederhana dan mudah dimengerti. Bicaranya runut dan jenaka. Saya ingat kepingan peristiwa di tahun 2012, saat peluncuran buku Paradoks Papua (yang saya tulis bersama Pastor John Djonga) yang merupakan hasil studi kami tentang paradoks pembangunan dengan contoh kasus di Kabupaten Keerom di Perbatasan dengan Papua New Guinea. Pastor Neles yang memberikan sambutan penutup menyampaikan pandangannya tentang buku itu.

“Sebenarnya inti buku ini hanya dua kata, yaitu dua kata terakhir pada halaman terakhir”. Peserta diskusi ramai-ramai membuka halaman terakhir buku. Di situ tertulis kalimat, “Itu sudah!”, sebuah gaya bahasa popular di Papua untuk memberi penekanan, “demikianlah adanya”.

Pastor Tebay melanjutkan, “Dua kata itu dengan tepat mengungkap dan menganalisis persoalan-persoalan di Papua. Kalau kitong bilang, di Papua ini ada ketidakadilan sistemik, Itu Sudah! Kalau kitong bilang di Papua ini ada eksploitasi sumber daya alam dan marginalisasi Orang Asli, Itu Sudah! Kalau kitong bilang kebijakan otonomi khusus itu bukannya memperbaiki tetapi memperparah eksploitasi dan marginalisasi itu, Itu Sudah! Kalau kitong bilang ada penguasaan oleh orang luar dan oleh perusahaan-perusahaan, Itu Sudah! Kalau orang Papua berjuang untuk melawan ketidakadilan itu, Itu Sudah.”

Setelahnya, Neles Tebay sempat mendorong saya untuk menggandakan penelitian yang sama di 18 kabupaten lain dalam sebuah penelitian yang lebih besar. Saya jawab, penelitian itu sebaiknya dilakukan oleh anak-anak muda Papua, dan saya siap mendukung dari segi metodologinya. Sayangnya ide itu belum kita jalankan sampai Pater Neles wafat.

Perintis Jalan
Suatu hari di akhir Maret 2019 saat bertemu dengan tokoh Papua yang lain, Dr. Benny Giay, kami membicarakan keadaan Pater Neles yang sedang dirawat di Jakarta. Kami khawatir bahwa Pater Neles tidak dirawat serius. Juga kami khawatirkan keamananya sebagai tokoh Papua yang kritis. Salah satu pertanyaan kami, mengapa Pater Neles “hanya dirawat di Jakarta”. Pejabat publik di Indonesia saja banyak yang tidak percaya dengan rumah sakit mereka sendiri, sehingga memilih rawat di Singapura. Kami juga khawatir bahwa sebagai pastor, barangkali Pater Neles tidak memiliki keluarga dan orang dekat yang bisa menjaganya sehari- hari. Pendeta Benny lalu langsung menghubungi seorang tokoh Papua lain yang barangkali dapat membantu secara finansial untuk perawatannya ke luar negeri. Kami sepakat bahwa Pastor Neles harus mendapat perawatan terbaik. Masih banyak harapan yang bersamanya kita hidupkan bersama.

Ternyata Pastor Neles pergi begitu cepat, terlalu cepat. Dia belum sempat menyelesaikan hal-hal yang telah dimulainya. Banyak di antara kita juga yang belum sempat melaksanakan hal-hal yang baik yang sempat kita rencanakan bersama dia. Bahkan kita belum sempat menjenguk atau melakukan sesuatu untuk perawatannya.

Dalam perasaan kehilangan, kita bersyukur atas Pater Neles Tebay dan hal-hal besar dan kecil yang sudah dilakukannya. Bagi saya, Neles Tebay adalah contoh a man of humanity. Dia bekerja lintas sekat-sekat suku, agama, bahasa, bahkan ideologi untuk perdamaian dan keadilan. Bahkan ketika bangsanya berada dalam penguasaan bangsa Indonesia, dia tidak segan bekerja sama dengan orang-orang Indonesia yang berkehendak baik untuk menghentikan penjajahan dan membangun perdamaian dan kesetaraan. Dia secara terbuka mengkritik kesalahan kebijakan Pemerintah Indonesia, tetapi pada saat yang sama menawarkan diri untuk memfasilitasi dialog.

Dia sudah merintis jalan untuk emansipasi bangsanya. Dan bangsa Papua akan melanjutkan apa yang telah dimulainya. Selamat Jalan, Kebadabi! (*)

Penulis adalah peneliti pada Insitute of Social Anthropology, Bern University, Switzerland

Editor : Victor Mambor

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)