Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Diangkat jadi anak adat, Heribertus Silubun dikecam

Pertemuan keluarga Silubun bersama sejumlah masyarakat Marind – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Lebih baik maju calon bupati dengan identitas diri yang ada. Tak menggunakan cara-cara seperti demikian. Ketika akan dikukuhkan juga, kulit maupun rambut Heribertus tidak berubah menjadi hitam dan keriting,” katanya.

HERIBERTUS Silubun, salah satu Calon Bupati Merauke yang siap bertarung dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun 2020, telah mendapat restu dan akan diangkat menjadi anak adat sekaligus mendapatkan marga Kaize.

Prosesi penyerahan Heribertus dari keluarganya kepada marga Kaize, sedianya  dilangsungkan tanggal 28 November 2019 di Kampung Wapeko. Untuk menuju ke acara ritual adat, telah dilakukan pertemuan di kediaman Heribertus yang dihadiri keluarga intinya serta puluhan masyarakat Marind.

Rupanya rencana pengangkatan Heribertus Silubun menjadi seorang anak adat, mendapat reaksi atau penolakan. Karena dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap adat Marind  yang selama ini telah dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Loading...
;
Intekektual Marind, Harry Ndiken – Jubi/Frans L Kobun

Intelektual Marind, Harry Ndiken, yang dimintai komentarnya menegaskan pengukuhan Heribertus Silubun menjadi anak adat tidak sah. Apalagi yang mengukuhkan adalah orang yang mengatasnamakan pemimpin empat golongan adat.

“Itu ngacau. Sejak kapan Vincentius Dadom Kaize diangkat menjadi pemimpin empat golongan adat Marind. Kira-kira di mana dan kapan dia diangkat,” tantang Harry.

Bagi dia, pengangkatan Heribertus sebagai anak adat adalah bentuk pelecehan terhadap orang Marind.

“Kalau ingin mencalonkan diri sebagai Bupati Merauke, tidak perlu menggunakan cara-cara tidak perpuji seperti demikian. Jadilah seperti diri sendiri. Kalau Silubun, tetaplah Silubun. Tidak perlu mencari sensasi untuk diangkat jadi anak adat. Itu guyonan politik murahan dan tidak bermartabat,” tegasnya.

Harry menilai langkah yang dilakukan Heribertus Silubun adalah bentuk pembodohan terhadap orang Marind. Sangatlah tidak elok dilakukan dan secara tidak langsung adat telah dilecehkan.

“Lebih baik maju calon bupati dengan identitas diri yang ada. Tak menggunakan cara-cara seperti demikian. Ketika akan dikukuhkan juga, kulit maupun rambut Heribertus tidak berubah menjadi hitam dan keriting,” katanya.

Dengan cara demikian yang dilakukan Heribertus, akan berdampak dan membias kepada orang Marind. Di mana sudah pasti terjadi perpecahan maupun pengkotak-kotakan.

“Sekali lagi saya ingatkan, kalau mau maju menjadi bupati, tak perlu memakai embel-embel orang Marind. Ketika dalam pilkada dan bersangkutan menang, belum tentu akan memberikan perhatian kepada orang Marind di kampung-kampung,” ungkapnya.

Ketua Umum empat golongan adat Marind-Anim, Vincentius Dadom Kaize – Jubi/Frans L Kobun

Ketua Umum empat golongan adat Marind-Anim, Vincentius Dadom Kaize, mengatakan pihaknya menerima dengan tulus Heribertus Silubun masuk marga Kaize.

“Saya akan memberikan namanya dengan Tafakem, sesuai marga,” ujarnya.

Khusus proses adatnya, akan dilangsungkan di Kampung Wapeko. Bagi masyarakat, Heribertus adalah pribadi yang benar-benar memiliki kepedulian terhadap orang Marind di kampung-kampung.

Selama beliau menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke, ia selalu memberikan perhatian dan membantu masyarakat kecil.

Orangtua dari Heribertus Silubun, Dolfina Silubun, mengaku bersama suaminya (almarhum), telah mendidik dan membesarkan anak-anaknya menjadi orang berguna bagi gereja maupun bangsa.

Olehnya, ketika ada permintaan keluarga Kaize agar anak mereka masuk dalam marga itu, keluarga menyetujui dan mengikhlaskan.

“Saya juga bukan baru di sini. Orangtua dari tahun 1920-an mengabdikan diri di Kabupaten Merauke. Lalu saya lahir di Kampung Salor sekitar tahun 1950 silam,” ujarnya.

Heribertus Silubun yang dimintai komentarnya mengatakan keinginannya mencalonkan diri menjadi Bupati Merauke sesungguhnya menunjukkan bahwa orang Kei masih ada di sini dan  meneruskan pengabdian orangtua.

Caranya adalah dengan memastikan masyarakat di kampung yang selama ini kurang mendapat perhatian, akan dilayani sungguh-sungguh. Di mana kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan mereka diurus baik. Sehingga bisa menikmati pembangunan seperti saudara-saudara lain di kota.

“Saya menyadari diri sebagai orang Kei yang mendiami tanah ini dan diangkat secara adat oleh Bapak Vincent, berkewajiban untuk memastikan ketika akan menjadi bupati, siap bekerja melayani masyarakat di kampung-kampung dengan tulus,” katanya. (*)

Editor: Yuliana Lantipo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top