Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Diam atau bertindak: Menghadapi masalah HAM di Tanah Papua”

KNPB Mukwar rayakan 71 Tahun HAM se dunia dengan ibadah syukur dan orasi politik. (Jubi/dokumentasi KNPB Mnukwar).

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Valeriano Patrick Temongmere

Menghadapi masalah Hak Asasi Manusia di Tanah Papua merupakan realita hidup. Menghadapi dan berbicara tentang masalah HAM adalah tugas sekaligus pilihan di antara diam atau bertindak dalam menghadapi realitas HAM di Tanah Papua.

Mereka yang diam adalah mereka yang tidak peduli dengan realita atau persoalan-persoalan yang ada di Tanah Papua. Sementara mereka yang bertindak adalah mereka yang peduli dengan persoalan-persoalan yang ada di Tanah Papua.

Tapi pertanyaannya adalah siapa yang diam atau siapa yang bertindak? Apa maksudnya yang diam atau yang bertindak dalam menghadapi persoalan-persoalan HAM di Tanah Papua? Kalau demikian, sampai kapankah persoalan-persoalan HAM di tanah Papua ini akan berakhir?

Kita yang diam ketika menghadapi persoalan-persoalan HAM di Tanah Papua mempunyai beberapa alasan yang membisukan diri kita. Pertama, kita diam karena kita ingin mencari kenyamanan atau zona nyaman untuk diri kita sendiri atau karena takut “sebagai pribadi yang tidak berguna bagi sesama di dunia ini”;

Loading...
;

Kedua, kita diam karena masalah HAM itu terjadi pada mereka yang bukan orang kita, bukan suku kita, bukan agama kita, bukan ras kita dan bukan juga komunitas lainnya yang menjadi alasan; dan yang ketiga, kita diam karena kita pro dengan mereka yang membuat persoalan-persoalan HAM di Tanah Papua.

Itu pun bisa terjadi karena kita memiliki kepentingan politik yang lebih sehingga selalu  mengorbankan sesama kita manusia dalam penindasan dan kematian.

Ada beberapa alasan lainya juga yang menjadi pendorong bagi setiap kita untuk bertindak atau pun berdiam menghadapi realita. Tanpa diperintah semua instrumen pancaindera kita merekam sejumlah kejadian dan suara hati nurani pun menuntut kita untuk menanggapinya. Itulah yang menjadi dilema pribadi antara bertintak membelah kebenaran atau diam.

Beberapa alasan yang kita hadapi dan mengorbankan diri kita adalah. Pertama,  kita bertindak karena kita ingin menciptakan suasana damai di Tanah Papua. Hal kedua, kita bertindak karena kita melihat korban masalah HAM adalah suku kita, agama kita, ras kita, dan komunitas kita lainnya; ketiga kita bertindak karena kita memiliki kepentingan politik di atas Tanah Papua ini; dan keempat, kita juga bertindak  karena memiliki rasa kemanusian terhadap sesama kita yang mengalami korban persoalan HAM di Tanah Papua.

Ada juga alasan lain dalam tindakan kita untuk menanggapi persoalan HAM, namun beberapa alasan tersebut sering kita alami di lingkungan sekitar kita. Dari beberapa alasan tersebut memperlihatkan suatu pilihan, manakah yang kita pilih, “diam atau bertindak” untuk menghadapi persoalan HAM di tanah Papua?

Persoalan-persoalan HAM di Tanah Papua akan tetap bersinambung dari hari ke hari, waktu ke waktu, tahun-ketahun dan dari generasi-ke generasi sampai finishing.

Realitas yang kita sendiri alami, lihat, atau dengar secara konkret dan nyata dalam hidup kita di atas Tanah Papua ini.

Kita bisa menoleh ke belakang untuk melihat sejumlah peristiwa penting yang mengarungi badai perjuangan HAM di Tanah Papua semenjak keputusan manipulatif PEPERA 1969, bahkan jauh sebelum itu integrasi Papua di tangan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1961, Biak Berdarah 1998, Wamena Berdarah 2000, Wasior Berdarah 2001, Dogiyai Berdarah 2011, Abepura Berdarah, Paniai Berdarah, dan Nduga 2018 beserta sejumlah rentetan peristiwa lainnya yang tak terhitung jumlahnya sedang mengancam eksistensi, ras, budaya, manusia, dan alam Papua.

Inilah kemungkinan-kemungkinan besar yang menjadi mungkin karena tidak pasti. Kematian sedang terjadi, perjuangan pun sedang kencang, kedamaian di Tanah Papua dan untuk orang Papua pun menjadi kemungkinan. Karena itu, mari kitong semua membuka mata, hati dan pikiran untuk melihat realita. Realitas bicara apa, bertindak apa dan bagaimana dan apa tanggapan kita terhadap realitas ini? Apa tindakan pemerintah, apa tanggapan gereja terhadap jeritan penderitaan dan pemusnahan ini?

Realitas berbicara mau berjalan-jalan dan bersuara di jalan-jalan besar sudah tidak ada karena selalu siap siaga, mau datang berlindung di bawah naungan gereja pun tidak ada karena gereja di dalamnya menjalankan misi negara bukan misi kerajaan Allah, tuntutan untuk bertindak adil menjadi bayaran.

Itulah realitas antara “bicara atau diam” tentang situasi Hak Asasi Manusia di Tanah Papua ini. Surga yang terlantar, Tanah Kosong, dan tanah yang diberkati darah dan hamparan hutan yang disirami tangisan air mata anak anak negeri Papua.

Waktu akan menunjukkan finishing antara “kepunahan ras Melanesia di Tanah Papua dan orang Papua memperoleh kemerdekaan sejati”. Inilah finishing perjuangan Papua. Jika kedua hal ini belum dicapai, maka otomatisasi penindasan, pelanggaran, dan genosida akan terus terjadi sepanjang generasi Papua masih berlanjut. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Timo Marten

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top